Kinerja Sri Mulyani Terbaik, Tapi Mayoritas Publik Tidak Puas Kondisi Ekonomi

Kinerja Sri Mulyani Terbaik, Tapi Mayoritas Publik Tidak Puas Kondisi Ekonomi
Tangkapan layar presentasi hasil survei Indonesia Political Opinion.


MONITORDAY.COM - Survei Indonesia Political Opinion menunjukkan Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi menteri dengan kinerja terbaik menurut responden. Bertengger di posisi kedua dan ketiga adalah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

"Faktor persepsinya adalah kebijakan, program sosial, koordinasi antar lembaga, transparansi, dan faktor lainnya," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah, dikutip dari dokumen rilis hasil survei, Kamis (29/10/2020).

Sebanyak 61% responden menganggap Sri Mulyani sebagai menteri yang kinerjanya dalam waktu satu tahun ini paling baik. Setelah Sri Mulyani, menteri yang dinilai berkinerja baik adalah Prabowo dan Tito Karnavian. Masing-masing dipilih 57% dan 49% responden. Lalu di urutan berikutnya Menteri Luar Negeri Retno L. Marsudi (43%), Menteri BUMN Erick Thohir (38%), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (36%), Menkopolhukam Mahfud MD (34%), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama (32%).

Dari hasil survei juga diketahui enam menteri yang kinerjanya dianggap buruk oleh responden. Mereka adalah Menteri Agama Fachrul Razy (1%), Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (0,9%), Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (masing-masing 0,8%), Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly (0,4%), serta Menteri Komunikasi dan Informatika Johny G. Plate (0,3%).

Survei juga memotret penilaian publik atas kinerja pemerintah di sektor ekonomi. Hasilnya, mayoritas responden tidak puas terhadap kondisi ekonomi nasional. Meskipun, Sri Mulyani dan tiga menteri terkait bidang ekonomi menempati posisi teratas dari delapan menteri yang dianggap berkinerja baik.

Hal itu terlihat dari akumulasi responden yang memberikan respon buruk dan sangat buruk mencapai 57%. Sebanyak 51% memberikan penilaian buruk dan 6% sangat buruk. Sementara yang memberikan respon positif hanya 43% responden.

"Data empiris ini dipengaruhi beberapa hal di antaranya persepsi mahalnya harga bahan pokok (58%), sulitnya mencari pekerjaan (44%), sulitnya melakukan transaksi  perdagangan/jualbeli (38%) dan hal lain-lain (34%)," kata Dedi Kurnia Syah.

Survei digelar pada 12-23 Oktober 2020 dengan menggunakan metode purposive dan multistage random sampling. Metode purposive sampling dilakukan terhadap 170 orang pemuka pendapat (opinion leader) yang berasal dari peneliti Universitas, lembaga penelitian mandiri, dan asosiasi ilmuwan sosial/perguruan tinggi.

Sementara metode multistage random sampling dilakukan terhadap 1200 pemilih nasional di seluruh Indonesia dengan margin of error dalam rentang 2,9% dengan tingkat kepercayaan 95%.