Lulusan SMK Sumbang Pengangguran Tertinggi, Inikah Alasannya?

Sejak tahun 2017, Pemerintah sebetulnya telah melakukan terobosan untuk mengurai tingginya lulusan SMK yang menganggur. Karena ternyata ada banyak faktor yang membuat SMK seperti anomaly di tengah performa ekonomi yang terus meningkat.

Lulusan SMK Sumbang Pengangguran Tertinggi, Inikah Alasannya?
Ilustrasi foto/Net


MONITORDAY.COM – Performa ekonomi yang positif dalam setahun terakhir ternyata ikut memangkas jumlah pengangguran di Indonesia. Hal ini terlihat dari data yang dirilis badan Pusat Statistik (BPS), Senin (6/5/2019), jumlah pengangguran berkurang 50.000 orang sejurus dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang menurun jadi 5,01 persen pada Februari 2019.

Hanya saja, seperti dikatakan Kepala BPS Suhriyanto, bahwa dari jumlah pengangguran sebanyak 6,82 juta orang tersebut ternyata masih didominasi oleh lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Tingkat pengangguran terbuka menurut pendidikan, tidak banyak berubah bahwa TPT paling tinggi masih dari SMK, lalu dari diploma I, II, dan III, lalu disusul SMA,” kata Suhariyanto di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (6/5/2019).

Sejak tahun 2017, Pemerintah sebetulnya telah melakukan terobosan untuk mengurai tingginya lulusan SMK yang menganggur. Karena ternyata ada banyak faktor yang membuat SMK seperti anomaly di tengah performa ekonomi yang terus meningkat.

Tak hanya soal kurikulum, kapasitas SMK swasta dan Guru seperti sempat disingging Kepala Bappenas Bambang Broojnegoro, namun juga soal attitude yang tak dapat ditolerir di dunia kerja.

Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan terutama Direktorat Pengembangan SMK sejak tahun 2017 telah melakukan Revitalisasi SMK. Program ini dilakukan setelah Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dala rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia (SDM).

Jika program Revitalisasi baru dilakukan tahun 2017, itu artinya fakta bahwa masih banyaknya TPT lulusan SMK adalah lantaran lulusan yang ada saat ini belum tersentuh upaya revitalisasi SMK yang dilakukan pemerintah.

Sebelum adanya upaya revitalisasi, seperti sempat disinggung Menteri Pendidikan Kebudayaan, Muhadjir Effendi, kondisi pendidikan SMK memang jauh dari kata sempurna. Bisa dilihat dari total SMK di Indonesia yang sekitar 14.000 SMK, hanya sekitar 3.500 yang merupakan SMK negeri, sisanya SMK swasta.

“Jadi lulusan SMK yang sekarang belum dapat sentuhan revitalisasi. Saya yakin lulusan SMK 3-4 tahun ke depan di posisi yang tepat dan akan meningkat kualitasnya,” tutur Mentri Muhadjir dalam diskusi di Forum Merdeka Barat (FMB), di Gedung Bappenas.

Kita atau siapa pun memang akan seoptimis Muhadjir jika melihat SMK-SMK yang telah direvitalisasi saat ini secara langsung. Karena dengan revitalisasi para lulusan disiapkan bukan saja untuk mengurangi pengangguran, namun juga menambah lapangan pekerjaan.

Kenapa demikian? Karena revitalisasi memang menuntut sekolah kejuruan, guru, dan terutama lulusan untuk mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan industri yang ada. Sejak di sekolah, para peserta didik telah didekatkan kan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Tak hanya itu, revitalisasi juga sesungguhnya mendorong sekolah, guru, maupun para lulusannya untuk mampu mandiri. Jika sudah begitu, lulusan SMK niscaya tak lagi menjadi penyumbang pengangguran tertinggi, namun sebaliknya penyumbang lapangan pekerjaan tertinggi.