Haedar Nashir: Muhammadiyah Akan Tetap Ada Meski Tanpa Diistimewakan

.

Haedar Nashir: Muhammadiyah Akan Tetap Ada Meski Tanpa Diistimewakan
ilustrasi foto


MONITORDAY.COM - Terkait pernyataan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang menuai kontroversi,  Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berpendapat bila pernyataan tersebut sejatinya tidak bermaksud mengistimewakan Muhammadiyah dan NU. Ataupun menenggelamkan peran organisasi kemasyarakatan lainnya.

“Apalagi dimaksudkan sebagai kebijakan ‘belah-bambu’ untuk melemahkan posisi ummat Islam dalam konstelasi sosial-kemasyarakatan. Untuk itu Kapolri diharapkan segera memberikan klarifikasi agar seluruh polemik yang berkembang terkait pernyataan tersebut,” ujar Haedar.

Keikhlasan menjadi salah satu inti gerakan Muhammadiyah. Hingga pimpinan dan warga persyarikatan ini selalu saling mengingatkan untuk tidak menyombongkan capaiannya, justru harus selalu mawas diri. Kepeloporan Muhammadiyah dalam berbagai lini bukan tidak mungkin telah diambil alih oleh gerakan lain, bila Muhammadiyah tidak berpacu dalam fastabiqul khairat.

Haedar Nashir lebih lanjut menegaskan prinsip tersebut masih dipegang teguh Muhammadiyah hingga kini. “Karakter Muhammadiyah yang tercermin dalam cara pandang dan sikap ikhlas berjuang menjadi sendi dan modal spiritual bagi persyarikatan ini untuk tetap eksis di belantara kepentingan yang tak jarang saling menafikan antar satu sama lain,” kata Haedar. 

Muhammadiyah, yang selama ini berupaya menggandeng tangan seluruh kekuatan bangsa, selalu mawas diri. Walaupun, Muhammadiyah dipandang banyak pihak memiliki peran yang cukup besar dalam memperkuat persatuan bangsa. Kiprah nyata di lapangan pendidikan dan kesehatan menjadi pilar dalam keberlangsungan amaliahnya. Pun inovasinya di lahan kemanusiaan serta pemberdayaan makin kokoh walau agak jauh dari hingar bingar pemberitaan.

“Bagi kami orang mau mengakui Muhammadiyah atau tidak, kami tetap jalan terus. Membanggakan diri atau minta diistimewakan, sama sekali bukan karakter Muhammadiyah,” tegas Haedar selepas menghadiri launching Kuliah Jarak Jauh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kamis (1/2).

Menurut Haedar, kasus ini hendaknya dijadikan pelajaran bagi semua pihak, terutama tokoh publik. Dalam hal ini Kapolri. “Mungkin kekurangan Kapolri membuat exception bahwa hanya ada dua. Saya pikir ini soal apa ya, kesemangatan, dan kadang juga hal-hal yang stressing dalam lisan dan ucapan,” ujar Haedar. [ ]