Mantra Ekonomi Ustadz YM

Dibutuhkan orang-orang yang memiliki spirit seperti Ustadz Yusuf Mansur yang tidak selalu harus diberi umpan terlebih dahulu.

Mantra Ekonomi Ustadz YM
M. Muchlas Rowi/MMG.


 

PANDEMI dan resesi seumpama ombak. Keduanya muncul dan tiba-tiba memporak-porandakan tatanan kehidupan, termasuk ekonomi.

Selain membuat semua orang terkunci di rumahnya masing-masing, pandemi covid-19 juga membuat kita masuk dalam kubangan resesi.

Pada kuartal pertama, ekonomi Indonesia sebetulnya masih tumbuh 2,97 persen, namun kemudian mengalami kontraksi year on year dibanding 2019. Lalu pada kuartal kedua, ekonomi Indonesia minus 5,32 persen. Hingga akhirnya, ekonomi kita kembali terkontraksi sebesar 3,49 persen.

Ekonomi Indonesia lantas terperangkap dalam ketidakpastian. Karena covid-19 yang tak kunjung usai. Juga karena vaksin COvid-19 yang tak kunjung tiba, dan kepercayaan publik terhadapnya belum kentara. Akibatnya, kegiatan perdagangan di manapun belum dapat menunjukkan adanya peningkatan seperti sebelum pandemi berlangsung.

Angin resesi yang pertama kali dan paling terasa terjadi adalah tatkala kita mengunjungi pusat perbelanjaan/mall dan kampung halaman. Di masa pandemi, pusat-pusat perbelanjaan (mall) d kota-kota besar mendadak sepi lalu membuat pedagang merugi.

Sementara di kampung-kampung situasi terbalik, disana jadi lebih ramai. Jumlah pedagang bertambah banyak lantaran alih provesi akibat PHK disana sini. Mereka hilir mudik, menyusuri sudut-sudut desa, namun tetap sepi pembeli.

Kini, meski situasi belum kembali namun angin perubahan mulai datang menghampiri. Kita mulai merangkak untuk betul-betul keluar dari resesi. Mulai ada kejutan-kejutan yang membuat kita bahkan geleng-geleng kepala. Seperti terjadi di negeri china, berkat pendiri Alibaba, Jack Ma. Perusahaan yang kini ditekuninya, Ant Group tetiba mendapat suntikan dana sebesar Rp500 triliun (USD 35).

Hampir belum ada dalam sejarah dunia sebuah perusahaan bisa meraup dana sebesar itu. Bahkan Ipo Saudi Aramco pun masih jauh dari itu.

Betul apa yang dikatakannya beberapa waktu lalu, bila dunia saat ini dan akan datang akan dikuasai oleh institusi-institusi bisnis kecil dari sudut-sudut kota dan negeri nan kecil. Dan Ant Group berhasil melakukannya.

Dengan situasi dan spirit yang hampir sama, di negeri kita Indonesia juga ada yang sedikit nyaru dengan Jack Ma. Ya, Ustadz Yusuf Mansur orangnya. Meski dana yang digerakkan tak sebesar yang dihasilkan Jack Ma, namun paling tidak ajakannya tersebut cukup manjur.

Rasanya baru kemarin, PT Garuda Indonesia (persero) Tbk., mencatatkan kerugian sebesar Rp15,3 triliun di kuartal III-2020. Kabar tak sedap yang cukup merontokkan mental jajaran direksi, komisaris maupun para pemegang saham. Hingga Ustad YM buka suara dan mengajak masyarakat membeli saham GIAA.

Hasilnya, saham perusahaan kuda terbang berplat merah ini pun kembali naik sejak awal pekan setelah Ustad YM mengajak publik membeli saham emiten berkode GIAA tersebut. Berdasarkan data Bloomberg, saham Garuda naik 10 poin atau 3,14 persen ke level 328 di sesi pertama perdagangan akhir pekan kemarin.

Ustadz YM sempat bertanya kepada para direksi dan bahkan menteri BUMN Erick Thohir, berapa daya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Ketika diberitahu sebesar Rp15,3 triliun dia pun bilang itu jumlah yang kecil.

Seiring keberhasilan Ustadz YM dalam mengerek penjualan saham GIAA, kini mulai ada tanda-tanda pemulihan secara nyata. Perbaikan dalam beberapa bulan belakangan ini, mulai terasa. Lima indikator pertumbuhan perekonomian dalam negeri yang merangkak naik antara lain konsumsi rumah tangga dari minus 5,5 persen pada triwulan kedua beranjak ke minus 4 persen, belanja pemerintah yang pada triwulan lalu minus 6,9 persen kini tumbuh positif mencapai 9,8 persen, investasi dari triwulan lalu minus 8,6 persen saat ini tumbuh menjadi minus 6,5 persen.

Lalu nilai ekspor yang tadinya minus 11,7 persen pada triwulan lalu kini merangkak naik sebesar 10,8 persen, dan terakhir impor dari minus 17 persen menjadi minus 11,9 persen. Tumbuhnya perekonomian Indonesia saat ini, karena pemerintah melakukan berbagai upaya kebijakan stimulus fiskal yang berkaitan pemulihan perekonomian dalam beberapa waktu ke depan. Setiap kebijakan ini, rupanya sangat berdampak terhadap pertumbuhan perekonomian bangsa di tengah pandemi.

Namun, upaya pemerintah saja tentu belumlah cukup untuk megembalikan perekonomian kita seperti ketika sebelum pandemi. Dibutuhkan orang-orang yang memiliki spirit seperti Ustadz Yusuf Mansur yang tidak selalu harus diberi umpan terlebih dahulu.

Mengingatkan kita dengan sosok Abdurrahman bin Auf, sahabat nabi yang lihai dalam membangun bisnis dan tetap hidup dalam kondisi krisis. Hanya dalam waktu sekitar dua tahun, ia bersama pedagang muslim lainnya berhasil membangun dominasi perekonomian, mengalahkan pedagang Yahudi di Madinah.

Ia menjadi salah satu konglomerat dan penyokong dana yang berjasa dalam membantu perjuangan dan dakwah. Seperti Abdurrahman bin Auf, Ustadz YM termasuk golongan orang yang mampu melakukan penguasaan pasar, namun sebesar-besar untuk kemajuan ummat, bukan dirinya semata.

M. Muchlas Rowi
Komisaris Independen PT Jamkrindo