Memapah Asa dan Meraih Kemenangan Idul Fitri di Rumah Saja

Merayakan idul Fitri tak mesti dengan mudik. Spirit kemenangan masih bisa kita raih cukup dari rumah saja.

Memapah Asa dan Meraih Kemenangan Idul Fitri di Rumah Saja
Ilustrasi foto/Net.
WORD HEALTHY ORGANIZATION (WHO) merilis informasi bahwa Virus Corona mungkin baru bisa dikendalikan lima tahun lagi. Inggris dalam pengembangan vaksin Corona menambah alokasi dana hingga Rp1,6 triliun. Turki terapkan National Lockdown selama libur lebaran untuk cegah Corona. Indonesia menetapkan PERPPU Corona menjadi Undang-Undang, dan berusaha untuk hasilkan vaksin hingga luncurkan produk penanganan Corona.

Saat ini Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Penegakan Larangan Mudik sedang digalakkan. Di kita masih banyak pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaannya bahkan ada yang nekat mudik berkendara menerobos penjagaan check point ketika petugas lengah. Kini kurang lebih 300.000 kendaraan yang akan mudik oleh petugas diminta putar balik kembali.

Berdasarkan data Gugus Pencegahan COVID-19 Republik Indonesia, kasus paparan COVID-19 di Indonesia hingga 21/5/2020 total pasien 20.162 orang, 4.838 orang sembuh dan 1.278 orang meninggal. Setiap harinya terus merangkak meningkat bertambah jumlah pasien yang terpapar. Peningkatan ini per harinya sangat luar biasa kurang lebih 500 sampai 900 orang.

Khusus di Jawa Barat 14 daerah masih dalam kategori zona merah penyebaran COVID-19, termasuk di dalamnya Bekasi. Untuk Jawa Barat tidak akan menurunkan level pengawasan kesehatan, ini dalam upaya meminimalisir jumlah korban berjatuhan. Di satu sisi pemerintah berupaya melakukan upaya-upaya itu, di sisi lain masih banyak masyarakat kita yang mengabaikan semua aturan Protokol Kesehatan, padahal peraturan-peraturan sudah dibuat, informasi, dan himbauan-himbauan hingga sosialisasi baik secara langsung maupun melalui media gencar dilakukan sampai pada penjagaan oleh petugas PSBB di setiap jalur dan tempat-tempat keluar masuk kendaraan antar daerah.

Mendekati lebaran ini masyarakat masih banyak mengabaikan aturan itu, petugas mendapati banyak masyarakat tidak menggunakan masker, tidak jaga jarak dan mengabaikan keselamatan jiwanya dengan menerobos penjagaan. Semisal di pasar-pasar untuk memenuhi kebutuhan dan menyambut lebaran ini masih banyak masyarakat berkerumun, tidak cuci tangan--menjaga jarak--bermasker.

Begitu pula di kantor-kantor tertentu ketika penerima pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) bahkan membawa anak bayi yang tidak terlindungi oleh masker dalam kerumunan antrian. Pada kondisi lain petugas banyak menjaring pengguna kendaraan bermotor tidak menggunakan masker padahal peraturan denda sudah di sosialisasikan, denda beragam sesuai dengan poin yang dilanggarnya, ada yang menyerahkan KTP, denda Rp100.000,-  sampai Rp250.000,- bahkan lebih dari itu jika pelanggarannya memang berat.

Kecendrungan tradisi dan kultur mudik atau pulang kampung yang sudah lama terpatri di masyarakat kita sulit untuk dibendung, gelombang 'soft protest' dengan berbagai cara dan trik masih banyak masyarakat bersikukuh melakukan perjalanan pulang kampung. Bentuk gelombang 'soft protest’ cukup beragam untuk bisa mudik di antaranya, ada yang mengendarai mobil pribadi yang lainnya bersembunyi di bagasi, kepemilikan KTP alamatnya tidak sesuai dengan domisili tujuan, ada juga truk dengan ditutup terpal rapi dengan surat perjalanan barang namun setelah dicek dalamnya ternyata membawa orang. Belum lagi ada pejabat harus berdebat dengan petugas karena  tidak membawa kelengkapan persyaratan yang telah ditentukan, maka diarahkan untuk kembali, namun tetap melawan aturan yang berlaku. Jika tidak sesuai tujuan dan aturan maka petugas memutarbalikan untuk kembali pulang.

Itu semua dilakukan untuk pencegahan penyebaran wabah/pandemi yang sekarang sedang kita hadapi. Akan arif dan bijaksana bila kita merenungkan sabda yang disampaikan Rasulullah. Dari Usamah bin Zaid, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tha'un (penyakit menular/wabah kolera) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya." (HR. Bukhari Muslim).

Bulan Ramadhan akan meninggalkan kita, bulan penuh rahmat, berkah dan maghfirah (ampunan) sudah kita lalui dengan menunaikan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya yang di sunnahkan, menahan dahaga telah tertanam dalam hati dan jiwa, segala godaannya sudah dapat ditepis dengan perjuangan yang tiada tara. Ramadhan memberikan makna bulan pembakaran, paling tidak ada empat yang dibakar selama Ramadhan yaitu cinta dunia (hubbudunya), ibadah puasa melatih seorang muslim memerangi dan menahan hawa nafsu, puasa melatih kaum muslimin untuk menghilangkan atau membakar akhlak yang buruk, puasa membakar dosa-dosa. Hal ini sesuai hadits yang diriwatkan oleh Ahmad dan Al-Baihaqi dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘Anhu) artinya: ”Barangsiapa berpuasa Ramadhan dan menjaga segala batas-batasnya, serta memelihara diri dari segala yang baik dipelihara diri darinya, niscaya puasanya itu menutupi dosa-dosanya yang telah lalu."

Masa pandemi COVID-19 memang belum berakhir, akan tetapi roda kehidupan harus berjalan, saatnya kita memapah asa, meraih kemenangan dengan tidak mudik (pulang kampung) walau kerinduan dengan keluarga di kampung begitu menggebu. Kini Idul fitri (lebaran) akan tiba, kita semua menyambut kegembiraan di hari penuh kefitrian (kembali kepada kesucian).

Semangat untuk tidak mudik, slogan banyak disampaikan dan mengingatkan kepada kita seperti; “Tidak Mudik”, “Ojo Mudik”, “Ora Mudik”, “Jangan Mudik”, “Tidak Mudik Tetap Asyik” dan lainnya. Sudah sama-sama kita mafhum pada kondisi saat ini, menjadi renungan kita bersama virus ini cukup ganas, sehingga peningkatan penyeberannya begitu cepat. #Tidak Mudik berarti mencegah lebih penting daripada mengobati. Mari kita wujudkan kebiasaan baru (new habit) untuk dibangun dan ditingkatkan gaya hidup.

Pemberlakuan PSBB dan penegakan larangan mudik bukanlah hal yang harus ditakuti, tradisi dan kultur yang dapat membahayakan diri sebaiknya kita hindari. Kita belajar dan resapi dari segala peristiwa bencana ini, semakin hari grafik kasus terpapar COVID-19 di Indonesia terus meningkat, sudah saatnya kita merenungkan, berfikir bijak untuk membangun kesadaran akan bahaya atau resiko kondisi seperti ini. Dari Abu Said al-Khudri: Rasulullah Saw bersabda: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain. Siapapun yang membuat suatu bahaya maka Allah akan membalasnya, dan siapapun membuat  kesulitan atas orang lain, maka Allah akan menyulitkannya.” (HR. Malik,Daruquthni, Hakim dan Baihaqi).

Mungkin masih ada di lingkungan kita yang nekat untuk pulang kampung (mudik), sebaiknya di rumah saja untuk membangun, menata kehidupan ke depannya. Di rumah saja penuh berkah, berbagi hikmah dan memapah asa (harapan); semakin terjaga kualitas kesehatan diri dan keluarga, tidak mengurangi pahala untuk silaturrahim melalui media sosial, dapat termaafkan segala bentuk kekeliruan, kekhilafan, dosa dengan pemakluman kepada keluarga jauh, dan semua handai taulan di kampung. Masih ada waktu untuk bercengkrama dengan sanak saudara yang jauh, bukan sekarang. Ada waktu yang tidak membahayakan diri dan orang lain. Waktu yang baik, kondisi yang aman. Wallahu a'lam bish-shawabi.