Benarkah "Kidz Jaman Now" Mudah Melakukan Kekerasan? Ini Kata Psikolog

Saat ini anak cenderung mudah terbangkitkan emosi atau amarahnya

Benarkah
Pelaku penembakan massal di SMA Majory Stoneman Douglas Florida, Nikolas Cruz. (AFP)strasi foto

MONITORDAY.COM - Belum lama ini, dunia pendidikan Indonesia kembali berduka setelah seorang guru SMA di Sampang, Madura, tewas dianiaya muridnya sendiri. Hanya karena tidak terima ditegur lantaran tidak mengerjakan tugas melukis dari sang guru, pelaku menghujamkan pukulan yang merenggut nyawa guru tersebut.

Yang terbaru, dunia kembali terhenyak dengan insiden penembakan massal yang menewaskan 17 orang pada sebuah SMA di Florida, Amerika Serikat. Pelaku diketahui sebagai mantan siswa yang telah dikeluarkan.

Dalam melakukan kekerasan, seseorang bisa didasari dengan beberapa hal. Khususnya di era kemajuan teknologi saat ini, dimana banyak orang-orang, termasuk kalangan remaja makin mudah mengakses berbagai informasi dan "terilhami" dari peristiwa yang ada.

Psikolog asal UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Agus Abdul Rahman menuturkan pertama, saat ini anak cenderung mudah terbangkitkan emosi atau amarahnya. Hal ini terjadi selain karena faktor biologis, juga karena frustrasi yang tidak terselesaikan.

"Dewasa ini, potensi frustasi atau kesenjangan antara keinginan dan kenyataan memang sangat besar," katanya pada MONITORDAY.COM, Jumat (16/2/2018).

Kedua, ia menjelaskan anak tidak mampu mengelola emosinya dengan baik. Selain karena memang frustasi yang sudah sangat "dahsyat" juga karena kemampuan menanggulangi stres (coping stress) yang kurang memadai.

Ketiga, Agus menerangkan perilaku apa yang dipilih dalam menumpahkan amarah, ternyata dipengaruhi oleh wawasan pelaku. Hal ini berkaitan dengan kemudahan akses berkat kemajuan teknologi.

"Dewasa ini, inspirasi mengenai cara menumpahkan amarah memang sangat luar biasa. Bisa dari games, film, berita kriminal dan lain-lain," pungkasnya.

 

[Yusuf TIrtayasa]