Presiden Korsel dan Titipan Undangan dari Korut Untuk Paus

Presiden Korsel dan Titipan Undangan dari Korut Untuk Paus
Paus dan Presiden Moon Jae--In (c) CTVnews


MONITORDAY.COM - Salah satu kabar yang menjadi ulasan berbagai media dunia adalah undangan Kim Jong-un bagi Paus Fransiskus untuk berkunjung ke Korea Utara. Undangan itu dititipkan Jong Un melalui Presiden Korea Selatan Moon Jae-In.

Sebagaimana dilansir BBC.com Presiden Korea Selatan akan melakukan ke sejumlah negara di Eropa. Dan salah satu negara yang akan dikunjungi adalah Vatikan. Undangan yang disampaikan melalui Presiden Moon memiliki makna baik pada hubungan antara kedua negara di Semenanjung Korea maupun pada citra Korea Utara di mata komunitas internasional.    

"Selama pertemuan dengan Paus Fransiskus, [Tuan Moon] akan menyampaikan pesan dari ketua Kim Jong-un bahwa dia akan sangat menyambut Paus jika dia mengunjungi [ibukota Korea Utara] Pyongyang," juru bicara Moon, Kim Eui-kyeom, kepada wartawan.

Selama ini dunia internasional menilai bahwa tidak ada kebebasan beragama di Korea Utara. Termasuk bagi ummat Katholik. Gereja Katholik yang ada di Pyongyang tidak berafiliasi ke Vatikan dan berada dalam kontrol Pemerintah. Ummat yang menjalankan ibadah di luar ketentuan resmi Pemerintah negeri komunis itu mendapat sanksi dan persekusi.

Langkah Korea Utara yang melunak ini tentu akan mengubah citra Pemerintahan Diktator. Pencitraan yang dimungkinkan dalam bingkai Unifikasi kedua Korea yang secara formal masih berada dalam status berperang. Korea Utara yang nama resminya Democtaric People’s Republic of Korea (DPRK) mengklaim seluruh Semenanjung Korea adalah wilayahnya.

Jika lawatan Paus Fransiskus ke Korea Utara bisa terlaksana, hal itu akan menjadi sejarah tersendiri. Belum pernah ada Paus yang menginjakkan kaki di Pyongyang. Jumlah penganut Katholik di negeri yang tertutup itu diperkirakan antara 800 hingga 3.000 orang.

Pada tahun 2000, Kim Jong Il pernah mengundang Paus Yohannes Paulus II untuk mengunjungi Korea Utara. Undangan tersebut juga disampaikan melalui Presiden Korea Selatan sebagai bagian dari pembicaraan dalam KTT antara kedua negara.

Lawatan Paus Yohannes Paulus II ke Korea Utara belum juga terwujud kala itu. Sumber resmi Vatikan ketika itu menegaskan bahwa alasan penundaan adalah belum diterimanya Pastur Katholik untuk melayani ummat di Korea Utara secara resmi.

Dunia menunggu agar kondisi di Semenanjung Korea akan membaik. Hubungan Korea Utara dan pembicaraan antara Pemimpin Korea Utara dengan Presiden AS Donald Trump akan membuahkan hasil yang signifikan. Bukan sekedar komoditas politik yang didasari oleh kepentingan sesaat.