Fadli Zon, Mikir Nggak Menhannya Siapa!

Fadli Zon diminta introspeksi diri mengingat posisi Menhan saat ini dijabat oleh Bosnya sendiri.

Fadli Zon, Mikir Nggak Menhannya Siapa!
Politisi Gerindra Fadli Zon dan Politisi NasDem Irma Suryani Chaniago / Istimewa


MONITORDAY.COM - Politisi NasDem, Irma Suryani Chaniago menilai pernyataan Anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon agar Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman dicopot karena bicara ‘bubarkan FPI’ yang dianggapnya sudah melanggar tugas pokok-fungsi (tupoksi) TNI. 

Buntut dari ujaran Fadli pun menuai ragam tanggapan, mantan wakil ketua DPR itu pun diminta introspeksi diri dan melihat posisi Menhan saat ini di jabat oleh siapa?

“Seorang wakil rakyat seharusnya berpihak kepada rakyat, apa pun yang membahayakan keselamatan rakyat dari penyebaran COVID-19 harus dicegah, bukan malah membela pejabat pelanggar protokol COVID dan menyalahkan TNI! Mikir nggak sih Menteri Pertahanannya siapa,” kata politikus NasDem nonaktif, Irma Suryani Chaniago, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (21/11/2020).

Fadli Zon dihimbau mengkritisi pemda DKI, yang bertanggung jawab atas kerumunan yang terjadi. Dia pun menilai Fadli tidak cermat dalam mengeluarkan statement.

“Harusnya Fadli mengkritisi pemda DKI, yang melakukan pembiaran pelanggaran protokol COVID berjemaah dan meminta pertanggungjawaban moral Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, bukan malah membela nggak keruan dengan menyebut UU yang salah terkait posisi gubernur yang dia sebut membawahi kapolda dan pangdam,” ujarnya.

Tindakan Fadli ini tidak cermat membuat statement berdasarkan UU yang sudah direvisi. Undang-Undang Pemerintahan Daerah yang berlaku saat ini bukanlah UU No 32 Tahun 2004 seperti yang dikatakan oleh Fadli Zon, melainkan UU No 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat, bukanlah PP No 19/2010, melainkan PP No 33/2018. 

Sejauh ini, NasDem mendukung penuh apa yang dilakukan aparat negara. Menurutnya, sudah waktunya aparat bersikap tegas terhadap siapa pun yang melanggar dan merusak persatuan.

 “Terkait penurunan baliho-baliho FPI yang dilakukan aparat negara, sebagai politikus Nasdem nonaktif dan sebagai rakyat, saya dan saya pastikan Partai NasDem mendukung penuh langkah TNI dan Polri. Sudah waktunya negara mengambil tindakan atas politisasi umat dan agama oleh FPI,” katanya.

Dia juga menyinggung reuni 212 yang tak perlu digelar. Aplagi agenda itu bersifat politis yang bukan merupakan fungsi dari ormas.

“Demikian pula dengan reuni 212, saya kira sudah tidak perlu lagi diberi izin, karena agendanya sangat politis. 212 bukan ormas. Mobilisasi massa atas nama agama dan umat harus jelas tujuannya. Jangan gunakan agama dan umat untuk kepentingan politik. Pelaksanaan acara hari besar keagamaan seharusnya difungsikan untuk ceramah keagamaan yang menambah keimanan, bukan mengumbar angkara murka kepada pemerintah dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Irma kembali menyoroti politisi dan partai partai politik yang main dua kaki, berhentilah bermain-main dengan politik identitas untuk kepentingan 2024. 

"Jangan gadaikan keutuhan NKRI hanya demi hasrat berkuasa,” lanjut Irma.