Peringati Hari Pers Nasional, Fadli Zon : Pers Indonesia Harus Kembali ke Khittahnya

Peringati Hari Pers Nasional, Fadli Zon : Pers Indonesia Harus Kembali ke Khittahnya
foto : dok. Faisal Ma'arif

 

MONITORDAY.COM - Wakil ketua DPR RI Fadli Zon memberikan pandangannya terkait kondisi pers saat ini, dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada hari ini.

Melalui ciutan panjang di akun twitternya @fadlizon beberapa saat lalu, Fadli menyatakan bahwa tantangan Pers di tahun politik saat ini sangat berbeda dengan dulu ketika zaman otoritarian. Ketika dulu pers intervensi oleh pemerintah, saat ini pemilik media yang memihak ke politisi.

“Kini, masalah yg dihadapi pers Indonesia bukan lagi represi, sensor, atau kontrol kekuasaan, tapi kendali dan pemihakan dari para pemilik media. Jadi, jika dulu demokrasi diintervensi oleh pemerintah, maka hari ini demokrasi telah dipermainkan oleh ‘dwifungsi pengusaha-politisi’.” ungkapnya.

Karena itulah menurut Fadli,  dalam situasi inilah, pers kemudian tidak lagi mudah mempertahankan independensinya. Jika tidak lagi independen, pers tentu akan kehilangan kredibilitasnya sebagai juru terang masyarakat.

Fadli memberikan contoh figur jurnalis yang independen, dan kritis terhadap pemerintah. Karena menurutnya tugas pers bukanlah menyanjung-nyanjung pemerintah, melainkan jadi corong rakyat, menyuarakan kebenaran.

“Dulu Mochtar Lubis disebut sebagai ‘wartawan jihad’ karena keberaniannya bersikap kritis terhadap kekuasaan. Baik terhadap Presiden Soekarno maupun kemudian terhadap Presiden Soeharto, Ia selalu bersikap kritis.” Lanjut Fadli.

Fadli menambahkan bahwa sejatinya Dulu, Media-media itu digunakan sebagai alat perjuangan, untuk membela kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan para pemilik modal.

Oleh karenanya, Wakil ketua partai Gerindra ini mengingatkan Jangan sampai kembali lagi kepada zaman keemasan pers kolonial dulu, yang sepenuhnya dikendalikan oleh para pemilik modal.

“Pada awal abad ke-20, Surat Kabar AID de Preanger Bode, misalnya, adalah juru bicaranya para pemodal yang menguasai perkebunan teh, karet, dan kina.”

Pada akhir ciutannya Fadli memberikan pesan kepada insan pers nasional agar kembali ke kittahnya sebagai pemberi kabar masyarakat.

“Saya ingin mengajak insan pers Indonesia untuk mengingat kembali khittahnya. Para jurnalis harus kembali ke barak & menjaga diri terhadap hegemoni kekuasaan. Menjaga kehormatan penanya. Karena pena jurnalis jauh lebih tajam dari sebilah pedang!” tutupnya.