Abdullah Bin Ummi Maktum, Sahabat Difabel Yang Dibela Al Qur'an

Abdullah Bin Ummi Maktum, Sahabat Difabel Yang Dibela Al Qur'an
Image by mohamed Hassan from Pixabay

MONITORDAY.COM - ŔźAbdullah bin Ummi Maktum merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang tuna netra. Beliau juga dari golongan kaum lemah secara ekonomi. Pada masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW, mayoritas pengikut beliau adalah dari kaum lemah dan tertindas. Salah satunya adalah Abdullah bin Ummi Maktum. 

Dengan keterbatasan yang dimiliki, Abdullah mempunyai semangat yang tinggi untuk mempelajari Islam. Dia giat menghafalkan Al Qur'an. Dia juga senang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai persoalan-persoalan keagamaan. Dia masuk Islam sejak muda. Dengan kondisinya yang tuna netra, dia merasakan kenikmatan tersendiri, karena tidak bisa melihat hal yang diharamkan. 

Suatu hari Rasulullah SAW bertemu dengan para pembesar Quraisy seperti Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Mughirah. Rasulullah menjalankan misi diplomasi kepada mereka agar bisa diajak masuk Islam. Jika para pembesar Quraisy bersedia masuk Islam, maka pengikutnya pun akan berbondong-bondong mengikuti. 

Di saat Rasulullah SAW menghadapi para pembesar, Abdullah bin Ummi Maktum datang menemui Nabi, Sekilas terlihat raut tidak nyaman dari muka Nabi Muhammad SAW atas kedatangan Abdullah. Terkait sikap Rasulullah SAW tersebut, turunlah surat 'Abasa yang berisi teguran Allah SWT kepada Rasulullah SAW. 

Allah SWT menegur Nabi Muhammad SAW karena bermuka masam saat didatangi oleh Abdullah bin Ummi Maktum dan lebih mementingkan para pembesar Quraisy. Nabi Muhammad SAW segera menyadari kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah SWT. Kesalahan yang dibuat manusiawi dan tidak disengaja, tidak menurunkan derajat kenabian beliau. 

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa sejak awal Al Qur'an tidak pernah membeda-bedakan manusia berdasarkan kondisi fisiknya. Bahkan Al Qur'an cenderung berpihak kepada yang lemah seperti Abdullah bin Ummi Maktum. Sayangnya kesadaran umat Islam saat ini terkait pemberian akses kepada kaum difabel belum sepenuhnya terlihat. Misalnya dalam pembangunan masjid yang masih belum ramah difabel. Kondisi ini menjadi PR umat Islam ke depan.