Shamsi Ali Ajak Publik Sikapi Hagia Sophia dengan Bijak

Presiden Nusantara Foundation Amerika Serikat, Shamsi Ali menilai kebijakan Erdogan mestinya ditanggapi secara bijak.

Shamsi Ali Ajak Publik Sikapi Hagia Sophia dengan Bijak
Presiden Nusantara Foundation Amerika Serikat, Shamsi Ali

MONITORDAY.COM - Konversi Museum Hagia Sophia ke Masjid menyedot perhatian dunia di masa pandemi ini. Banyak di antara umat Islam begitu senang dan bahagia terkait perubahan tersebut.  Namun tidak sedikit yang kontra dan mengutuk keras kebijakan Presiden Turki.

Presiden Nusantara Foundation Amerika Serikat, Shamsi Ali  menilai kebijakan Erdogan mestinya ditanggapi secara bijak.

" Sebagai seorang Muslim, dirinya mengaku senang dan bahagia melihat Hagia Sophia kembali menjadi sebuah masjid. Apalagi jika perubahan musium ke masjid itu dikait-kaitkan dengan ikatan emosi kemenangan Al-Fatih melawan tentara Bezantium yang hebat saat itu," ujarnya melalui pesan tertulis kepada monitorday.com, senin (14/7/2020)

Menelisik ke sejarah, Hagia Sophia diketahui adalah bekas sebuah gereja terbesar (Katedral) untuk Umat Kristen Bizantium dari tahun 537-1055. Lalu dari 1054 hingga tahun 1204 dirubah menjadi gereja Ortodoks Yunani. Pada tahun 1204-1261 gereja ini diambil alih oleh Agama Katolik Roma. Dari dari tahun 1261 hingga 1453 gereja ini kembali menjadi Katedral Kristen Ortodoks Yunani. 

Dibawah komando Al-Fatih Sultan Mehmed II, Kota Konstantinopel jatuh ke tangan Ottoman Empira (Khilafah Utsmaniyah) pada tahun 1453.  Sejak itu gedung gereja ini dirubah menjadi masjid yang lebih dikenal dengan nama Aaya Sophia mosque.

Belakangan dengan jatuhnya Ottoman Empira atau Khilafah Utsmaniyah menjadikan Turki terjatuh ke dalam kekuasaan Kemal Ataturk yang sekuler. Maka di bawah pemerintahannya masjid Aaya Sophia kembali mengalami perubahan status dari sebuah masjid megah menjadi museum hingga Juli 2020 ini. 

Di tahun-tahun terakhir inilah Turki kembali dipimpin oleh politisi-politisi yang sadar agama, termasuk Erdogan yang dianggap oleh sebagian Muslim sebagai simbol kepahlawanan Umat terhadap berbagai ketidak adilan dunia.

Di bawah pemerintahan Erdogan kini gedung bersejarah ini akan kembali mengalami perubahan status. Konon kabarnya Pemerintahan Erdogan melalui proses di pengadilan memenangkan untuk merubah Hagia Sophia dari sebuah musium menjadi masjid kembali seperti di zaman keemansan Khilafah Utsmaniyah. 

Rencana itu tentunya mengundang ragam reaksi dunia. Umat Islam pastinya seperti yang diperkirakan (expectable) umumnya senang, bahagia dan memuji keputusan pemerintahan Erdogan itu. Sampai-sampai ada yang menyandingkan Erdogan dengan Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel. 

Rencana konversi itu seolah menyimbolkan kemenangan Turki dan Islam saat ini dalam menaklukkan kekuatan sekularisme dunia, minimal di Turki. Bahwa dengan menjadinya Hagia Sophia sebagai masjid seolah Islam berjaya mengalahkan kekuatan sekularisme. 

Selain suara negatif dari UNESCO, Pimpinan Katolik dunia (Paus Fransis) juga menyampaikan pernyataan sikap “menyayangkan” dengan kata “merasa sakit” (pained) dengan konversi gedung tersebut dari sebuah museum menjadi sebuah masjid.

Dunia Barat, dan banyak tokoh-tokoh agama dunia menyuarakan bahwa konversi ini kembali bisa merenggangkan hubungan antar pemeluk agama dunia. 

Terlepas dari gonjang-ganjing dukungan atau resistensi itu, Shamsi kemudian mencoba merenungkan kembali tentang konversi ini. Perenungannya lebih banyak didorong oleh kenyataan bahwa Umat saat ini sedang terlibat dalam kompetisi yang sengit dalam membangun imej dan persepsi. 

Selain isu persepsi, tentu sebagai Muslim sebuah isu itu sangat mendasar untuk dilihat dari perspektif agama atau Syariah itu sendiri. Bagaimana sesungguhnya status rumah-rumah ibadah dalam konteks peperangan? Dapatkah rumah-rumah ibadah dijadikan sebagai bagian dari harta rampasan perang? 

Rumah-rumah Ibadah dalam peperangan 

Shamsi ingin memulai dengan melihat kembali  posisi Syariah dalam menyikapi rumah-rumah ibadah, khususnya dalam konteks harta rampasan atau ghanimah. Hal ini karena sebagian mengambil kesimpulan bahwa gedung Hagia Sophia ini merupakan bagian dari harta rampasan (ghanimah) pemenang perang Byzantium ketika itu yang dikomandoi oleh Al-Fatih Sultan Mehmed II. 

Tidak sampai disitu, Shamsi kemudian  mencoba mencari dalam beberapa rujukan buku-buku Fiqh tentang status rumah-rumah ibadah dalam peperangan, apakah masuk dalam kategori obyek yang menjadi bagian dari harta rampasan pemenang perang? Atau rumah-rumah ibadah justeru memiliki status yang berbeda? 

Dari penelusuran itu. Shamsi  hampir  tidak menemukan jawaban yang pasti. Maka kemudian , Dia merujuk pada  Al-Quran, As-Sunnah, maupun sirah Rasulullah maupun khulafa Ar-Rasyidin. Dari penelusuran singkat dan sederhana itu, Dia  menyimpulkan sebagai berikut:

Satu, ayat ayat Al-Quran mengingatkan bahwa dalam peperangan rumah-rumah ibadah dilarang untuk dirusak (lihat Al-Hajj: 40). Hal ini tentunya untuk menjaga hak agama lain. Kalau disentuh/dirusak saja dilarang, bagaimana dengan merampasnya (dijadikan harta rampasan)? 

Dua, bahwa Rasulullah SAW dalam peperangan secara khusus melarang mengganggu/menyakiti mereka yang beribadah. Maka pastinya larangan  gangguan di sini termasuk larangan mengambil alih rumah ibadah mereka.

Tiga, sejarah membuktikan bahwa bahwa para sahabat yang melakukan penaklukan, baik di Timur maupun di Barat, justru tidak mengambil alih rumah-rumah ibadah orang lain ketika menaklukkan negeri tertentu. Contoh-contoh itu dapat ditemukan dalam sejarah Islam. Lihat misalnya sejarah penalukkan negeri Syam di bawah pemerintahan Umar Ibnu Khattab. 

Empat, juga karena agama ini meyakini apa yang disebut “religious freedom” (kebebasan beragama) bagi semua pemeluk agama. Pastinya, kebebasan beragama juga mengikat jaminan bagi mereka untuk memiliki rumah-rumah ibadah. 

Karenanya, ketika sebuah negeri ditaklukkan oleh pasukan Islam, penduduk negeri itu tidak dipaksa memeluk Islam berdasarkan “laa ikraaha fid diin” (tiada paksaan dalam agama), karena mereka tetap dalam agama mereka.  Maka logikanya, rumah ibadah mereka juga tetap dijamin eksistensinya.

Itulah beberapa pertimbangan syar’i dalam menyikapi status rumah-rumah Ibadah dalam peperangan, termasuk dalam pembahasan harta rampasan. 

Perang persepsi 

Selain isu Syariah tentunya kita juga diingatkan kembali bahwa saat ini Umat sedang dalam peperangan sengit (state of war). Peperangan itu bukan perang nuklir atau atom. Tapi peperangan persepsi atau imej yang telah lama dilancarkan kepada agama dan Umat ini. 

Terlepas dari status legal dari Hagia Sophia, masyarakat Internasional pastinya akan menangkap ini sebagai peluang besar untuk membidik sasaran (targeting) Islam. Bahwa selama ini Islam dipersepsikan sebagai agama yang memaksakan kehendak, memaksa orang lain untuk memeluknya, bahkan merampas hak-hak orang lain. 

Mereka yang memiliki itikad buruk itu tak akan pernah peduli dengan status hukum, bahkan akan menutup mata terhadak status kepemilikan dari gedung Hagia Sophia itu. Target mereka hanya satu. Yaitu Islam adalah agama yang tidak menghormati agama lain dan selalu ingin menang sendiri. 

Konsekwensi selanjutnya, berhati-hati dengan komunitas Muslim di negara-negara mayoritas non Muslim. Karena ketika mereka berada pada status mayoritas mereka akan mengambil alih kepemilikan non Muslim, termasuk rumah-rumah ibadah minoritas. 

Shamsi pun teringat perjuangan teman-teman Komunitas Muslim Indonesia di Belgia membeli gedung untuk dijadikan sebuah masjid. Semua telah siap, termasuk dana dan gedungnya. Tiba-tiba saja transaksi itu dibatalkan oleh otoritas. Semua ini menjadi bagian dari ketakutan (Phobia) akan kebangkitan Islam dengan persepsi tadi.

Konversi gedung Hagia Sophia ini juga pastinya akan dijadikan justifikasi bahkan bukti bagi mereka yang memiliki mata negatif kepada agama ini bahwa benar Umat Islam itu tidak akan pernah menghargai hak orang lain. Sekali lagi apakah mereka sadar atau tidak, tentang status legal kepemilikan gedung tersebut. 

Shamsi juga menilai merubah gedung Hagia Sophia ini menjadi masjid nampaknya dari sudut perang persepsi kurang menguntungkan. Bahkan mudharatnya jauh lebih besar ketimbang manfaatnya. 

Saat ini manfaatnya hanya untuk dipakai ibadah oleh Umat Islam. Tapi benarkah itu dapat menjadi alasan Yang mendasar? Karena hanya beberapa meter dari gedung itu berdiri masjid Hijau (Blue Mosque) yang megah. 

Manfaat lain sesungguhnya hanya terkait dengan emosi Umat. Bahwa Hagia Sophia adalah simbol kemenangan Islam atas Kristen Bizantium ketika itu. Dan karenanya konversi gereja menjadi masjid saat itu merupakan simbolisasi kemenangan . Simbol kemenangan Islam atas sekularisme Turki. 

Tapi benarkah hal ini esensial untuk sebuah kemenangan? Dia tidak terlalu yakin dengan simbol-simbol yang terkadang jauh dari substansi Sesungguhnya. Saya tidak terlalu yakin dengan konversi gedung itu akan menjadikan Umat ini semakin jaya, mulia, dan menang. 

Sebaliknya Shamsi  justru khawatir ini menjadi alasan bagi dunia untuk semakin menekan pemerintahan Erdogan untuk tujuan yang lebih besar, yaitu kembali meruntuhkan capaian-capaian besar Erdogan selama ini. 

"Kita akui bahwa secara domestik Erdogan sangat berhasil mengembalikann wibawa Islam di negeri bekas pusat kekuasaan Khilafan Utsmaniah (Ottoman Empire) itu. Islam kembali menjadi wajah pembangunan negeri itu. Kalau hal ini saja dipertahankan bahwa diperkuat, akan lebih bermakna ketimbang konversi sebuah gedung," tambahnya,.

Apalagi dalam konteks Timur Tengah. Saat ini tidak ada lagi negara Islam kecuali telah berada dalam cengkeraman bangsa kuat lainnya. Dan kecurigaannya,  konversi ini bisa dijadikan bagian dari alat tekanan kepada Erdogan yang sama ini semakin menjadi-jadi. 

Wakaf Sultan Al-Fatih 

Asumsinya, jika memang gedung itu pernah diambil alih sebagai rampasan melalui kemenangan dalam peperangan. Semua itu masuk dalam pembahasan ruang lingkup pembahasan yang terbuka untuk dikritisi. 

Tiba-tiba saja dalam dua tiga hari ini  Dia  menemukan postingan yang mengatakan bahwa Sesungguhnya gedung Hagia Sophia yang ketika penaklukkan Bizantium ternato masih merupakan katedral Umat Kristen, justeru memang telah dibeli oleh Sultan Al-Fatih Mehmed II secara pribadi, yang kemudian mewakafkan gedung itu untuk dijadikan sebuah masjid, sekaligus  berubah nama dengan Aya Sophia mosque. 

Bukan rampasan tapi melalui transaksi

Jika informasi ini akurat dan memang dapat dibuktikan, dan nampaknya demikian, maka pastinya secara legal pengubahan gedung itu dari musium menjadi masjid tidak akan bisa dipermasalahkan (unchallenged). Karena realitanya memang milik Umat sebagai wakaf dari Sultan ketika itu. Bukan rampasan. Tapi memang berubah kepemilikan melalui transaksi pembelian. 

Selain itu tentunya juga karena gedung itu memang telah menjadi bagian dari negara Turki, yang secara hukum apapun, memiliki hak penuh untuk menggunakannya sesuai keinginan dan kepentingannya. 

Masalahnya kemudian apakah bijak bersikap acuh dengan kekhawatiran-kekhawatiran orang lain? Apalagi dalam konteks dunia global di mana semua manusia seolah menyatu dalam segala permasalahan yang dihadapinya. 

Hal yang paling penting dan perlu disadari bahwa sebuah aksi atau kebijakan di sebuah tempat (negara) dalam dunia yang hampir tiada batas-batas lagi, pastinya akan berdampak di tempat (negara) lain. Itulah realita dunia saat ini yang interconnected (saling bergantung). 

Karenanya kebijakan konversi museum itu menjadi masjid akan berdampak pula kepada kerja-kerja Dakwah dan eksistensi Umat di negara lain, khususnya di negara-negara mayoritas non Muslim. 

"Sekiranya saya punya hak suara, saya  justru lebih cenderung melihat gedung itu tetap sebagai museum, tetapi menjadi bagian dari pengelolahan masjid Biru (Blue Mosque). Selain tetap menjaga persepsi kelapangan dada Umat ini, sekaligus secara cerdas telah mengambil alih kembali kepemilikannya sebagai bagian dari masjid," tambahnya.

Dia ingin akhiri dengan argumentasi sebagian Umat Islam yang mengatakan bahwa Umat punya hak merubah gedung itu menjadi masjid karena Umat Kristiani merubah semua masjid-masjid megah di Spanyol menjadi gereja. 

Kepada mereka yang pro dan kontra, Islam tidak mengajarkan membalas keburukan atau kesalahan dengan keburukan dan kesalahan. “Iffa’ billati hiya ahsan” (responlah dengan cara terbaik) tetap menjadi dasar moral Umat dalam menyikapi sebuah itu. 

"Atau benar apa yang pernah Michelle Obama katakan: “when they go low, we go high," pungkasnya.