Maulid Nabi dan Laisitas Sempit ala Macron

Maulid Nabi galibnya dimaknai dalam konteks peneguhan sikap dan aktualisasi nilai-nilai perdamaian, apresiasi terhadap kebhinekaan, dan penghormatan terhadap nilai demokrasi hukum, HAM yang bahkan melebihi Laicitte sekalipun.

Maulid Nabi dan Laisitas Sempit ala Macron
Presiden Prancis, Emmanuel Macron/Net.


PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad Saw. tahun ini amat berbeda dengan perayaan di tahun-tahun sebelumnya. Selain karena umat Islam di dunia harus menghadapi Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, juga karena Maulid Nabi kali ini dinodai oleh ulah Majalah Charlie Hebdo yang kembali menerbitkan karikatur satire tentang Nabi Muhammad.

Akibat provokasi tersebut, seorang guru sejarah dan geografi bernama Samuel Paty di pinggiran Ibukota Paris harus meregang nyawa pada Jum’at (16/10/2020). Sebelum dieksekusi, Paty diketahui membahas karikatur Nabi Muhammadi di kelasnya. Pelaku, adalah seorang remaja berusia 18 tahun bernama Abdoullah Anzorov, juga harus meregang nyawa setelah ditembus peluru panas pihak kepolisian.

Insiden Conflans-Sainte-Honorine ini lantas makin diperkeruh oleh pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Dalam upacara pemakaman Paty di Taman Makam Nasional di Paris Rabu lalu, Macron menyerukan pembelaan terhadap nilai-nilai sekuler Prancis. Dia mengatakan nilai sekularisme memberi ruang bagi kebebasan dan pemikiran kritis, meski itu harus menghina sebuah agama--bukan orangnya.

"Kita tidak akan menghentikan kartun-kartun," kata Macron dalam upacara pemakaman Paty di Universitas Sorbonne.

Pemerintahan Macron juga merespons tewasnya Paty dengan tindakan keras seperti menggerebek jaringan Islamis dan kemudian menutup sementara masjid di pinggiran Paris. Awal Desember nanti Prancis juga berencana meloloskan undang-undang untuk memerangi separatisme, termasuk di dalamnya ekstremisme Islam.

Sikap keras Macron pun memicu protes anti-Prancis di negara-negara Muslim di seluruh dunia. Aksi yang memprotes Macron dan Prancis terjadi di banyak negara muslim. Dalam aksi tersebut mereka juga menyuarakan pemboikotan terhadap barang-barang produk Prancis.

Akibatnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. pun berganti menjadi aksi protes dan pengecaman terhadap Emanuel Macron. Di Pakistan, Maulid Nabi biasanya diperingati dengan pengibaran bendera nasional Pakistan di gedung-gedung dan penghormatan dengan 21 senjata. Tapi kini berganti menjadi aksi turun ke jalan. Mereka menginjak-injak dan membakar foto serta tiruan figure Emmanuel Macron.

Di Bangladesh, acara peringatan Maulid Nabi biasanya sangat meriah. Ribuan orang biasanya berkumpul di Kota Dhaka untuk mengikuti rangkaian acara Peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Syekh Sayyid Saifuddin Ahmad al-Hasani al-Husaini.

Tapi berbeda untuk kali ini, puluhan ribu orang yang turun ke jalan di Ibu Kota Bangladesh, Dhaka menyerukan boikot atas barang-barang produk Prancis. Para demonstran membakar patung Presiden Emmanuel Macron, yang membela pembuatan kartun satire Nabi Muhammad.
 

Tafsir sempit sekulerisme Macron
Prancis adalah negara pelopor demokrasi yang sangat menjungjung tinggi prinsip kebebesan berpendapat warganya. Bahkan satirisme terhadap tokoh publik, politik atau bahkan agama pun dibolehkan.

Kebebasan berekspresi di Prancis lantas dimanfaatkan oleh kaum satire seperti Charlie Hebdo. Majalah tersebut memang terkenal dengan cemoohan terhadap agama, tak hanya Islam, tapi semua aliran. Olok-olokan terhadap agama ini dihalalkan di Prancis karena adanya motto laicitte alias sekulerisme yang mereka pegang teguh sejak tahun 1905.

Sebelum tahun 1905, Prancis memang tak henti-hentinya dilanda konflik dan peperangan antara Katolik dan Kristen. Pastur dan suster disiksa dan dibunuh. Akhirnya mereka menganggap agama sebagai pemecah persatuan. Setelah perang usai, dikeluarkanlah larangan pemakaian salib atau lambang keagamaan lainnya di Prancis. Umat Katolik dan Kristen akhirnya bisa menerima aturan tersebut kemudian kembai berbaur.

Muhammad Arkoun adalah seorang intelektual muslim asal Prancis, ketika menulis buku Al-Amanah Wa al-Din: al-Islam, al-Masih, al-Gharb, Arkoun dalam pendahuluannya mengatakan bahwa, orang-orang Prancis memang jarang mendekati masalah dengan mengaitkan dan memahami budaya-budaya yang berkelindan di dalamnya. Pada galibnya, mereka memprioritaskan kutukan-kutukan politik sesuai sikap yang diwarisinya dari masa lalu. Seperti halnya Macron.

Seolah tak peduli dengan budaya orang lain, Prancis mendorong konsep laisitas/sekulerisme, yang diklaimnya sebagai konsep pemersatu dari individu-individu yang berbeda dalam pendapat, agama, maupun kepercayaan dalam suatu kehidupan politik bersama. Dari sudut pandang sekuler, berbagai paham atau kepercayaan yang terkait dengan agama-agama ialah semata-mata pendapat pribadi yang tidak ada hubungannya dengan penyelenggaraan negara.

Akibatnya, politik merupakan kegiatan yang mutlak bersifat non-transenden. Turunan lainnya, Pemerintah Prancis pun melarang simbol-simbol agama di sekolah dan perkantoran untuk memerangi komunitarianisme. Mereka juga melarang baju renang Islami, burkini, di kolam renang umum, pantai. Sungguh aneh, bukan.

Ya, laicitte awalnya memang cara khas Prancis untuk mengatur hubungan antara pemerintah dan masyarakatnya setelah mengalami sejarah kelam perang antar agama. Dalam artikel nomor 2 UU tahun 1905, disebutkan jika Prancis meyakini kebebasan beragama dan berkepercayaan dan kebebasan untuk beribadat dijamin sepenuhnya sejauh tidak mengganggu ketentraman/ketertiban umum. Negaranya tidak berhak untuk turut campur dalam masalah-masalah keagamaan.

Sebagai upaya khas untuk mendamaikan agama-agama, Laicitte sejati cukup dihormati dan dianggap pencapaian tertinggi peradaban Prancis. Seperti juga negara barat lainnya seperti Amerika, atau bahkan bangsa kita Indonesia yang menemukan 'Demokrasi Pancasila'.

Namun belakangan, Laicitte berkembang menjadi lebih sempit. Terutama di tangan Macron, Laicitte berubah menjadi semacam agama sipil dengan sederet aturan dan larangan yang jauh dari spirit utama Laicitte sendiri.

Terkait perilaku Charlie Hebdo misalnya, jelas-jelas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai karikatur soal Nabi Muhammad merupakan bentuk provokasi terhadap umat muslim di dunia. Ketua Aliansi Peradaban PBB, Miguel Angel Moratinos, bahkan mengaku prihatin dengan ketegangan yang terjadi terkait karikatur Charlie Hebdo dan insiden pemenggalan guru di Prancis.

 

Pesan Maulid Nabi

Syahdan, setelah berjalan kaki sekira 72 kilometer, berhijrah menuju Thaif Nabi bertatap muka dengan pembesar Bani Tsaqif: Abdi Talel, Khubaib dan Mas’ud. Kepada mereka kekasih Allah ini mengenalkan tauhid. Tapi tragis, Muhammad justru jadi target pelecehan, penghinaan, umpatan kotor yang diarahkan kepadanya.

Nabi Muhamamd lalu dilempari batu, hingga ia terluka. Dalam kondisi terserang, Zaid melindungi Rasul hingga kepalanya terluka. Keduanya lantas lari ke kebun milik ‘Itbah bin Rabi’ah. Disana ia bermunazat agar dirinya diberi kekuatan.

Seketika itu, Malaikat Jibril mendatanginya. Lalu menawarkan bantuan, “Apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mereka? Kalau itu kau inginkan, maka akan aku lakukan.”

Namun Rasul tak menggendakinya. Bahkan ia mengharapkan Allah menciptakan generasi takwa yang lahir dari tulang rusuk warga Thaif. Betapa sabar, arif, dan optimisnya sosok Nabi Muhammad. Ia tak memiliki rasa dendam sedikitpun. Luar biasa.

Sungguh, apa yang dilakukan Charlie Hebdo maupun suami Brigitte Macron (penjual kue macaron d’amiens yang terkenal itu) tak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang dialami Rasulullah. Apa yang dialaminya tak sekadar kata-kata atau karikatur bernada satire.

Spirit Maulid Nabi sesungguhnya adalah bagaimana kita meneladani sifat dan akhlaknya. Bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad mengedepankan perdamaian. Dia tidak pernah mengajarkan menggunakan kekerasan, bahkan kepada orang yang menyakiti kita sekalipun.

Gerakan boikot sebagai upaya protes keras bisa saja dilakukan, namun tetap harus menunjukkan pesan utamanya yaitu pesan perdamaian. Saya mengajak umat meneladani semangat dan visi Nabi Muhammad berupa pembebasan dari ketertindasan. Maulid Nabi adalah momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt.

Karena itu, dalam situasi seperti saat ini, umat Islam diserukan agar mampu mengembanggkan sikap toleran (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan bersikap adil (i’tidal) dalam menjalankan agama, sehingga tidak mudah terjebak dalam pertentangan dan perselisihan yang sifatnya sempit atau furuiyah. Contoh paling sederhana adalah seperti yang diperlihatkan oleh Khabib Nurmagomedov ketika bertarung di Oktagon.  

Kita sangat berharap jika apa yang dilakukan Charlie Hebdo maupun Macron tersebut kian menyadarkan kita akan pentingnya menguatkan ukhuwah Islamiyah maupun wihdatul ummah sebagaimana dilakukan Nabi ketika menyatukan dan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor saat membangun Kota Madinah.

Karena itu amat penting, Maulid Nabi dimaknai dalam konteks peneguhan sikap dan aktualisasi nilai-nilai perdamaian, apresiasi terhadap kebhinekaan, dan penghormatan terhadap nilai demokrasi hukum, HAM yang bahkan melebihi Laicitte sekalipun. Karena sejarah konflik, pertikaian, maupun perdebatan intelektual juga sudah lama dilewati, dan Nabi Muhammad telah mencontohkan bagaimana cara menyikapi perbedaan budaya, sosial-ekonomi, politik bahkan agama sekalipun. [ ]