Sinergi SMK Membangun Desa

Globalisasi yang dulunya dipimpin negara maju dan industri besar, kelak akan dipimpin negara-negara berkembang dan ‘usaha kecil’. Dan sebagian besar usaha kecil itu berada di desa, bukan di kota.

Sinergi SMK Membangun Desa
Ilustrasi foto/Net


MONITORDAY.COM – Salah satu fakta penting yang dapat kita tangkap di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai saat ini adalah goyahnya pondasi ekonomi di perkotaan dan menguatnya akar ekonomi di perdesaan. Kota-kota besar mendadak mati, sementara desa-desa malah berdenyut kembali.

Meminjam perkataannya Founder Alibaba, Jack Ma bahwa, globalisasi yang dulunya dipimpin negara maju dan industri giant, kelak akan dipimpin negara-negara berkembang dan ‘usaha kecil’. Jika kita lihat usaha-usaha kecil itu di sini, maka sebagian besar berada di desa, bukan di kota.

Muhammad Bakrun adalah Direktur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dalam sebuah diskusi Kopi Pahit yang dihelat Senin, (26/10) siang, dia mengungkapkan jika betul trennya sedang bergeser. Tapi kita dihadapkan pada fakta bahwa produktivitas dan inovasi SDM di perdesaan masih sangat rendah.

“Ketika bicara pembangunan erat kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia. Di era saat ini yang produktif dan inovatif sangat jarang, dan SDM kita terutama di perdesaan masih rendah produktivitasnya,” ujarnya.

Padahal, kata Bakrun, semua potensi kemajuan sebetulnya ada di desa. Baik itu pertanian, peternakan, perkebunan, pariwisata hingga pertambangan, semua berada nan jauh disana, di wilayah-wilayah yang biasa kita sebut 3T.

Meski dengan beragam tantangan yang dimiliki, sebetulnya kata M. Bakrun ada peluang besar yang bisa disinergikan antara SMK dan pemerintah desa. Kita tahu, saat ini ada sekira 14 ribu SMK yang mayoritasnya berada di desa.

“Kalau bicara kerjasama, kita tahu saat ini ada sekitar 14 ribu SMK dan 77 ribu desa. Artinya satu SMK bisa mengcover 5-6 desa. Ini peluang yang sangat besar sekali,” tukasnya.

Selama ini, kata dia, Pemerintah telah mengembangkan pendidikan dan pelatihan berbasis vokasi. Apalagi, menurut Bakrun, dengan adanya Inpres Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK, satuan pendidikan dan para lulusannya telah mengalami kemajuan besar.

"SMK telah mengalami perubahan besar sejak Inpres Nomor 9 Tahun 2016, serangkaian perubahan telah dilakukan. Bagaimana supaya lebih berdaya dan lulusannya bisa dimanfaatkan dengan baik," ujarnya.

Dengan transformasi yang telah dilakukan, maka lanjut kata Bakrun, sinergi antara SMK dan Desa sebetulnya tak lagi sekadar bicara pertanian. Tapi bagaimana membangun desa secara utuh. Tidak saja bagamana pertanian tumbuh di desa, tapi juga bagaimana menggerakkan perekonomian di desa.

“Ketika kita bicara tentang teknologi rekayasa, kita juga bicara bagaimana industri kecil di perdesaan bisa tumbuh berkembang. Lalu ketika kita bicara bisnis dan manajemen kita pasti bicara bagaimana memasarkan sebuah produk. Lalu jika kita bicara teknologi informasi, maka kita akan bicara bagaimana menumbuhkan marketplace di desa. Bagaimaan anak-anak desa memiliki marketplace yang dikelola anak-ana di desa. Begitu juga bicara pariwisata dan lainnya,” tukasnya.

Istilah Link and Match, menurut Bakrun, yang selama ini identik dengan industri besar juga harus diubah, dan familiar bagi industri kecil di perdesaan. 

“Kita bicara industi bukan industri besar, tapi industri kecil di desa, yang apabila dikembangkan sesuai dengan prosedur dan kriteria itu juga industri,” katanya.

Karena itu, menurut Bakrun, harus ada re-disain desa; Bumdes harus didisain dan dikelola sesuai standar inudstri. Link and match itu tidak harus dengan industri besar, tapi juga dengan industri di desa. Dengan seperti itu, maka apa yang disebut Jack Ma bahwa globalisasi akan dipimpin oleh industri-industri kecil akan kian nyata. [ ]