Jejak Temuan dan Upaya Hadang Virus Corona (Bagian 1)

Sebelum obat dan vaksin ditemukan maka himbauan jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun menjadi andalan. Beberapa pembatasan wilayah dilakukan dengan istilah lockdown, karantina, dan pembatasan sosial berskala besar. Dari herbal, vaksin, obat, hingga disnfektasi dilakukan sebelum penangkal yang mujarab ditemukan.

Jejak Temuan dan Upaya Hadang Virus Corona (Bagian 1)


MONITORDAY.COM – Persebaran virus SARS nCov-2 belum juga mereda. Eropa terutama Italia, Spanyol, Perancis, Inggris, dan Belgia terlihat telah melewati puncak wabah. Amerika Serikat yang saat ini sangat terpukul dengan jumlah kasus terkonfirmasi tak kurang dari 800 ribu orang dan korban meninggal mencapai 45 ribu (22/4/2020).

Di seluruh dunia per tanggal 23 April 2020 angka kasus terkonfirmasi mencapai 2,6 juta orang dengan angka kematian di atas 180 ribu jiwa. Jumlah yang sangat banyak namun jauh dari angka kecukupan ‘skenario herd immunity’. Benua Eropa dan Amerika berada dalam dilema karena jumlah korban yang tinggi dan ketidakpastian kapan berakhirnya wabah. Sementara kebutuhan untuk menggerakkan roda ekonomi sudah sangat mendesak.

Vaksin dan obat memerlukan waktu yang relatif lama. Berkejaran dengan jumlah kasus infeksi yang semakin tinggi dan keterbatasan kapasitas fasilitas dan jumlah tenaga kesehatan untuk melayani pasien.  

Sebelum obat dan vaksin ditemukan maka himbauan jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun menjadi andalan. Beberapa pembatasan wilayah dilakukan dengan istilah lockdown, karantina, dan pembatasan sosial berskala besar.    

Ada upaya dan temuan yang muncul dari kalangan ahli maupun masyarakat luas. Sejumlah langkah dan temuan menjadi jalan ikhtiar yang layak diapresiasi tentu dengan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan nalar.

Inilah sejumlah langkah dan temuan tersebut : 

#1. Herbal, Empon-empon, Jamu. Tak seperti bakteri berbagai macam virus belum ada obatnya. Virus tak bisa dimatikan dengan anti-biotik. Influenza menjadi salah satu contohnya dimana herd immunity lebih dilkan. Kebugaran dan kekebalan tubuh menjadi lan agar virus enyah sebelum singgah.

Salah satu potensi asupan sehat bagi tubuh adalah herbal. Beberapa jenis herbal seperti jahe, temulawak, kunyit telah lama digunakan oleh masyarakat. Daun kelor juga dipercaya sebagian orang dapat membantu menghadang serangan virus ini.

Penelitian agar herbal tertentu naik kelas menjadi fitofarmaka penghadang virus corona layak dilakukan. Ada beberapa informasi yang menyebutkan bahwa kurkumin justru tidak baik karena sel-sel tubuh justru akan lebih rentan dalam menghadapi virus. Disinilah pentingnya negara hadir dalam menegakkan rasionalitas dan peran sains. Agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi ilmiah palsu (pseudoscience)  

Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom, mengatakan tiga formula antiviral sudah diserahkan ke produsen di Bogor, Jawa Barat. Saat ini formula itu tengah ditingkatkan produsen. Formula yang ditemukan Nidom semua dari bahan alam dan herbal, seperti empon-empon yang pernah dianjurkan kepada masyarakat untuk menangkal virus Corona dan meningkatkan imunitas tubuh.

#2. Probiotik Siklus. Probiotik adalah bakteri baik. Secara sederhana difahami bahwa probiotik sering diberikan pada pasien paska pengobatan menggunakan antibiotik yang mungkin mematikan sejumlah bakteri baik yang diperlukan dalam tubuh manusia.  

Berbagai jurnal penelitian telah mempublikasikan setidaknya pada manfaat probiotik dalam terapi terhadap pasien yang mengalami infeksi virus pernafasan. Termuat di situs ncbi.nlm.nih.gov hasil penelitian menyebutkan bahwa tiga puluh tiga uji klinis ditinjau. Studi sangat bervariasi dalam desain penelitian, ukuran hasil, probiotik, dosis, dan matriks yang digunakan. Dua puluh delapan percobaan melaporkan bahwa probiotik memiliki efek menguntungkan pada hasil infeksi saluran pernapasan (RTI) dan lima menunjukkan tidak ada manfaat yang jelas.

#3. Senyawa untuk Obat

Dari lima senyawa baru yang ditemukan Unair Surabaya, tiga senyawa diantaranya berhasil disintesiskan atau telah siap digunakan sebagai obat pengembangan baru (OPB) untuk Virus Corona guna melewati uji praklinik dan uji klinik.

Kelima senyawa tersebut diuji dalam single substance, yang artinya masing-masing senyawa menjadi percobaan untuk bisa menghasilkan obat yang terbaik. Penelitian lima senyawa yang saat ini dilakukan oleh tim peneliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Lima senyawa ini memiliki kemiripan dengan Chloroquine. Memiliki sifat antioksidan, menjaga membran sel, dan menjaga protein.

Untuk bisa menjadikannya obat ampuh dalam penyembuhan virus corona, masih ada serangkaian tes dan uji coba yang dilakukan oleh Institute of Tropical Disease (ITD) Unair setelah jurnal ilmiah terbit lalu direspons oleh peneliti di dunia. Demikian uraian Soetjipto, Ketua Tim Riset Covid-19 Unair sebagaimana dilaporkan suara.com.

Lebih lanjut Soetjipto menegaskan bahwa tak hanya melalui jurnal ilmiah, kelima senyawa ini nanti juga dites dengan genoid dari episentrum virus seperti di China dan Eropa. Senyawa ini nanti akan diuji kembali oleh peneliti di sana untuk memastikan apakah bisa bereaksi dengan genom lain. ITD akan bekerja sama dengan Jepang utnuk melakukan kultur pemetaan genoid Covid-19. Karena virus corona yang mewabah di Indonesia masih belum diketahui apakah memiliki kesamaan dengan virus corona yang mewabah di negara lain. Virus corona yang ada di Indonesia bisa sama seperti di belahan dunia lain atau bisa juga sudah bermutasi.

Hasil uji kekuatan daya ikat kelima senyawa terhadap protein target Covid-19 Mpro (PDB ID 6LU7). Sebagai pembanding, Avigan memiliki kekuatan -15,9 Kcal/mol dan sementara Chloroquine berkekuatan -37,11 Kcal/mol, sementara lima senyawa ada di atasnya.

Secara berurutan memiliki kekuatan -41 Kcal/mol, -42,8 Kcal/mol, -43,09 Kcal/mol, -47,94Kcal/mol, dan -49,43 Kcal/mol. Jadi daya ikatnya terhadap protein Covid-19 ini lebih kuat. Bahkan 3 kali lebih kuat dibanding Avigan.

Menurut anggota tim riset COVID-19 Unair, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih MSi, menjelaskan kelima senyawa ini disintesis berdasarkan bahan alam, lalu dimodifikasi dengan sintesis secara kimia. Demikian dilansir dari detik.com (1/4/2020)