23 May 2018
Edukasi

Permasalahan Pendidikan Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Foto : Sudarnoto Abdul Hakim

Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah melalui kemanterian
Pendidikan, gencar mengkampanyekan Pendidikan karakter. Yaitu
Pendidikan yang berfokus pada pembangunan karakter pesartadidik
melalui harmonisasi olah hati,olah rasa dan olah pikir, dan olah raga,
dengan dukungan, pelubatan publikdan kerja sama antar sekolah keluarga
dan masyaarakat.

Dalam buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa
2010-2025 di paparkan tujuan, fungsi dan media pendidikan karakter.
Pendidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh,
kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong,
berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan
dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan
yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Sedangkan Fungsi pendidikan karakter adalah (1) mengembangkan potensi
dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2)
memperkuat  dan membangun perilaku bangsa yang multikultur;  (3)
meningkatkan peradaban bangsa yang kompe-titif dalam pergaulan dunia.

Namun dalam aplikasinya, dirasa masih jauh panggang daripada api.
Beberapa kasus yang ada justru menunjukan seperti kurangnya kesadaran
akan pentingnya Pendidikan karakter ini. Contoh kasus bullying antar
sesama peserta didik yang marak terjadi di beberapa sekolah, dan yang
terparah, kasus terakhir di Madura seorang siswa SMP melakukan tindak
kekerasan kepada  guruna hingga sang guru meninggal dunia. Hal ini
menunjukan belum berdampak signifikan wacana Pendidikan karakter yang
di gaungkan pemerintah.

Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Sudarnoto Abdul Hakim,
menunjukan keprihatinannya terhadap kasus-kasus yang akhir-akhir ini
telah menciderai wajah pendidikan di Indonesia.

“Saya pribadi ya sangat prihatin terhadap begitu banyaknya kasus-kasus
yang memang memperihatinkan dan menciderai perjalanan masyarakat kita
terutama yang kaitannya dengan Pendidikan.” Ujarnya kepada
monitorday.com, Sabtu (10/02).

Hal ini bagi Sudarnoto, memberikan gambaran bahwa soal pendidikan
menjadi amat sangat penting. Pertama, sebagai wadah untuk
mengembangkan peradaban ilmu pengetahuan, kebudayaan. serta yang utama
dalah pembangunan kaarakter, pembangunan kepribadian yang kokoh.

“Jadi filsafat Pendidikan kita ini memang harus mengandung unsur-usur
tadi, yaitu kesadaran, terhadap nilai-nilai luhur yang dapat diambil
dari nilai-nilai agama, sekaligus yang diarahkan dalam upaya kita
untuk membangun kemaslahatan, membangun kehidupan.” Sambungnya.

Disamping itu mungkin tampaknya Pendidikan kita saat ini mulai
mengalami disorientasi. Cara pandang masyarakat dan mungkin system
Pendidikan kita yang mengarah pada pragmatisme, dan melupakan
aspek-aspek yang sesungguhnya sangat penting, yaitu kepribadian itu
sendiri. “ dan Ini proses Panjang.” Tukasnya.

Menurut Sudarnoto, ada peroalan-persoalan yang kompleks, atau ada
faktor-faktor lain di luar Pendidikan itu sendiri yang membuat
masyarakat saat ini menjadi masyarakat yang berfikirnya sangat pendek.
Belum lagi adanya informasi melalui media sosial yang membuat
keteladanan diberbaagai ranah, danlingkungan, mulai melemah.

“berbagai kasus, seperti korupsi, tindakan kekerasan, kemudian
informasi yang secara liberal bisa diakses, belum lagi  tekanan-tekan
ekonomi, dan sebagainya ini yang membuat soal kepribadian menjadi
tidak diperhatikan. Kasus kasus yang tadi itu misalnya murid membunuh
gurunya, atau kasus-kasus yang lain, tindakan-tindakan bully, antar
sesama murid, pelecehan seksual, rasa hormat kepada guru, kepada orang
tua, yang hilang, ini memang betul-betul memprihatinkan.” terangnya.

Jadi, menurut Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah ini,
harusnya  persoalan yang serius ini bisa menyadarkan kita, termasuk
pengelola Pendidikan, termasuk orang tua, harus bermawas diri, harus
membangun komitmen Bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap
kepribadian dan akhlak ini.

Ini menjadi tugas siapa?

Sudarnoto menyatakan bahwa Pemerintah sebagai pengambi kebijakan,
pemangku kebijakan Pendidikan, bisa saja menjadi PR-nya pemerintah,
melalui kementerian Pendidikan. tapi jangan lupa, soal pendidikan
bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah, tapi juga tanggung jawab
banyak orang.

“Pengelola Pendidikan, orang tua, jadi tidak bisa orang tua mentang
mentang sudah bayar, lalu menerahkan sepenuhnya kepada guru, tidak
memberikan kepedulian. Itu tidak bisa juga.” Sambungnya.

Di zaman yang sangat liberal ini, bagi Sudarnoto, nilai-nilai
keutamaan keluhuran itu tidak menjadi perhatian, jadi anak-anak saat
ini terkena penyakit dekadensi.

 “Jadi memaang ini tugas pemerintah juga tugas masyarakat juga. Harus
Bersama-sama. Gak bisa saya sendirian itu tidak bisa, orang tua
sendiri, tidak bisa, sekolah sendiri tidak bisa, pemerintah sendiri
tidak bisa. Harus Bersama-sama.” tambahnya.

MUI juga meyakinkan, satu tugas MUI itu kan membentengi, mengingatkan,
supaya bangsa ini lari kemana-mana tidak jelas, termasuk sektor
pendidikan ini. Kita sendiri beberpa kali menyampaikan, semacam
statmen kepada pemerintah, kepada masyarakat,terkait soal Pendidikan
karakter ini. Di samping itu, Muhammadiyaah sebagai organisasi besar
yang sudah sangat berpengalaman mengembangakan Pendidikan dari tingkat
kanak-kanak sampai perguruan tinggi, sudah baik.

Kemudian Sudarnoto berharap agar meskipun telah banyak kasus yang
telah menciderai wajah Pendidikan Indonesia, tetapi semoga usaha-usaha
yang dilakukan, baik oleh pemerintah maupun semua elemen, belum
berlambat.

“mudah-mudahan ini tidak terlambat yah, meskipun ini sudah banyak
kasus, harus ada penanganan secara serius, dan saya kira, kebiijakan
terakhir kemendikbud soal Pendidikan karakter itu, itu sudah benar,
sudah sangat benar, tinggal nanti, masing-masing stick holeders,
sekolah, masyarakat, mulai harus, bebenah diri memberikan perhatian.”
Tutupnya.

Related Posts