Prinsip Umum Meraih Surga Perspektif Al-Qur’an

Prinsip Umum Meraih Surga Perspektif Al-Qur’an
Ilustrasi Surga

MONITORDAY.COM - Kaum muslimin meyakini bahwa al-qur’an merupakan wahyu Alloh Subhanahu wata’ala yang di turunkan kepada Rosulullah Muhammad Shalallohu ‘alaihi wasalam melalui malaikat Jibril yang ber fungsi sebagai kabar gembira (bagi yang beriman padanya) dan peringatan (bagi yang mengingkarinya) yang diturunkan dalam lisan arab yang jelas (QS.26:192-195).

Otentisitas al-qur’an sangat terjaga karena dijamin oleh Alloh melalui firman-Nya:“Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan al-qur’an dan Kami yang menjaganya”(QS.15:9). Indikator otentisitas al-qur’an antara lain masih tertulis dalam bahasa aslinya yaitu bahasa arab. Dan, bahasa arab masih digunakan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat arab sampai saat ini. Disamping itu, dikalangan kaum muslimin cukup banyak orang yang hafal al-qur’an diluar kepala. Hapalan ini  bisa menjadi salah satu instrumen untuk mengoreksi kesalahan tulis atau cetak pada mushaf al-qur’an.  

Keberadaan al-qur’an merupakan pedoman bagi manusia, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang meyakininya (QS.45:20). Salah satu fungsi pedoman memberikan arah bagi manusia dalam menjalani kehidupannya sesuai dengan cita-cita yang di idam-idamkannya yaitu memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari penderitaan.

Konteks kebahagian bagi umat manusia memiliki relasi yang signifikan dengan kosa kata surga. Manusia dengan paham apapun theis, atheis, materialistis, agnostis dan lain sebagainya selalu mendambakan surga.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonersia (KBBI) dalam konteks keduniaan surga memiliki makna sebagai kenikmatan (kesenangan, kebahagiaan) yang diperoleh hanya selama masih hidup di dunia. Sementara dalam konteks keakhiratan -bagi manusia yang meyakini adanya hari akhir- surga memiliki padanan kata jannah yang bermakna alam akhirat tempat jiwa (roh) manusia mengenyam kebahagiaan sebagai pahala perbuatan baiknya semasa hidup di dunia.

Sesuai dengan paham yang dianutnya bagi kalangan atheis, agnostik, dan materialistik surga yang diidamkan berorientasi pada kenikmatan duniawi  semata (surgaloka). Berbeda dengan yang berfaham theis dan meyakini adanya hari akhir (yaitu yang meyakini bahwa semua amal perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia akan dipertanggung jawabkan dihadapan pengadilan ilahi di akhirat kelak) surga yang diidamkan berorientasi pada kenikmatan duniawi dan ukhrowi.

Kriteria surga menurut al-qur’an merupakan tempat yang aman dan penuh kenikmatan serta tidak dibatasi oleh waktu. Al-qur’an mendiskrisipkan keadaan di surga dengan gambaran didalamnya mengalir sengai-sungai dari berbagai jenis mata air, terpenuhi segala kebutuhan lahir seperti; makan, minum. sandang, pangan, papan, dan biologis serta tidak akan merasakan lelah untuk memperoleh kenikmatan itu. Terpenuhi pula kebutuhan bathin karena didalam surga tidak akan mendengar ucapan yang sia-sia kecuali ucapan yang penuh kedamaian dan kesejahteraan serta tidak akan menemukan perbuatan nista karena hilangnya segala rasa dendam dalam hati penghuninya. Gambaram mengenai suasana dan kondisi  surga ini tercantum antara lain dalam QS.15:45-48; QS. 44: 51-57; dan secara rinci jenis kenikmatan lahir dan bathinm di dalam surga didiskripsikan dalam QS. 56: 15-25.

Bagi yang meyakini adanya Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara ciptaan-Nya serta meyakini adanya hari akhir, cita-cita untuk memperoleh surga duniawi dan surga ukhrowi merupakan keniscayaan. Realitas ini tercermin dari do”a yang selalu dipanjatkan  kepada pemilik dan penguasa langit dan bumi dalam ucapan:”Ya Tuhan Kami berikanlah kepada kami kebaikan di di dunia dan dan kebaikan di akhirat”.

Menurut al-qur’an ada dua prisip umum yang menjadi pedoman untuk memperoleh surga dunia dan surga akhirat, yaitu: Jihad  dan Sabar. (QS.3:142).

Sejauh ini dikalangan masyarakat non muslim kata jihad memiliki konotasi yang mengerikan disebabkan adanya distorsi terkait dengan pemahaman kata jihad yang selalu di orientasikan dengan makna “perang”. Apalagi jika kata jihad di hubungkan dengan jalan Allah atau fi sabilillah sehingga kosa katanya menjadi “Jihad Fi Sabilillah”  tentu ungkapan ini  akan dipersepsi lebih mengerikan lagi karena melahirkan persepsi yang tidak sesuai dengan ajaran islam yang rahmatan lil alamin.

Dari segi bahasa, kata jihad dalam al-Qur’an berasal dari kata jahd dan juhd. Kata jahd biasanya diterjemahkan dengan sungguh-sungguh atau kesungguhan, letih atau sukar dan sekuat-kuatnya. Adapun kata juhd biasa diterjemahkan dengan kemampuan, kesanggupan, daya upaya, dan kekuatan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti jihad diartikan tiga kategori Pertama, jihad adalah usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan kedua, jihad merupakan usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa dan raga, dan ketiga jihad mengandung arti perang suci melawan orang kafir untuk mempertahankan agama Islam.

 

Makna jihad yang ke tiga menurut KBBI yaitu berperang di jalan Allah dengan tujuan untuk mempertahankan agama Islam sebenarnya merupakan pilihan terakhir yang dapat dilakukan ketika tidak ada lagi cara lain yang dapat ditempuh. Secara kontekstual berperang dijalan Alloh tidak dilakukan dalam bentuk agresi tetapi hanya dilakukan dalam upaya mempertahankan diri.

Untuk mengajak manusia ke jalan Alloh menurut al-qur’an prioritas utama yang harus dilakukan bukan melalui perang tetapi ditempuh dengan cara yang penuh hikmah (kearifan), melalui pelajaran yang baik, dan melalui perdebatan dengan cara yang terbaik. (QS.16:125)

Dari pengertian tersebut dapat dipahami, bahwa jihad fi sabilillah adalah bersungguh sungguh di jalan Alloh (dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya) dengan mengerahkan kekuatan baik tenaga, pikiran maupun harta untuk meraih cita-cita yang didam-idamkan sesuai dengan yang di kehendaki oleh Alloh Swt. Pada sisi lain, dipahami bahwa jihad pada umumnya mengandung resiko kesulitan dan kelelahan di dalam pelaksanaannya.

Salah satu contoh kongkrit bahwa  jihad fi sabilillah dalam rangka meraih surga duniawi dan surga ukhrawi bukan dalam pengertian perang melawan orang kafir ditegaskan oleh Rasululloh Saw dalam sebuah hadist: “siapa yang menempuh jalan dalam rangka memperoleh ilmu, Alloh akan memudahkan baginya jalan menuju surga” .

Ilmu menjadi bekal utama bagi manusia dalam menempuh perjalanan hidup untuk memperoleh surga duniawi dam surga ukhrowi. Hal ini dapat dikomfirmasi melalui apa yang telah di jelaskan dalam al-qur’an bagaimana Alloh Swt membekali Adam sebelum melaksanakan tugas sebagai khalifah di bumi (QS-2:31), juga ketika Allah Swt menyiapkan Muhammad sebelum melaksanakan tugas kerasulannya (QS.96:1-5) dan Allah Swt memberikan jaminan untuk mengangkat derajat orang yang berilmu diatas manusia lainnya (QS.58:11). Tetapi tentu saja ilmu tidak diberikan secara cuma-cuma oleh Allah Swt kepada manusia, diperlukan kesungguhan atau jihad fisabililaah untuk meraihnya.

Kesungguhan atau jihad fisabilillah semata belum cukup memadai untuk memperoleh ilmu sebagai jalan untuk meraih surga duniawi dan surga uhrawi. Perjalanan untuk meraih surga akan penuh dengan hambatan dan rintangan baik dalam bentuk kesengsaraan, penderitaan, dan kegoncangan jiwa. (QS.2:214). Oleh karena itu untuk memperoleh surga diperlukan sikap sabar.

Kata sabar dalam bahasa arab mengadung arti menahan diri, tabah, dan bertahan. Arti sabar menurut al-qur’an dimaknai sebagai mendahulukan perintah Allah ketika dorongan hawa nafsu mendesak. Makna sabar dalam perspektif al-qur’an ini salah satunya tersirat dalam QS. 37: 102.

Melaksanakan perintah Alloh untuk menuntut ilmu, berbuat ikhsan, mengajak kepada  kebaikan, dan melarang untuk melakukan kemungkaran sebagai upaya untuk meraih surga duniawi dan surga ukhrawi dengan sendirinya memerlukan pengorbanan waktu, harta, jiwa, dan raga. Jihad fisabilaillah merupakan prinsip utama yang harus menjadi pedoman.

Ketika melaksanakan perintah Allah dalam rangka menuntut ilmu, berbuat ikhsan, mengajak kepada kebaikan tidak akan terbebas dari hal-hal yang dapat membuat kita menderita, terancam, dan tegoncang jiwa sebagai respon dari lingkungan sekitar. Sikap Sabar yaitu mendahulukan perintah Allah ketika hawa nafsu mendesak merupakan prinsip utama berikutnya yang harus menjadi pedoman.

Jihad Fisabilillah dan Sikap Sabar dalam menjalani hidup untuk meraih suga duniawi dan surga ukhrawi ibarat dua sayap pada seekor burung yang menjadi instrumen untuk terbang, atau ibarat dua sayap pada pesawat terbang yang dapat menjaga keseimbangan, atau dua sisi mata uang yang menjadikanya berharga. Wallahu’alam bi showab