Dampak Elektoral Pertumbuhan Industri Digital

Berbagai capaian industri digital yang dapat dirasakan secara empirik dan disokong oleh data statistik, amat menarik untuk kita telaah lebih lanjut dalam konteks Pilpres dan Pileg yang digelar tahun 2019.

Dampak Elektoral Pertumbuhan Industri Digital
Ilustrasi foto


MonitorDay.Com - Kuatnya pesona industri digital telah menjadi trend global saat ini. Bekerja di industri digital jadi impian generasi milenial. Berbagai penelitian ilmiah telah mengonfirmasi hal tersebut.

Di Indonesia, industri digital tumbuh impresif. Paling kinclong di antara semua sektor industri. Bahkan dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasional. Raihan ini, kata pengamat ekonomi digital, Jusmane Dalle, tak lain lantaran respon cepat dari Pemerintah dalam merespons gemuruh pergerseran lanskap ekonomi ke arah digitalisasi.

Menurutnya, ini terlihat dari kebijakan dan program-program promotif pemerintah untuk menghela industri digital.

“Bulan Agustus tahun 2017, pemerintah merilis Peraturan Presiden tentang Road Map Ecommerce Indonesia tahun 2017-2019. Pemerintah juga proaktif menjaring investor global yang diarahkan ke sektor industri digital. Mulai dari memboyong para pendiri startup untuk muhibah ke Silicon Valley, hingga proses perizinan yang dibuat ringkas,” tuturnya.

Jusmane Dalle lebih lanjut menuturlan, bahwa berbagai capaian industri digital yang dapat dirasakan secara empirik dan disokong oleh data statistik, amat menarik untuk kita telaah lebih lanjut dalam konteks Pilpres dan Pileg yang digelar tahun 2019.

“Mengidentifikasi milenial sebagai aktor utama industri digital merupakan pintu masuk untuk mengintroduksi preferensi politik segmen pemilih jumbo ini. Terlebih, milenial kini jadi rebutan di pentas kontestasi politik nasional,” kata Jusmane.

 Menurut survei Saiful Mujani Research Center (SRMC) tahun 2017 silam, pasangan Joko Widodo-Maruf Amin masih unggul di kelompok pemilih usia muda. Senada, survei LSI Denny JA yang digelar pada Agustus 2018 juga menangkap hasil serupa. Sebanyak 50,8 persen responsen pemilih muda usia 17-39 tahun melabuhkan pilihan ke Jokowi-Ma’ruf, sedangkan Prabowo-Sandi meraup 31,8 persen.

Di tingkatan partai politik, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi parpol paling populer di kalangan milenial. PDIP bahkan mengalahkan popularitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI), meski partai baru ini paling getol membangun citra sebagai partainya anak muda.

Menurut Direktur Tali Foundation ini, kuatnya dukungan milenial ke PDIP tak lepas dari cottail effect yang diperoleh dari sosok Presiden Jokowi. Karena kata Jusmane, walau bagaimanapun juga, Jokowi tetap identik dengan PDIP. “Di luar Jokowi effect, belakangan ini PDIP memang mulai aktif mendekati milenial dengan mengkomunikasikan caleg-caleg muda dari kalangan selebritas dan pesohor,” tuturnya.