Milad ke-108, Muhammadiyah Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri

Mari sebarluaskan risalah Islam wasaṭiyah berkemajuan dengan menghadirkan karakter keislaman yang damai, ukhuwah, moderat, luas wawasan, ta'awun, tasamuh, dan kebaikan kehidupan.

Milad ke-108, Muhammadiyah Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir (kiri) saat memberikan sambutan dalam acara Milad ke 108 Muhammadiyah, yang digelar secara virtual, Rabu (18/11).


MONITORDAY.COM - Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi Islam yang besar di Nusantara. Mengenai nama, organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai para pengikut Nabi Muhammad SAW.

Persyarikatan Muhammadiyah didirikan oleh Muhammad Darwis atau yang akrab dikenal Kiai Haji Ahmad Dahlan. Kelahiran Muhammadiyah bermula ketika Kiai Dahlan pulang menunaikan ibadah haji dari Tanah Suci pada tahun 1903.

Pada hari ini Muhammadiyah menggelar milad ke-108 Muhammadiyah, Rabu (18/11). Berbeda dengan sebelumnya, dalam peringatan milad kali ini digelar secara virtual bertajuk 'Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri'.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengungkapkan, Muhammadiyah terus berkomitmen memberikan yang terbaik dalam mengatasi permasalahan bangsa dan negara. Pasalnya, dalam mengatasi masalah perlu gotong royong dari segenap lapisan masyarakat.

Lebih lanjut, Haedar mengajak seluruh lapisan masyarakat dan keluarga besar Muhammadiyah untuk menyebarkan dan mewujudkan nilai-nilai kebaikan serta ikhtiar kolektif dalam memberi solusi bagi permasalahan di tanah air.

"Untuk itu, Muhammadiyah mengajak Pemerintah, kekuatan politik, warga bangsa, umat Islam, dan keluarga besar Muhammadiyah untuk menebar dan mewujudkan nilai-nilai kebaikan dan ikhtiar kolektif dalam memberi solusi hadapi pandemi dan masalah negeri," kata Haedar saat memberikan sambutan dalam acara peringatan Milad 108 Muhammadiyah, yang dipantau monitorday.com secara virtual, Rabu (18/11).

Selain itu, Haedar meminta pemerintah pusat maupun daerah dan lembaga lainnya untuk bertanggungjawab serta mendorong persatuan nasional dalam mengatasi persoalan kesenjangan sosial, khususnya terkait menyelesaikan masalah-masalah negeri dengan mengedepankan kehendak hidup rakyat di atas segalanya.

“Di antara tanggungjawab dan agenda terberat bangsa saat ini ialah merekat persatuan nasional dan memutus rantai kesenjangan sosial menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Haedar.

Kemudian, ia juga mendorong seluruh masyarakat memecahkan persoalan dalam negeri dengan semangat gotong royong. Menurutnya, perlu meningkatkan jiwa Bhineka Tunggal Ika guna meninggalkan egoisme dan kepentingan sempit golongan yang merugikan kemajemukan.

“Jika terdapat masalah di tubuh bangsa carikan solusi dan titik temu demi keutuhan hidup bersama. Dalam membangun hubungan termasuk melalui media sosial hilangkan hoaks, fitnah, serta benih saling curiga, kebencian, pertikaian, dan konflik yang dapat menambah berat beban masalah bangsa dan teradinya disintegrasi nasional,” imbuhnya.

Haedar menambahkan, umat Islam dituntut memiliki sikap cerdas dan bijaksana dalam menghadapi kondisi keumatan dan kebangsaan yang rumit serta beragam. 

Adapun, ia berkeinginan seluruh komponen dan tokoh umat dapat menjaga situasi kebangsaan agar tetap kondusif, bahkan menghindari perselisihan dan segala tindakan kontroversi yang dapat mengganggu persatuan bangsa.

“Perkuat nasionalisme sebagai ekspresi dan jalinan integrasi keislaman dan keindonesiaan yang utuh, serta hindari tindakan-tindakan intoleran yang dapat merugikan hubungan keumatan dan kebangsaan yang selama ini telah terjalin dengan baik,” sambungnya.

Selanjutnya, Haedar berharap seluruh warga Muhammadiyah menjadi lokomotif pergerakan dan memberikan pemikiran solutif dalam menghadapi pandemi serta situasi negeri sesuai perspektif Islam Berkemajuan.

“Mari sebarluaskan risalah Islam wasaṭiyah berkemajuan dengan menghadirkan karakter keislaman yang damai, ukhuwah, moderat, luas wawasan, ta'awun, tasamuh, dan kebaikan kehidupan," pungkas Haedar.