Resmikan Gedung Ir. H. Djuanda UMC, Prof Haedar Nashir: UM Cirebon Jadi Pusat Peradaban Ilmu

Resmikan Gedung Ir. H. Djuanda UMC, Prof Haedar Nashir: UM Cirebon Jadi Pusat Peradaban Ilmu
Ketum PP Muhammadiyah, Prof . Dr. Haedar Nashir (Dok: Istimewa)

MONITORDAY.COM - Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) dengan berbagai capaiannya sangat potensial menjadi center of progress dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. 

Terlebih dengan kehadiran Gedung Ir. H. Djuanda UMC, peradaban keilmuan yang dicita-citakan kian kokoh, karena basisnya adalah dinul hadharah, agama kemajuan atau peradaban.

Demikian tausyiah pembuka Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si, pada acara Peresmian Gedung Ir. H. Djuanda UMC dan Taushiyah Pra Muktamar Muhammadiyah ke 48, Jumat (19/8/2022).  

"Muhammadiyah hadir sejak awal ingin mewujudkan Islam sebagai dinul hadharah, Islam yang membawa pada kemajuan peradaban. Saya ucapkan selamat atas rampungnya pembangunan Gedung Ir. H. Djuanda ini. Kehadiran gedung ini tentunya memperkuat tonggak peradaban nilai," kata Prof Haedar.

Selanjutnya, Prof Haedar menjelaskan, Islam sebagai agama peradaban yang dimulai oleh Nabi Muhammad di Madinah sebagai agama yang selalu bergerak dinamis, mencerahkan  dan senantiasa menampilkan keunggulannya, baik akhlak serta pengetahuan yang modern. 

Untuk itu, Muhammadiyah terus bekerja keras membangun pilar kemajuan di seluruh pelosok nusantara, bahkan juga ke manca negara. 

Misalnya Muhammadiyah Boarding School di Melbourne Australia, Universitas Muhammadiyah Malaysia, dan Gedung Dakwah serta Lembaga Pendidikan Muhammadiyah di Mesir, termasuk Gedung Juanda ini adalah  wujud komitmen Muhammadiyah membangun peradaban Islam yang maju dan bisa berkonstribusi bagi dunia.

Prof Haedar mengimbau kepada seluruh civitas akademika UMC bahwa tugas Muhammadiyah adalah menghadirkan pusat keadaban yang basisnya adalah kejujuran, uswah khasanah, miliki etika moral dan menghargai nilai-nilai luhur.

Selain itu, tutur Prof Haedar, UMC harus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, tidak boleh menjadi menara gading yang melihat kemegahan dari atas namun jadilah menara air yang senantiasa memberikan asupan gizi berupa ilmu yang bermanfaat kepada warga.

Selanjutnya, Prof Haedar mengajak mahasiswa UMC agar menguasai iptek, membangun tradisi ilmiah, tidak hanya tekstual tapi intelektual yang ulul albab.

Dari pemaknaan tersebut, kemudian memunculkan berbagai konsep seperti tafakkur, tadabbur dan lainnya yang menuntun umat untuk menjadi pribadi yang berpikir. 

" Untuk para aktivis mahasiswa dan mahasiswiku, jadilah aktivis yang memiliki ilmu  pengetahuan, jadi tunas cendekia," terang Prof Haedar.

Senada dengan Prof Haedar, Rektor UMC, Arif Nurudin mengatakan, selesainya pembangunan gedung Ir. H. Djuanda menjadi kado spesial di HUT RI Ke-77.

Arif juga menegaskan, UMC terus berupaya membangun pusat keunggulan baik di infrastruktur SDM dan bangunan.

Rektor Muda ini juga memastikan, UMC tetap konsisten menjaga keunggulannya saat pandemi melanda, justru masa sulit itulah satu-satunya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) terbaik di Cirebon ini mendulang hibah.

Belum lagi, prestasi non-akademik dan jumlah Dosen yang bergelar Doktor pun bertambah. 

"Dalam perjalanannya, UMC melakukan transformasi sehingga mendapatkan banyak apresiasi. Alhamdulillah, di usia UMC yang bakal menginjak 23 tahun, pusat keunggulan telah terlihat baik di SDM juga di infrastruktur bangunan," ucap Arif yang juga didampingi oleh Nana Trisovelna M.T (Wakil Rektor 1 UMC) Dr. Badawi (Wakil Rektor II) dan Wiwi Hartati, S.Kom,. M.Si (Wakil Rektor III). 

Turut pula hadir Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMC, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D.

Keunggulan UMC terlihat dari achievement, dimana PTM di Kabupaten Cirebon ini  berhasil meraih peringkat pertama sebagai PTMA terbesar di Jawa Barat dan Banten, ranking ke-22 dari 172 PTMA Nasional dan bertengger di 196 terbaik dari 4500 Perguruan Tinggi Se-Indonesia.

Bagi Arif, kehadiran gedung Ir H. Djuanda bakal menjadi legacy dari rangkaian sejarah UMC yang terus dikenang. Sama halnya dengan ketokohan Djuanda, sang pahlawan dengan gagasan brilian yang merupakan tokoh Muhammadiyah.

Djuanda merupakan sosok luar biasa: pendekar dengan 1.000 jabatan, pendidik, pejuang, perencana dan manajer yang handal, superteknokrat, piawai mengemban tugas-tugas berat. 

Salah satu legacy pahlawan kelahiran Tasikmalaya, 14 Januari 1911 adalah deklarasi Djuanda yang memberikan informasi kepada negara luar bahwa wilayah laut sekitar yang berada dalam wilayah kepulauan Indonesia menjadi wilayah kesatuan dan kedaulatan NKRI. 

"Kiranya, torehan prestasi Ir. H. Djuanda itu kembali terlahir di waktu kekinian berupa Gedung Ir H. Djuanda UMC yang merupakan rahimnya peradaban ilmu. Dari kampus inilah, pemimpin nasional bahkan dunia bakal dilahirkan," pungkas Arif.