Merdeka dari Virus

Upaya menemukan vaksin bisa disebut sebagai sebuah jihad dan perjuangan. Seperti juga kita sematkan pada perjuangan melawan penjajahan untuk mewujudkan kemerdekaan.

Merdeka dari Virus
Ilustrasi: net


PERAYAAN hari kemerdekaan tahun ini sangat berbeda dari biasanya. Karena aturan pembatasan sosial dan penerapan protokol kesehatan, banyak rangkaian kegiatan harus dilakukan secara virtual atau bahkan ditiadakan. Sedih sekali rasanya.

Betullah kiranya jika dr Anthony Fauci, epidemolog asal USA mengatakan, corona virus disease 2019 (covid-19) sebagai ‘mimpi buruk’ yang jadi kenyataan. Di tengah perayaan kemerdekaan, biasanya kita riang gembira. Tapi nyatanya, malah rasa cemas dan teror ketakukan yang kita rasakan.

Kian hari, kasus yang terkonfirmasi positif covid-19 bahkan terus bertambah, bukan malah berkurang. Di negara-negara lain di dunia, penyebaran covid-19 bahkan makin bertambah ganas.

Kulminasinya, pandemi covid-19 pun menjadi tantangan public policy yang luar biasa. Pandemi ini menyebabkan aspek sosial dan ekonomi menjadi korban dan ini merupakan suatu pilihan yang luar biasa rumit bagi siapa pun.

Tantangan public policy tersebut mencakup sisi kesehatan, masalah sosial, sisi solvabilitas dari usaha kecil menengah, korporasi, dan sektor keuangan. Semuanya menimbulkan implikasi kepada manusianya.

Penulis berada dalam satu barisan dengan orang-orang yang meyakini bahwa untuk membuat dampak covid-19 tidak makin meluas, kita harus melakukan langkah-langkah yang bersifat extraordinary, sangat luar biasa, tidak biasa dan luar biasa. Jadi, exceptional dan extraordinary karena situasinya memang sama sekali bukan situasi biasa.

Dari sisi anggaran misalnya, perubahan APBN Tahun 2020 di masa pandemi Covid-19 tentu menjadi hal wajar dan perlu. Harapannya, pemerintah dapat memberikan landasan untuk memberikan respon cepat baik di pusat maupun di daerah.

Produksi dalam negeri harus ditingkatkan, semua potensi dalam negeri harus dioptimalkan. Usaha mikro, kecil, dan menengah yang kali ini juga mengalami tekanan harus diberi stimulus.

Penulis juga sepakat dengan pernyataan Presiden Jokowi bahwa krisis yang sedang kita hadapi harus memberi pelajaran berharga. Apapun yang kurang kita perbaiki, yang lemah kita perkuat, yang lambat kita percepat.

Inilah momentum untuk melakukan transformasi, meninggalkan cara-cara lama. Membangkitkan kekuatan kita sendiri, serta melakukan lompatan-lompatan kemajuan.

Salah satu transformasi yang disiapkan, adalah memperkuat ketahanan di bidang pangan. Sebelumnya, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sudah memperingatkan, pandemi covid-19, selain menyebabkan krisis di bidang kesehatan dan menjalar ke perekonomian, juga bisa menyebabkan krisis pangan.

Untuk mengiringi beragam transformasi yang dilakukan, penggunaan masker perlu digalakkan. Pastikan tumbuh di kalangan masyarakat kesadaran akan pentingnya melindungi diri sekaligus orang lain dari paparan covid-19. 'Maskermu adalah pelindungku, sementara maskerku adalah pelindungmu."

Pandemi covid-19 juga momentum agar kita bekerja lebih keras, dan memiliki sense of crisis. "Pada kondisi krisis, kita harusnya kerja lebih keras lagi. Jangan kerja biasa-biasa saja. Kerja lebih keras dan kerja lebih cepat," begitu kata Presiden Jokowi.

Para pembantu di sekitarnya tidak boleh hanya bekerja dengan menggunakan cara-cara yang biasa, tapi membuat terobosan dalam melaksanakan prosedur, misalnya dengan menerapkan smart shortcut.

Hal lain yang juga penting, adalah soal kelonggaran hak paten dan hak kekayaan intelektual atas obat dan vaksin dalam penanganan virus corona. Penting sekali agar hak paten dan hak kekayaan intelektual dapat diterapkan secara fleksibel demi kemanusiaan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Betul bahwa dalam upaya memberikan vaksin, efek samping itu selalu ada, baik efek lokal maupun sistemik. Karena itulah, kaidah ilmiah dan etika riset memang penting diperhatikan, agar tidak ada hal-hal yang tak diharapkan terjadi di kemudian hari.

Riset avian flu dan swine flu dalam proses riset Tamiflu menjadi pelajaran, karena tidak transparan sejak awal. Lalu, karena dipaksakan jadi obat, pada 2013 dan 2014 ditemukan banyak efek samping yang fatal, yaitu kematian pada anak dan juga gangguan mental dan neurologis.

Perlu ada dorongan agar hasil uji klinis obat atau apa pun seperti yang diprakarsai para peneliti UNAIR untuk diangkat ke dunia ilmiah dan dicatatkan dalam clinical trial dunia. Agar kita betul-betul merdeka dari virus, tidak terus-menerus dihantui ketakutan.

Dorongan dan fleksibilitas ini penting, karena seperti pada kasus bilik desinfektan. Ada banyak animo dan upaya kreatif banyak pihak yang berusaha ikut mengatasi covid-19 dengan memproduksi bilik desinfektan. Lalu karena terlalu kaku dan lama dalam melakukan pengujian akhirnya upaya tersebut diamputasi, karena dianggap tidak relevan. Semangat masyarakat lalu mengendur.

Tapi di kemudian hari, ada temuan bahwa covid-19 terbukti bisa menyebar melalui airbone. Lalu semua orang pun menyemprotkan disinfektan ke udara untuk menahan virus corona di dalam ruangan, Bilik disinfektan pun kembali menjadi relevan.

Termasuk juga dalam pengembangan jamu tradisional untuk menahan laju penyebaran covid-19. Ada begitu banyak kesaksian dan bukti temuan yang menyatakan bahwa covid-19 bisa disembuhkan oleh produk jamu lokal kita, meski tentu dengan kondisi tertentu.

Di sejumlah negara, dengan tradisi pengobatan tradisional yang kuat seperti China dan Korea, warganya sangat percaya dengan tim medis dalam penanganan kasus virus corona. Obat herbal digunakan sebagai pendamping pengobatan medis.

 

Begitu semestinya di Indonesia, bangun kepercayaan sekaligus kapasitas untuk mengembangkan pengobatan tradisional berbasis herbal atau jamu. Sehingga jamu pun tak sekadar menjadi kebutuhan, tapi juga kebiasaan baru, seperti halnya kopi.

Nah, yang mengherankan, jika di negara-negara lain pandemi covid-19 menghadirkan atmosfir dan aroma kontestasi di dunia sains dan farmasi sehingga melahirkan pakar-pakar kesehatan dan farmakologi panutan yang bisa dijadikan rujukan, tapi di sini di negeri +62 yang kita rasakan justru lebih kental aroma persaingan ekonominya.

Jika ingin merdeka dari virus, maka tak sekadar sisi ekonominya yang diperhatikan, tapi inovasi sains dan lahirnya para ilmuwan. Karena meminjam istilahnya Fazlul Rahman, intelektual muslim neomodernis kenamaan, bahwa melalui akal kita bisa menemukan wahyu kreatif Tuhan.

Dengan begitu, upaya menemukan vaksin pun kemudian bisa disebut sebagai sebuah jihad dan perjuangan. Seperti juga kita sematkan pada perjuangan melawan penjajahan untuk mewujudkan kemerdekaan.