Pakar Ini Dorong Adanya "TPS Mobile" di Pilkada

TPS mobile untuk para lansia dan penderita dengan banyak komorbid atau penyakit bawaan yang rawan jika terpapar COVID-19.

Pakar Ini Dorong Adanya
Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd. (ANTARA/Firman)

MONITORDAY.COM - Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19, Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd mendorong adanya Tempat Pemungutan Suara (TPS) "mobile" di Pilkada 2020 pada masa pandemi.

"TPS mobile untuk para lansia dan penderita dengan banyak komorbid atau penyakit bawaan yang rawan jika terpapar COVID-19," katanya di Banjarmasin, Sabtu (26/9).

Jika sistem TPS berjalan tersebut tak bisa diterapkan, maka Syamsul menyarankan tersedianya waktu tersendiri satu hari atau paling awal saat pemungutan suara sebelum jadwal warga lainnya datang.

Menurutnya, agar transmisi COVID-19 dapat terkendali seharusnya TPS-TPS khusus perlu juga disiapkan, antara lain TPS khusus orang dengan kontak erat, TPS khusus suspek, TPS khusus probable dan TPS khusus terkonfimasi positif COVID-19.

Sehingga sebelum masuk ke TPS, setiap pemilih disarankan dilakukan pengecekan suhu badan. Jika ada yang bersuhu badan lebih dari 37,5°C atau yang menunjukkan gangguan pernapasan diarahkan ke TPS khusus dengan sarana pengamanan yang lebih tinggi.

"Selama proses pemungutan suara nanti akan terjadi interaksi antar pemilihan maupun pemilih dengan petugas. Jika selama interaksi tidak dilakukan pemisahan antara pemilih sehat, suspek, probable maupun terkonfirmasi maka semakin meningkatkan transmisi COVID-19 di kelompok masyarakat," tutur

Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu.

Sedangkan untuk menekan kerumunan yang banyak, kata Syamsul, perlu pembatasan jumlah pemilih hanya 50% dari jumlah normal pemilih dalam satu TPS. Dengan pembatasan jumlah ini diharapkan konsistensi jaga jarak 1,5 meter dapat terjaga.

"Penerapan protokol kesehatan saja masih dianggap belum mampu untuk mencegah terjadinya transmisi COVID-19. Oleh karena itu, melalui pendekatan komprehensif ini diharapkan klaster pilkada dapat dihindari," pungkas pungkas pria yang menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya itu.