Monitorday.com – Bahasa daerah merupakan warisan budaya tak ternilai yang mencerminkan identitas dan kekayaan bangsa Indonesia. Namun, di tengah arus globalisasi, keberadaan bahasa-bahasa ini semakin terancam. Data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menunjukkan bahwa dari 718 bahasa daerah yang teridentifikasi, 11 telah punah, 19 terancam punah, dan banyak lainnya mengalami kemunduran dalam jumlah penutur.
Penyebab utama kepunahan bahasa daerah antara lain adalah kurangnya penutur muda, pergeseran bahasa ke bahasa yang lebih dominan, serta minimnya dokumentasi dan pembelajaran formal. Jika tidak ada tindakan konkret, kita berisiko kehilangan sebagian besar kekayaan linguistik kita.
Namun, harapan masih ada. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah meluncurkan program Revitalisasi Bahasa Daerah sebagai bagian dari inisiatif Merdeka Belajar Episode 17. Program ini bertujuan untuk melindungi dan melestarikan bahasa daerah yang terancam punah dengan melibatkan komunitas penutur, guru, kepala sekolah, pengawas, dan siswa di berbagai sekolah.
Selain itu, peran generasi muda sangat krusial dalam upaya pelestarian ini. Mengintegrasikan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, seperti melalui media sosial, musik, dan seni, dapat menjadi cara efektif untuk menarik minat dan meningkatkan penggunaan bahasa tersebut. Komunitas-komunitas lokal juga dapat mengadakan festival budaya, lomba pidato, atau pertunjukan seni dalam bahasa daerah untuk meningkatkan kesadaran dan kebanggaan terhadap bahasa lokal.
Pendidikan formal juga memegang peranan penting. Mengajarkan bahasa daerah sejak dini di sekolah-sekolah dapat membantu menanamkan kecintaan dan kebiasaan menggunakan bahasa tersebut. Kurikulum yang memasukkan pelajaran bahasa daerah sebagai mata pelajaran wajib atau pilihan dapat menjadi solusi efektif.
Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelestarian bahasa daerah. Pengembangan aplikasi pembelajaran bahasa, kamus digital, atau platform daring yang menyediakan materi dalam bahasa daerah dapat memudahkan akses dan pembelajaran bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi.
Namun, tantangan tetap ada. Keterbatasan penutur asli sebagai sumber belajar, kurangnya bahan ajar yang memadai, serta minimnya dukungan dari berbagai pihak menjadi hambatan dalam upaya revitalisasi ini. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat luas sangat diperlukan.
Menyelamatkan bahasa daerah bukan hanya tentang mempertahankan kata-kata atau frasa, tetapi juga menjaga identitas, sejarah, dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Dengan langkah-langkah konkret dan kolaborasi dari berbagai pihak, kita dapat memastikan bahwa warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang untuk generasi mendatang.