Wabah Virus Corona dan Rantai Pasok Global

Cina sangat berperan dalam mata rantai pasok perdagangan global. Tak kurang dari 20% kebutuhan mesin dan peralatan listrik dunia dipasok oleh negeri berpenduduk terbesar di dunia ini. Mesin adalah barang modal yang berpengaruh pada industri manufaktur dunia. Ketersediaannya berpengaruh pada kinerja industri global.

Wabah Virus Corona dan Rantai Pasok Global
ilustrasi pabrik cina/ smcp.com

MONITORDAY.COM - Virus yang ukurannya sangat kecil ternyata menjadi ‘senjata’ mematikan. Puluhan ribu orang terkonfirmasi mengidap virus ini dan ribuan orang tewas. Korban terbesar di Cina sebagai episentrum wabah ini terus merangkak naik. Dunia pun dihadapkan pada musuh bersama. Perang dagang selesai. Problem ekonomi dunia yang melambat akibat wabah virus Corona menjadi masalah bersama.

Cina sangat berperan dalam mata rantai pasok perdagangan global. Tak kurang dari 20% kebutuhan mesin dan peralatan listrik dunia dipasok oleh negeri berpenduduk terbesar di dunia ini. Mesin adalah barang modal yang berpengaruh pada industri manufaktur dunia. Ketersediaannya berpengaruh pada kinerja industri global.

Demikian juga dengan bahan baku. Cina memasok 63% kebutuhan fluorite Korea Selatan. Bahan baku ini sangat penting dalam industri chip. Kelangkaan pasokan juga terjadi karena pabrik Korea yang berbasis di Cina juga tidak optimal berproduksi. Hanya 40% maufaktur yang beroperasi hingga pekan terakhir Februari 2020 ini.

Korea Selatan adalah salah satu negara produsen barang-barang berbasis teknologi tinggi utamanya komputer dan ponsel pintar. Sebagai negara yang paling intens berinteraksi dagang dengan Cina wajar bila Korea dalam status siaga merah karena banyaknya kasus warganya yang terpapar COVID-19. Pasokan produk elektronik dunia pun akan terganggu. 

Kelangkaan barang terjadi dan harga-harga cenderung naik. Cina adalah negara pengekspor 30% hingga 40% produk tekstil dan alas kaki bagi kebutuhan dunia. Karyawan pabrik di Cina masih banyak yang belum berani keluar rumah. Tentu saja ini akan menurunkan pasokan dan cenderung memicu kenaikan harga. Kemampuan pasar menyerap pun bisa ikut turun signifikan.

Demikian pula dengan harga komoditas. Kebutuhan bawang putih Indonesia sekira 46 ribu ton per bulan tidak pernah tercukupi oleh produksi dalam negeri. Selama ini 90% diimpor dan Cina menjadi pemasok utamanya. Harga bawang putih di Indonesia telah naik tajam dalam dua pekan terakhir.

Kementerian Pertanian RI telah mengambil langkah untuk mengimpor dari India. Mengingat stok bawang putih bertahan hingga Maret 2020. Produksi bawang putih Cina tidak terhenti namun tak ada yang sanggup atau mampu menangani pengapalannya hingga ke negara tujuan ekspor.

Momentum ini menjadi ujian bagi Indonesia dan dunia untuk menghadapi krisis secara bersama-sama. Tak hanya dalam penanganan medis, Indonesia harus mampu membangun ketahanan ekonomi bangsa. Sektor-sektor UMKM potensial untuk digerakkan dalam memenuhi pasokan barang dan jasa, sekaligus menyediakan peluang usaha dan lapangan kerja agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.