PDIP Usung Gibran sebagai Calon Wali Kota Solo Karena Pertimbangan Ini

Gibran memiliki modal sosial, politik, dan juga finansial yang memadai untuk menjadi Calon politik. Selain itu, ayah dari Jan Ethes ini juga dinilai memiliki kelebihan modal simbolik sebagai anak presiden.

PDIP Usung Gibran sebagai Calon Wali Kota Solo Karena Pertimbangan Ini
Politisi PDIP Andreas Hugo Pareira.


MONITORDAY.COM - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Andreas Hugo Pareira menampik kabar yang beredar bahwa pencalonan putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) yakni Gibran Rakabuming Raka dalam pemilihan wali kota Solo dalam rangka membangun dinasti politik.

Menurutnya, Gibran dipilih oleh partai dengan melalui pertimbangan yang matang, karena Ia memiliki beberapa faktor yang sejatinya harus dimiliki oleh kontestan pilkada.

Andreas menilai, Gibran memiliki modal sosial, politik, dan juga finansial yang memadai untuk menjadi Calon politik. Selain itu, ayah dari Jan Ethes ini juga dinilai memiliki kelebihan modal simbolik sebagai anak presiden.

"Modal simbolik ini yang tidak dimiliki semua orang. Anak presiden pasti selalu menarik bagi media," ujar Andreas, dalam diskusi daring Kopi Pahit bertajuk 'Pencalonan Gibran: Regenerasi atau Kompetensi?' Rabu (22/7).

"Nah, semua faktor ini akan menjadi akumulasi elektoral bagi kandidat, disamping dia juga punya kompetensi sebagai anak muda yang sukses, mandiri dan punya latar belakang pendidikan yang baik," lanjutnya.

Selain itu, anggota Komisi X DPR RI itu menilai pencalonan Gibran sendiri cukup menarik. Pasalnya sejak awal mendeklarasikan diri maju dalam kontestasi politik yang bersangkutan menjadi perhatian publik.

"Sejak ia masuk pentas, baru menyatakan niat saja, sudah jadi berita dan menarik perhatian publik. Bagi partai politik, ini memberi keuntungan sejauh bisa dikelola dengan baik. Kita buka-bukaan aja soal fenomena ini," kata dia.

Meski begitu, menegaskan bahwa Gibran belum tentu terpilih nantinya, karena hasil akhir akan berada ditangan rakyat. Menurutnya, di sistem demokrasi, calon politik dari keturunan orang yang tengah berkuasa bukan jaminan orang tersebut pasti akan terpilih. 

"Yang namanya gubernur, bupati, presiden, itu dipilih. Apakah sistem yang dipilih seperti sekarang Gibran karena kebetulan dia anak presiden kemudian kita katakan dinasti?," katanya.

Lebih lanjut, Andreas juga menegaskan bahwa di negara demokrasi, seorang anak presiden yang mencalonkan diri tidak lantas bisa menabrak semua prosedur yang ada, apalagi secara otomatis terpilih. "Saya kira tidak," tukasnya.