SDI Cikal Harapan Bangun Karakter Siswa Lewat Ekstrakulikuler

Kegiatan Ekskul di SDI Cikal Harapan dalam praktiknya tak hanya sekedar kegiatan transper ilmu saja. amun ada tahapan-tahapan pembelajarannya yang selalu diarahkan kepada pembentukan karakter siswa (character building).

SDI Cikal Harapan Bangun Karakter Siswa Lewat Ekstrakulikuler
Kegiatan upacara bendera Ekskul Pramuka di lapangan SDI Cikal Harapan, Serpong, Tangerang Selatan.


Keberadaan kegiatan ekstrakulikuler di sekolah sejatinya sebagai wadah pelatihan kemandirian dan kecakapan siswa dalam upaya pembentukan karakter. Karena itu Ekstrakulikuler (Ekskul) bukan hanya sekedar pengembangan dan penelusuran minat dan keterampilan saja. Lebih dari itu, juga harus memfasilitasi pengembangan sikap sosial anak-anak dalam bermasyarakat. Hal ini dikatakan, Kepala Sekolah Dasar Islam (SDI) Cikal Harapan I BSD, Erfi Fitri Susari, S.Ag, saat ditemui di ruang kantornya, di Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

 “Buat kami ekskul itu aplikasi yang relatif punya kemandirian. Tidak perlu diajak oleh guru. Siswa benar-benar melakukan sosialisasi dengan teman-teman lintas kelas. Seperti ekskul pilihan, kan anak-anak memilih. Jadi kelas 1 bisa bergabung dengan kelas 3, dan seterusnya. Itu kan sudah menjadi wadah anak-anak bersosialisasi,” katanya kepada Monitorday.Com.

Ia menambahkan, mendorong siswa agar mengikuti Ekskul sangat penting dilakukan agar terbiasa bersosialisasi dengan lingkungan. Untuk mewujudkan itu, pihak sekolah membuat strategi dengan menjadikan Ekskul sebagai syarat kenaikan kelas. Hal ini dilakukan, karena kegiatan ekskul di SDI Cikal Harapan dalam praktiknya tak hanya sekedar kegiatan transper ilmu saja. Namun ada tahapan-tahapan pembelajarannya yang selalu diarahkan kepada pembentukan karakter siswa (character building).

“Strateginya, kami jadikan ekskul pilihan ini sebagai kriteria kenaikan kelas. Karena, ekskul ini bukan sekedar melatih keterampilan, tapi menjadi pendukung anak-anak bersosialisasi. Orang tua siswa juga mendukung, bahkan anak-anak banyak memilih eksul pilihan lebih dari satu,” tutur Erfi.

Strategi ini yang membuat SDI Cikal Harapan kerap meraih prestasi. Tentunya dibarengi dengan fasilitas dan kualitas tim pengajar ekskul yang mumpuni. Keseriusan mengikuti dan mendalami ekskul, ternyata mampu mengantarkan siswa mengharumkan nama sekolah di setiap ajang lomba baik di tingkat lokal maupun tingkat nasional. Hal ini tentu tak lepas dari peran sekolah yang selalu mendukung penuh para siswa berkompetisi di ajang-ajang bergengsi.

Seperti prestasi tertinggi yang pernah diraih SDI Cikal Harapan lewat Pramuka. SDI Cikal Harapan pernah didaulat mewakili Provinsi Banten dalam lomba gugus unggul pertama tingkat nasional. Tak hanya pramuka, banyak juga prestasi yang diraih para siswa dalam ajang bergensi lainnya. Seperti ekskul tari yang sering berpartisipasi di tingkat provinsi. Lomba senam ritmik dalam ajang O2SN, SD Cikal berhasil mengikuti ajang ini hingga 2 (dua) kali tingkat nasional dan mendapatkan juara harapan I di Yogjakarta. Selain itu, siswa juga berhasil sampai tingkat nasional lewat lomba mewarnai. Masih banyak prestasi-prestasi lainnya, seperti karate yang sudah sampai tingkat kota dan juga sepak bola (mini soccer) yang meraih juara III di tingkat nasional, dan lain sebagainya.

 

Dari Pramuka Hingga Sinematografi 

Seperti halnya visi SDI Cikal Harapan, setiap kegiatan ekskul yang paling penting harus mengarah kepada pembentukan karakter. Siswa diharap dapat menjadi anak yang mandiri, punya kecerdasan sosial, dan juga memiliki kepedulian yang tinggi (Charity). Pihak sekolah meyakini bahwa setiap pendidikan harus membentuk karakter, kemandirian, dan kepedulian. Visi kepedulian inilah yang menjadi target utama di SD Cikal Harapan.

“Jadi saya sampaikan, kita harus secara terstruktur tidak memaksa tapi membiasakan anak-anak peduli. Jadi ada penekankan di sisi kepedulian. Adapun prestasi itu buah dari proses, yang akhirnya mengalir jadi budaya anak-anak,” ujar Erfi.

Prestasi yang diraih dari pramuka teladan, sejatinya adalah buah dari kepedulian sosial para siswa. Pada mulanya hati siswa tergerak ingin membantu korban gempa dan tsunami yang saat itu melanda Banten. Mereka lalu inisiatif membuka donasi dan berhasil mengumpulkan dana yang cukup besar hanya dalam jangka waktu beberapa hari saja. Hasilnya kemudian mereka salurkan kepada para korban bencana.

Tak kalah menarik adalah ekskul sinematografi. Ekskul ini bisa dibilang paling unik karena setiap tahun para siswa menghasilkan karya berupa film. Ekskul ini juga menjadi contoh bagaimana siswa diarahkan untuk lebih peka terhadap kepedulian (charity). Karya yang mereka buat itu ditampilkan seperti bioskop kecil di aula sekolah. Sementara para siswa lainnya yang ingin menonton dikenakan biaya tiket masuk. Hasil dari uang tiket itu kemudian donasikan kepada teman-teman panti asuhan.

Prestasi yang membanggakan dari ekskul ini adalah menjuarai lomba film pendek yang diadakan Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Tak hanya menyabet juara, siswa yang menjadi sutradara film ini akhirnya diajak oleh Menteri Siti Nurbaya dalam sebuah acara di Maroko.

“Jadi mereka satu tahun bisa produksi enam film. Prestasi saat itu, kita menang pembuatan film pendek yang diadakan Pemkot, kemudian didengar oleh kementerian, akhirnya siswa kita yang jadi sutradaranya, diajak ke Maroko oleh Bu Siti Nurbaya,” paparnya.

Sinematografi tergolong ekskul pilihan yang spesial. Para siswa yang mengikuti ekskul ini biasanya banyak meluangkan waktunya untuk pembuatan film di luar jam sekolah. Talullah Aaliyah Kamil (11) siswi kelas V ini berbagi pengalaman selama mengikuti ekskul sinematografi. Ia mengaku tertarik mengikuti sinematografi karena rasa penasarannya terhadap proses kreatif pembuatan film.

“Saya ingin coba aja, cari tahu gimana sih buat film itu gimana sih,” kata siswa yang akrab disapa Lula ini.

 

Sejak mengikuti ekskul sinematografi, Lula akhirnya mengetahui bagaimana pembuatan film itu berlangsung. Ia juga belajar banyak tentang pembuatan naskah yang benar dan cara berakting yang baik. Bagi Lula, yang paling berkesan adalah saat dirinya dipilih menjadi pemeran dalam proyek film yang berkisah tentang drama sekolah.

“Yang paling berkesan itu belajar akting, jadi diajarin tentang bagaimana actingnya, biar gak tegang, biar natural. Waktu main film, saya kebagian sebagai jadi pemain.,” ujarnya.

Siswa kelahiran Bandung 18 Septeber 2008 ini bersyukur saat dirinya dipercaya menjadi pemeran film oleh sutradara. Ia merasa senang diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat yang ia punya. Apalagi hasil film tersebut bisa ditonton oleh banyak orang di aula sekolah. Lula berharap film tersebut bisa menginspirasi sekaligus menghibur terutama teman-teman panti asuhan yang saat itu hadir.

“Rasanya senang dan bahagia sekali. Saat itu mengundang panti asuhan juga. Karena kita jual tiket, hasil dari uang itu kita pakai buat Charity untuk teman-teman panti asuhan,” ujarnya