Muhammadiyah-NU Dinilai Paling Serius Tangkal Terorisme

Gerakan terorisme merupakan ancaman bagi keutuhan dan persatuan bangsa. Terlebih di tahun 2018 ini, kita memasuki tahun politik tentu tensi yang meningkat harus diredam dengan pesan-pesan persatuan.

Muhammadiyah-NU Dinilai Paling Serius Tangkal Terorisme
Diskusi dan Bedah buku "Deradikalisasi Terorisme, Menimbang perlawanan Muhamadiyah dan Loyalitas Nahdlatul Ulama, yang di Gelar di Aula Madya, UIN Jakarta, Kamis, (19/4/2018).


MONITORDAY.COM - Gerakan terorisme merupakan ancaman bagi keutuhan dan persatuan bangsa. Terlebih di tahun 2018 ini, kita memasuki tahun politik tentu tensi yang meningkat harus diredam dengan pesan-pesan persatuan. Demikian dikatakan peneliti Maarif Institut, Saifuddin Juhri dalam Acara Diskusi dan Bedah buku "Deradikalisasi Terorisme, Menimbang Perlawanan Muhamadiyah dan Loyalitas Nahdlatul Ulama, yang digelar di Aula Madya, UIN Jakarta, Kamis, (19/4/2018).

Menurut Juhri, dengan kondisi seperti itu, maka perlu adanya perhatian serius dalam menanggulangi problem sosial yang radikal menyangkut kemanusiaan tersebut. 

"Butuh perhatian agar kejadian kekerasan seperti terorisme tidak terulang kembali. Terlalu besar harga yang harus ditanggung untuk aksi terorisme," kata Zuhri.

Karena itu, Muhammadiyah dan NU selaku ormas Islam terbesar di Indonesia harus menjadi counter atas aksi-aksi yang cenderung mengatasnamakan Islam dalam setiap aksi dan gerakannya itu.

"Kita patut mengucapkan banyak terimakasih kepada kedua ormas terbesar di Indonesia Muhammadiyah dan NU, dua ormas tersebut menangkal paham radikal tidak perlu dipertanyakan lagi," ujarnya.

Karena menurut Juhri, Muhammadiyah dan NU cenderung mempunyai pengaruh politik. Yaitu keduanya bisa mempengaruhi perubahan kebijakan, termasuk kebijakan terkait penanggulangan terorisme.

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, Direktur Bersosialisasi Terorisme BNPT, Irfan Idris, Direktur SAS Institut, M. Imdadun Rahmat, juga Direktur Yayasan Jalin Perdamaian, Yudi Zulfahri.

Direktur Said Aqil Siradj (SAS) Institut, Imdadun Rahmat menyatakan, NU lebih serius dalam penanggulangan terorisme, dengan berdasarkan kesamaan cara pandang dengan pemahaman tentang terorisme itu sendiri.

Demikian juga Muhammadiyah, yang katanya selama ini sering kali dikaitkan dengan wahabisme, itu justru sebaliknya merupakan antitesa dari aliran yang disebut-sebut sebagai cikal bakal dari terorisme tersebut.

Menurut dia, kedua ormas tersebut mempunyai beberapa kesamaan, termasuk terkait terminologi jihad, dan hal lain menyangkut kekerasan dan penanggulangannya. Keduanya juga telah berjasa dalam membentengi aksi-aksi terorisme.

"Tau mana yang wajib dilakukan, mana yang sunah, mana dan mana yang tidak boleh dilakukan, termasuk juga terkait jihad, yang sering kali dibawa-bawa dalam aksi terorisme," ungkap Imdadun.

[Mrf]