23 June 2018
Sosok

Rohana Kudus, Sang Perintis Pers Indonesia

"Rohana_Kudus"

MONITORDAY.COM – Sosok Rohana Kudus mungkin tak sepopuler Rosihan Anwar, Adinegoro, Ani Idrus, ataupun Mochtar Lubis. Namun di luar sana, nama Rohana Kudus begitu harum mewangi.

Lahir dalam kondisi masyarakat yang serba paradoks, itulah Rohana Kudus. Ini lantaram ketika lahir, masyarakat Minang amat kuat budaya matrilinealnya, perempuan mendapat tempat utama. Hirarki kekerabatan juga diukur dari garis ibu.

Tujuan sistem ini sebetulnya mulia, untuk melindungi harkat dan martabat perempuan. Namun, karena sistem inilah perempuan memiliki peluang lebih sedikit untuk merasakan kemajuan dibanding kaum laki-laki.

Dalam budaya Minangkabau, perempuanlah pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaumnya. Namun, laki-laki dalam oposisi-biner perannya adalah sebagai pelindung dan pemelihara harta untuk perempuan-nya dan anak turunannya.

Rohana tumbuh dan berkembang dalam kondisi masyarakat yang tak bisa membaca sama sekali. Hanya anak-anak dari kalangan berada dan penguasa saja yang bisa menikmati pendidikan. “Tahun 1892, di saat hampir 99% di Tanah Melaju masih buta huruf. Rohana Koeddoes sudah menjadi guru ketjil di usianya 8 tahun, dan memperjuangkan pendidikan perempuan tanpa berkaok-kaok di mimbar dan lebih banyak berbuat daripada hanya bitjara!”, tulis Surat Kabar Pedoman Wanita, April 1959.

Rohana adalah perempuan dengan komitmen yang kuat pada pendidikan. Pada zamannya Rohana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan.

Meski Rohana tidak pernah bersekolah formal, namun ia rajin belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan dari kantor. Keinginan dan semangat belajarnya yang tinggi membuat Rohana cepat menguasai materi yang diajarkan ayahnya. Di umurnya yang masih belia, Rohana sudah bisa menulis dan membaca, bahkan berbicara bahasa Belanda. Selain itu ia juga belajar abjad Arab, Latin dan Arab-Melayu.

Bisa dibilang, Rohana merupakan jurnalis perempuan pertama Indoesia. Melihat tidak adanya media khusus perempuan di Ranah Minang, Rohana pun mengirim surat permohonan kepada Pemimpin Redaksi Oetoesan Melajoe, Datuk Sutan Maharadja. Rohana meminta Sutan agar bersedia mendanai pendirian koran perempuan di Minangkabau. Sutan Maharadja yang berpikiran maju terkesan dengan surat Rohana, dan setuju dengan idenya.

‘Soenting Melajoe’ begitu surat kabar itu diberi nama. ‘Soenting’ sendiri artinya perempuan, smeentara ‘Melajoe’ artinya tanah Melayu. Rohana langsung didaulat jadi pimpinan redaksinya, dibantu Ratna Djuwita, anak dari Datuk Sutan Maharadja. ‘Soenting Melajoe’ banyak menyoroti kehidupan perempuan. Terutama soal praktik poligami, yang dianggapnya merugikan perempuan dan keluarga.

Dua tahun setelah kepergiannya (17 Agustus, 1972), Rohana sempat mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah Sumatra Barat sebagai jurnalis pertama. Sementara pada 1987, Dewan Persatuan Wartawan Indonesia memberinya gelar penghargaan perintis pers.

Begitulah sosok Rohana Kudus, Sang Perintis Pers Indonesia, yang tak pernah lelah menjadi penggerak emansipasi wanita.

 

[Faisal Ma’arif]

Related Posts