Haedar Nashir: Zakat Berperan Penting Bantu Atasi Dampak Pandemi Covid-19

Begitu diwajibkannya zakat dalam Islam sehingga disebutkan sebanyak puluhan kali dalam Al quran. Lebih jauh, zakat bahkan 'diambil' secara otoritatif dari orang yang mampu oleh orang yang membutuhkan.

Haedar Nashir: Zakat Berperan Penting Bantu Atasi Dampak Pandemi Covid-19
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir/(net)


MONITORDAY.COM - Ketua umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan, bahwa ada bagian penting dari ajaran agama Islam yang dapat dimaksimalkan untuk menghadapi dampak pandemi virus Corona jenis baru (Covid-19), yakni Pranata zakat. Menurutnya, zakat dalam Islam merupakan ajaran yang diwajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Hal tersebut merupakan yang dibutuhkan saat ini, mengingat pandemi Covid-19 berdampak kepada seluruh lapisan masyarakat. Uluran tangan dari orang yang berpunya saat ini menjadi hal penting untuk membantu mereka di masa sulit ini melalui zakat, ataupun Infaq dan shodaqoh berdasarkan ketentuannya.

"Dalam hal ini kita ingin mengetuk para agnia atau orang-orang kaya serta para Muzakki orang-orang yang berpotensi mengeluarkan zakat untuk bersama saat ini berbagi, sebagaimana hukum zakat ataupun infaq dan shodaqoh yang sangat berharga," ujar Haedar, dalam diskusi virtual tentang 'Zakat Digital: Solusi Alternatif Bantu Indonesia di Masa Pandemi', Jumat (15/5).

Haedar menjelaskan, begitu diwajibkannya zakat dalam Islam sehingga disebutkan sebanyak puluhan kali dalam Al quran. Lebih jauh, zakat bahkan 'diambil' secara otoritatif dari orang yang mampu oleh orang yang membutuhkan.

"Jadi ada proses otoritatif untuk mengambil zakat dari orang yang mampu. Bahkan di zaman Umar (bin Khatab) zakat diambil dengan pemaksaan begitu juga di zaman Abu Bakar. jadi ada peran negara mengambil seperti halnya pajak," ungkapnya.

Namun di masa pandemi ini, menurut Haedar, zakat seharusnya tidak hanya sekedar kewajiban, melainkan menjadi panggilan hati ketika melihat orang yang membutuhkan. Kaum muslim menghadirkan Tuhan di dalam jiwanya sehingga atas nama Tuhan bisa berbuat kebaikan itu seringan mungkin melampaui kewajiban.

Secara kongkritnya, kata Haedar, di Indonesia saat ini ada 1 persen penduduk yang menguasai sampai 55 persen kekayaan Indonesia. Artinya ini menjadi kesempatan bagi orang kaya yang satu persen tersebut untuk mengeluarkan zakat untuk membantu orang-orang yang berada di piramida ekonomi paling bawah yang jumlahnya sangat besar.

"Atau juga dengan berinfak dan sedekah, memberikan apa yang apa yang kita miliki kepada orang lain tanpa sekat tanpa dimensi keagamaan. Dan di masa seperti ini saya yakin zakat, infaq dan shodaqoh kita akan lebih besar pahalanya dan nilai menghadirkan altruisme kepada orang lain," sambungnya.

Meski begitu, Haedar menambahkan bahwa zakat di masa pandemi Covid-19 ini tidak bisa dilakukan secara langsung karena masyarakat diharuskan untuk membatasi aktivitas berkumpul. Karena itu Muhammadiyah melalui lazismu bekerjasama dengan platform pembayaran digital go-pay memberikan ruang bagi orang-orang yang mampu untuk membayar zakat secara digital.

Oleh karena itu Ia mengajak kepada seluruh kaum muslimin yang mampu untuk membayar zakat secara digital. Meskipun tidak bisa bertatap muka untuk silaturahmi secara langsung namun hal itu bisa dilakukan melalui media digital yang ada saat ini. "Karena pada dasarnya yang nyambung adalah hati, pikiran dan rasa, jadi Insya Allah tetap berpahala," tuturnya.

"Mari kita berzakat berinfak dan bersedekah sebagai jalan kita menuju surga dan juga menyambung tali kemanusiaan semesta tanpa sekat," lanjut Haedar.

"Apalah arti semua kekayaan jika tidak berbagi dan peduli. khairunnas anfa'uhum Linnas. sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Jadi Anas di sini untuk semua manusia, tidak membedakan orang beriman atau tidak beriman. inilah pentingnya berbagi dan peduli dengan zakat infaq dan shodaqoh," tandasnya.