Sikapi Dinamika, Pemuda Sejatinya Berperan Bukan Baperan

Peran Pemuda dalam memajukan bangsa sangat dinantikan bukan yang "baperan" .

Sikapi Dinamika, Pemuda Sejatinya Berperan Bukan Baperan
Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Cirebon,Bagus Nurul Imam M.Pd di diskusi Virtual Kopi Pahit Sumpah Pemuda.

MONITORDAY.COM - Pemuda sepatutnya berperan bukan "baperan" bagi bangsanya. Apalagi, tidak melakukan penguatan kapasitas dan mudah terbawa arus sehingga kecendrungannya mengambil kesimpulan dan ikut menyalahkan dinamika yang terjadi.

Tipologi pemuda masa depan, pikirannya berkemajuan dan selalu melakukan ijtihad kebaikan dalam segala hal. 

"Dikit-dikit baper, udah gak zaman. Bukan tampangmu yang membuatmu dikenang. Bukan ucapanmu yang membuatmu bijak. Tapi pergerakanmulah yang membuatmu bermakna," ucap Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Cirebon,Bagus Nurul Imam M.Pd di diskusi Virtual Kopi Pahit Sumpah Pemuda bertajuk "Pemuda dan Masa Depan Bangsa" Minggu (1/11/2020).

Lahirnya gerakan pemuda Indonesia, kata Bagus, berawal dari kebijakan politik etis dan pandangan yang sama dari berbagai pemuda Bangsa yang menyadarkan orang-orang pribumi terhadap negeri yang mereka tempati. 

Kemerdekaan kini sudah dirasakan. Bonus demografi dan rentetan fakta yang membawa negeri ini sedang memasuki era globalisasi,  dimana serba keterbukaan informasi dan kemudahan akses teknologi bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan apalagi dipertanyakan.

Tak dipungkiri, fakta empiris ini menciptakan mobilitas tinggi dan interaksi tanpa batas jarak, waktu maupun negara. Beda zaman, beda pula tantangan yang dihadapi oleh Indonesia. 

"Kalau dulu para pahlawan kita memberantas penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan. Kini tantangan yang dihadapi pemuda bervariasi. Mulai dari derasnya arus informasi, daya saing tenaga kerja yang ketat, hingga kemajuan teknologi yang bisa menggantikan manusia," jelasnya. 

Pemuda adalah agen perubahan (agent of change) yang berjanji pada dirinya untuk melanjutkan bakti bagi negeri. Pemaknaan sumpah pemuda itu pada karya yang dihadirkan sehingga masyarakat yang berada disekelilingnya bisa merasakan kebermanfaatan yang dihasilkannya.

" Jangan asal teriak, saya pemuda, saya pancasila, saya indonesia, saya nasionalis. Apalagi mengklaim dirinya paling benar dan paling cinta tanah air dan bisanya cuma menyalahkan orang lain yang bukan dari kelompoknya.  Setelah itu apa?  Tapi Bangsa ini menantikan karya real," imbuh Bagus.

Bagus yang juga Ketua lembaga pengembangan kurikulum pembelajaran (LPKP) UMC mengungkapkan,  ada empat hal penting yang perlu menjadi catatan bagi pemuda di era digital ini.

Pertama, penguatan literasi

Sebagai seorang muslim, iqra (bacalah) dalam islam adalah tonggak bersejarah dimulainya peradaban Islam yang gemilang. Membaca literasi atau buku setiap hari diyakini menambah wawasan dan merangsang kemampuan verbal serta kreativitas. 

Kedua, menerima berbagai pemikiran dan pengalaman baru

Dunia ini semakin semakin dinamis. Keterbukaan informasi juga membuat kita terpapar budaya dan pengalaman baru. Bergabunglah dengan organisasi maupun komunitas sosial yang membiasakanmu untuk menerima perbedaan pendapat, lebih peka terhadap lingkungan dan aktif dalam diskusi.  

Ketiga, berkontribusi memajukan Indonesia dengan menjadi relawan

Berpartisipasi menjadi relawan dalam kegiatan apapaun, mulai dari mengajar anak-anak kurang mampu, menjadi pendamping untuk orang dengan masalah kejiwaan, membantu guru dan kepala sekolah di sekolah terpencil. 

Adanya pandemi Covid-19, mengakibatkan sejumlah kebijakan pun berubah. Salah satunya adalah penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun, tidak seluruh sekolah di Indonesia yang beradaptasi dengan program tersebut.

Sejumlah sekolah dengan infrastruktur digital yang belum memadai tentu menghadapi kendala. Bagi pemuda, mahasiswa, guru atau dosen harus miliki mindset berbeda pada musibah yang ada.

" Cara pandang harus dirubah, setiap musibah termasuk keluh kesah sekolah karena PJJ harus jadi peratian bersama, sebaiknya kita hadir memberikan apa yang kita punyai. Perlu rekonstruksi makna kepemudaan, pemuda di masa pandemi itu peka dengan keadaan, harus mampu memberi solusi, narasinya bermanfaat dan bermutu" tuturnya. 

Salah satu inisiasi Presiden Jokowi melalui Mendikbud dengan membuat program Kampus Mengajar Perintis (KMP), layak diberikan apresiasi. Program Kemendikbud yang merupakan bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MB-KM) dinilai sangat tepat diterapkan di masa pandemi ini.  

Keempat, menjadi pengguna Internet dan media sosial yang baik

Pemerintah berupaya memberikan kemudahan untuk mengakses internet. Upaya ini bisa menjadi negatif juga positif.   

Jika bijak dalam memanfaatkan media sosial, mulai dari membuat konten, menyebarkan hingga menanggapi konten yang diterima, tentu banyak manfaat yang diperoleh.

Media sosial semestinya bukan untuk memuntahkan segala kelehuan tak berarti, apalagi menjatuhkan satu sama lain juga menyebarkan informasi hoax

Lebih lanjut, Dosen PGSD UMC ini juga berpesan bahwa menjadi Pemuda Indonesia dalam perspective epistimologis, ontologis dan aksiologis itu, tidak sulit tapi juga tidak mudah.

Sangat sederhana, cukup dengan bukti kecintaan yang luhur dengan bangga serta cintai setiap kearifan lokal, tidak membanding-bandingkan negeri ini dengan negri lain, tidak menajdi radikalis buta dalam memahami keragaaman dan konsisten melahirkan karya.

Dengan demikian, cita-cita mulia yang telah diletakkan oleh Founding Fathers negri ini bakal terwujud.

"Masa pandemi ini belum melandai, maka diperlukan adalah upaya positif, doa terbaik kepada Yang Maha Kuasa dan eratkan kebersamaan dari setiap elemen anak bangsa untuk memfokuskan diri kedepan yakni membuat Indonesia yang berkemajuan dan unggul dalam segala aspek.," himbau Ketua LPKP UMC.