Berita Gembira, Nadiem Akhirnya Pastikan Semua Sekolah Dapat BOS Tanpa Syarat Minimal

Berita Gembira, Nadiem Akhirnya Pastikan Semua Sekolah Dapat BOS Tanpa Syarat Minimal
Mendikbudristek Nadiem Makarim saat Raker dengan Komisi X, Rabu (8/9/2021). Antara.

MONITORDAY.COM - Mendikbud-Ristek Nadiem Anwar Makarim akhirnya menghapus kebijakan penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS) dengan syarat minimal 60 siswa. Kini, semua sekolah dipastikan memperoleh BOS tanpa harus ada syarat tersebut.

Penghapusan syarat minimal 60 siswa tersebut merupakan usulan dari Komsi X di rapat sebelumnya. Komisi X meminta Nadiem meninjau kembali juknis BOS Reguler yang mengatur persyaratan jumlah peserta didik minimal 60 siswa.

Mendikbudristek Nadiem menuturkan, pihaknya sedang melakukan kajian khusus terkait aturan itu. Mantan Bos Gojek ini menyebut jika aturan soal BOS yang sempat kontroversial tersebut sebetulnya sudah ada sebelum dirinya menjabat.

"Ini adalah peraturan yang sedang kami kaji, ini peraturan yang sudah diimplementasikan sebelum era saya di sini, tapi kita telah mengkaji lagi dan saya apresiasi banyaknya masukan dari Komisi X dan masyarakat mengenai berbagai macam kekhawatiran dan kecemasan mengenai implementasi daripada program ini," tutur Nadiem saat Rapat Kerja dengan Komisi X, Rabu (8/9/2021).

"Jadi ini udah dari tahun 2019 tapi belum diberlakukan pada tahun 2021. Jadi tahun ini tidak diberlakukan karena belum masuk 3 tahun," terang Nadiem.

Lantas, setelah dievaluasi, Nadiem pun memutuskan kemendikbudristek tidak akan memberlakukan persyaratan tersebut. Suami dari Franka Franklin ini memberi jaminan jika semua sekolah akan mendapat dana BOS tanpa ada syarat minimal.

"Setelah kami mengevaluasi ini dan mengingat pandemi masih punya dampak besar, jadi kami telah memutuskan di Kemdikbudristek untuk tidak memberlakukan persyaratan ini tahun 2022. Semoga ini bisa menenangkan masyarakat," ucapnya.

Mas Nadiem juga mengatakan, perlu ada kebijkan yang lebih fleksibel di tengah situasi yang tak menenti gegara pandemi Covid-19. Karena, kata dia, masih banyak sekolah yang kesulitan dalam melakukan masa transisi.

"Dan menurut saya, ini suatu situasi agak ekstrem dan kita harus punya fleksibilitas dan kita punya tanggang rasa kepada sekolah yang masih kesulitan melakukan transisi untuk jadi sekolah skala minimum lebih besar. Jadi itulah yang kami lakukan pada saat ini," tandasnya.