Di Tengah Pandemi Covid-19, Pasar Otomotif Indonesia Berjalan Dinamis

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi sampai akhir tahun 2020 penjualan mobil secara nasional mencapai 600.000 unit atau anjlok sekitar 40 persen dibandingkan tahun lalu.

Di Tengah Pandemi Covid-19, Pasar Otomotif Indonesia Berjalan Dinamis
Ilustrasi foto pasar otomotif Indonesia/(net)


MONITORDAY.COM - Wakil Presdir PT Toyota Astra Motor (TAM) Henry Tanoto mengatakan pasar otomotif di Indonesia sangat dinamis di tengah pandemi COVID-19 saat ini, sehingga sulit diprediksi.

"Industri otomotif itu sangat tergantung erat dengan perekonomian, terutama saat ini terkait pemulihan ekonomi," kata Henry dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu (17/6).

Sejak Indonesia terpapar wabah virus corona pada pertengahan Maret 2020, lanjut dia, pasar otomotif mengalami penurunan drastis.

Henry yang juga menjadi salah satu direksi PT Astra Internasional Tbk mencontohkan pada bulan Mei 2020 penjualan mobil Grup Astra hanya mencapai sekitar 17.000 unit, padahal pada Mei 2019 mencapai sekitar 97.000 unit.

"Memang pada 10 hari pertama Juni ini pasar dan industri otomotif membaik, ada pertumbuhan permintaan karena ada pelonggaran PSBB," katanya.

Namun, ia mengaku tetap sulit memprediksi pasar otomotif sampai akhir tahun, dan menetapkan target penjualan Toyota di Indonesia.

"Tapi kami berharap dengan 'effort' yang dilakukan pangsa pasar Toyota tahun ini sekitar 33 persen, lebih baik dari tahun lalu yang mencapai 31,9 persen," kata Henry.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi sampai akhir tahun 2020 penjualan mobil secara nasional mencapai 600.000 unit atau anjlok sekitar 40 persen dibandingkan tahun lalu.

"Kami berharap ada stimulus dari sisi permintaan, terutama terkait kemudahan kepemilikan kendaraan. Kalau ada dukungan ini, maka pemulihan industri otomotif bisa lebih cepat," ujar Henry yang memprediksi industri otomotif bisa pulih seperti 2019 dalam 1,5 tahun atau 2022.

Direktur Pemasaran TAM Anton Jimmi Suwandy menambahkan penurunan permintaan mobil pada masa COVID-19 terjadi karena pergerakan orang dibatasi dengan PSBB dan kemudian lembaga pembiayaan (leasing) juga semakin pilih-pilih atau hati-hati memilih pelanggan untuk diberi kredit pembiayaan.

"Jadi bukan 'real demand' yang berkurang, tetapi pergerakan orang," kata Anton.