Monitorday.com – Dalam kehidupan beragama, keteguhan adalah sikap yang mulia. Ia mencerminkan kesungguhan, kesabaran, dan komitmen seorang Muslim dalam menjalankan syariat Allah. Orang yang teguh dalam beragama tidak mudah tergoyahkan oleh godaan dunia, tekanan sosial, atau ujian kehidupan. Namun di sisi lain, ada sikap yang sekilas mirip dengan keteguhan, tapi sebenarnya adalah bentuk penyimpangan: ghuluw, atau sikap berlebihan dalam beragama. Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting agar kita tidak terjebak dalam semangat keagamaan yang justru menjauh dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Keteguhan: Komitmen yang Proporsional
Keteguhan dalam beragama (tsabat) adalah cermin dari keimanan yang kuat. Ia lahir dari pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam dan diwujudkan dalam sikap konsisten menjalankan ibadah, menjauhi maksiat, serta tetap berada di jalan kebenaran meskipun dalam kondisi sulit. Seorang Muslim yang teguh tidak mudah menyerah atau tergoda untuk meninggalkan prinsip agamanya.
Keteguhan ini bersumber dari ilmu, disertai dengan kebijaksanaan dan sikap tawadhu. Ia tidak memaksakan kepada orang lain, tidak merasa paling benar, dan tidak mudah menghakimi. Contohnya adalah para sahabat Nabi yang tetap menjalankan shalat meski dalam medan perang, atau kisah Bilal bin Rabah yang tetap menyebut “Ahad, Ahad” meski disiksa. Keteguhan seperti ini adalah bentuk keimanan yang sejati.
Ghuluw: Semangat yang Melampaui Batas
Ghuluw berarti berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam memahami dan mengamalkan agama. Dalam konteks ini, ghuluw bukan berarti lebih rajin atau lebih semangat semata, tapi sikap ekstrem yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Contohnya adalah ketika seseorang memaksakan diri untuk puasa setiap hari tanpa henti, shalat malam sepanjang malam hingga meninggalkan keluarga, atau mengharamkan hal-hal yang sebenarnya mubah hanya demi terlihat “lebih religius”.
Rasulullah SAW sendiri sangat memperingatkan bahaya ghuluw. Beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw dalam agama. Karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena ghuluw mereka dalam agama.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Ghuluw bisa membuat seseorang menjadi tidak proporsional. Ia menilai kesalehan hanya dari ibadah ritual yang banyak, namun melupakan keseimbangan dan tuntunan sunnah. Ia bisa menjadi keras kepada diri sendiri dan kepada orang lain, bahkan merasa paling benar hingga mudah menyalahkan pihak lain yang berbeda.
Titik Batas antara Keteguhan dan Ghuluw
Perbedaan utama antara keteguhan dan ghuluw terletak pada niat, pemahaman, dan cara penerapan. Keteguhan lahir dari pemahaman yang utuh dan cinta kepada Allah, sedangkan ghuluw sering kali lahir dari ketidaktahuan atau sikap emosional tanpa dasar ilmu. Keteguhan menciptakan ketenangan dan toleransi, sementara ghuluw melahirkan ketegangan dan pertentangan.
Keteguhan juga senantiasa mengikuti contoh Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya menjadi panutan dalam ibadah, tetapi juga dalam cara bersikap kepada keluarga, masyarakat, dan orang-orang yang belum mengenal Islam. Dalam sebuah riwayat, ketika tiga sahabat datang dan menyatakan ingin lebih rajin ibadah melebihi Nabi—dengan puasa tanpa henti, shalat malam terus-menerus, dan tidak menikah—Rasulullah justru menegur mereka. Beliau bersabda: “Aku lebih bertakwa kepada Allah dari kalian, tapi aku shalat dan tidur, puasa dan berbuka, dan aku juga menikah. Barang siapa membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa mengikuti Nabi secara seimbang lebih utama daripada semangat yang berlebihan namun menyimpang.
Dampak Negatif Ghuluw dalam Beragama
Ghuluw bukan hanya membahayakan individu, tapi juga masyarakat. Seseorang yang terlalu ekstrem dalam menjalankan agama bisa mengalami kelelahan spiritual, merasa kecewa jika target ibadahnya tak tercapai, atau bahkan mengalami krisis iman. Ia juga cenderung memandang orang lain sebagai kurang baik, sehingga mudah menyalahkan, memutus silaturahmi, dan menciptakan perpecahan.
Di level sosial, ghuluw bisa melahirkan kelompok-kelompok eksklusif yang merasa paling benar dan memonopoli kebenaran agama. Hal ini pernah terjadi dalam sejarah Islam, ketika munculnya kelompok Khawarij yang sangat ekstrem dalam menilai sesama Muslim hingga mudah mengkafirkan. Padahal Islam sangat menjunjung prinsip kasih sayang, adil, dan toleransi dalam perbedaan.
Menjadi Muslim yang Teguh Tanpa Ghuluw
Menjadi Muslim yang teguh adalah harapan setiap orang beriman. Namun, keteguhan itu harus disertai dengan ilmu, pemahaman yang lurus, dan akhlak yang mulia. Kita perlu terus belajar agar semangat beragama tidak berubah menjadi sikap keras, eksklusif, atau fanatik buta.
Islam mengajarkan prinsip wasathiyah (moderat), yakni berada di tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan. Dalam QS. Al-Baqarah: 143, Allah menyebut umat Islam sebagai “ummatan wasathan” — umat yang seimbang. Inilah karakter yang harus kita jaga dalam menjalani agama ini.
Bersikap teguh bukan berarti kaku, dan menjadi lembut bukan berarti lemah. Seorang Muslim yang teguh tetap bisa bersikap santun, toleran, dan lapang dada. Ia menghargai perbedaan, tetapi tetap kokoh dalam prinsip. Ia tidak memaksakan, tapi menginspirasi. Ia tidak menghina, tapi mendoakan.
Penutup
Perjalanan spiritual seorang Muslim harus dilandasi dengan ilmu, keseimbangan, dan keteladanan dari Rasulullah SAW. Keteguhan dalam beragama adalah keutamaan, tapi ghuluw adalah penyimpangan. Memahami perbedaan antara keduanya adalah bagian dari hikmah dan kedewasaan dalam berislam.
Mari kita jaga semangat beragama kita agar tetap berada dalam koridor syariat. Jangan sampai niat baik berubah menjadi tindakan ekstrem yang tidak dicontohkan oleh Nabi. Semoga kita termasuk orang-orang yang teguh dalam iman, lurus dalam amalan, dan bijak dalam menjalani kehidupan beragama.