Connect with us

Bola Indonesia Semakin Berkembang

Indonesia U-23 berhasil meraih kemenangan telak di babak kualifikasi Piala AFC U-23 Grup K kontra China Taipei 9-0. Kemenangan ini jadi persembahan bersejarah bagi Indonesia.

Deni Irawan

Published

on

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Tingginya Arus Mudik Lebaran, WFA Diperpanjang hingga 8 April

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi, mengungkapkan bahwa pemerintah memutuskan untuk memperpanjang masa kerja dari mana saja (Work From Anywhere/WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga 8 April 2025.

Keputusan ini diambil untuk mengantisipasi tingginya arus balik mudik yang masih terlihat hingga H+2 Lebaran 2025, pada Selasa (2/4).

“Memang setelah H+2, tepatnya pada tanggal 3 April, kami melihat masih ada peningkatan arus mudik. Oleh karena itu, kami memperpanjang WFA,” kata Dudy saat meninjau Terminal Giwangan, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (5/4).

Dudy menjelaskan bahwa berdasarkan analisis, diperkirakan tingkat perjalanan balik mudik akan tetap tinggi, sehingga perpanjangan WFA dianggap perlu untuk meratakan distribusi lalu lintas dan memastikan pelayanan publik tetap berjalan dengan lancar.

“Kami menilai bahwa perpanjangan WFA diperlukan agar arus balik tidak menumpuk dan dapat diurai dengan lebih baik. Harapannya, kepadatan lalu lintas dapat dikendalikan agar masyarakat dapat menikmati perjalanan pulang dengan nyaman,” tambah Dudy.

Sebelumnya, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) juga mengeluarkan keputusan untuk memperpanjang masa WFA bagi ASN hingga 8 April 2025, sesuai dengan Surat Edaran Menteri PANRB No. 3 Tahun 2025 yang ditandatangani pada Jumat (4/4).

Selain perpanjangan WFA, Kementerian Perhubungan juga berupaya mendukung kelancaran arus balik dengan menyediakan layanan mudik gratis menggunakan angkutan umum. Langkah ini diambil untuk mengurangi kepadatan kendaraan pribadi dan memastikan keselamatan pemudik, khususnya pengendara sepeda motor.

Dudy menambahkan, pemerintah akan terus memantau situasi pasca-lebaran, dengan puncak arus balik diperkirakan terjadi pada Sabtu (6/4). Evaluasi terhadap pelaksanaan mudik Lebaran tahun ini rencananya akan dilakukan setelah periode arus balik selesai.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ghuluw dalam Ibadah: Ketika Semangat Beragama Menyimpang dari Tuntunan

Yusuf Hasyim

Published

on

Monitorday.com – Dalam kehidupan beragama, semangat tinggi adalah anugerah yang perlu disyukuri. Banyak orang berlomba-lomba memperbanyak ibadah, mengikuti kajian, memperdalam ilmu agama, dan berusaha menjadi Muslim yang taat. Namun, tidak semua semangat beragama mengarah pada kebaikan. Ketika seseorang melampaui batas yang ditetapkan syariat, meski dengan niat baik, maka ia telah jatuh dalam jebakan ghuluw—sikap berlebihan atau ekstrem dalam agama. Ghuluw dalam ibadah seringkali tidak disadari, padahal dampaknya bisa sangat merusak, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Makna Ghuluw dan Bahayanya

Ghuluw secara bahasa berarti melampaui batas. Dalam konteks agama, ia berarti berlebih-lebihan dalam menjalankan ajaran Islam, baik dalam keyakinan maupun praktik. Dalam hal ibadah, ghuluw bisa muncul ketika seseorang memaksakan diri menjalankan ritual di luar batas kemampuan atau menambahkan ritual-ritual baru yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yang membuat ghuluw berbahaya adalah karena ia sering datang dari niat yang mulia, tetapi dilakukan tanpa ilmu dan tanpa meneladani Rasulullah SAW.

Islam adalah agama pertengahan yang menolak segala bentuk ekstremisme, termasuk dalam ibadah. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa: 171: _

Continue Reading

Ruang Sujud

Ghuluw dalam Dakwah: Ketika Kebenaran Dibela dengan Cara yang Salah

Yusuf Hasyim

Published

on

Monitorday.com – Dakwah adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Ia merupakan aktivitas mulia yang dijalankan oleh para nabi dan dilanjutkan oleh para ulama serta umat Islam. Tujuan dakwah adalah mengajak manusia kepada jalan Allah dengan hikmah, kasih sayang, dan keteladanan. Namun dalam praktiknya, tak jarang dakwah justru dilakukan dengan cara yang keras, memaksa, bahkan menyakiti. Inilah yang disebut dengan ghuluw dalam dakwah — ketika semangat menyebarkan kebenaran justru dibungkus dengan sikap ekstrem dan melampaui batas.

Dakwah Itu Mengajak, Bukan Memaksa

Islam datang bukan untuk menindas, tetapi untuk membebaskan. Dalam QS. Al-Baqarah: 256, Allah menegaskan: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama…” Ayat ini menjadi landasan bahwa dakwah tidak boleh dilakukan dengan tekanan atau kekerasan. Sebab, hidayah adalah hak prerogatif Allah. Tugas seorang da’i hanyalah menyampaikan, bukan memastikan orang lain menerima.

Sayangnya, sebagian orang terjebak dalam semangat membela agama dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Rasulullah. Mereka merasa harus ‘menang’ dalam debat, menghardik orang yang dianggap salah, atau bahkan mencaci maki mereka yang berbeda pemahaman. Ini adalah bentuk ghuluw dalam dakwah. Sebuah ironi, karena niatnya membela kebenaran, namun caranya justru menjauhkan orang dari kebenaran itu sendiri.

Rasulullah: Teladan dalam Dakwah yang Lembut

Ketika berdakwah, Rasulullah SAW dikenal sangat lembut dan sabar, bahkan terhadap orang-orang yang mencelanya. Dalam banyak riwayat, beliau tidak membalas makian dengan makian, atau kekerasan dengan kekerasan. Di Thaif, ketika dilempari batu oleh penduduk setempat, Rasulullah justru berdoa agar mereka diberi hidayah, bukan azab.

Dalam QS. An-Nahl: 125, Allah memerintahkan:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”
Ayat ini menjadi prinsip utama dalam dakwah: menggunakan hikmah (kebijaksanaan), mau’izhah hasanah (nasihat yang indah), dan mujadalah bil-lati hiya ahsan (berdebat dengan cara yang terbaik). Maka, jika dakwah dilakukan dengan hujatan, teriakan, dan ancaman, sesungguhnya ia telah keluar dari metode yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Ghuluw: Ketika Dakwah Menjadi Alat Menyalahkan

Ciri khas ghuluw dalam dakwah adalah ketika seorang da’i merasa paling benar sendiri. Ia mudah mengkafirkan, memvonis sesat, atau bahkan menuduh munafik siapa pun yang tidak sepaham. Tidak ada ruang untuk perbedaan pendapat. Padahal, para ulama sejak dahulu sangat menghormati perbedaan dalam hal ijtihad dan pemahaman.

Sikap seperti ini hanya akan melahirkan perpecahan di tengah umat. Alih-alih membuat orang tertarik kepada Islam, ghuluw malah membuat citra Islam menjadi menakutkan. Sebagian orang bahkan akhirnya antipati terhadap agama karena trauma disalahkan atau diintimidasi atas nama dakwah.

Mengapa Ghuluw dalam Dakwah Terjadi?

Ada beberapa penyebab mengapa seseorang bisa terjebak dalam ghuluw saat berdakwah. Pertama, kurangnya pemahaman agama yang utuh. Banyak yang belajar agama secara instan, tanpa bimbingan guru, dan hanya dari potongan-potongan ceramah atau artikel. Kedua, semangat yang meluap-luap tapi tidak dibingkai oleh hikmah. Ketiga, adanya pengaruh lingkungan atau kelompok yang menanamkan ideologi fanatik.

Kadang, ghuluw muncul dari rasa frustrasi terhadap kondisi umat yang dianggap jauh dari Islam. Namun, solusi dari keterpurukan umat bukanlah kemarahan atau cacian, melainkan kerja dakwah yang sabar, sistematis, dan berkelanjutan.

Kelembutan adalah Senjata Dakwah yang Terkuat

Lihatlah bagaimana Nabi Musa AS diutus kepada Fir’aun, seorang tiran yang paling kejam dalam sejarah. Allah tetap memerintahkan Musa dan Harun untuk berkata dengan lembut: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 43–44)

Jika kepada Fir’aun saja harus dengan kelembutan, apalagi kepada sesama Muslim atau masyarakat biasa yang belum memahami Islam dengan benar. Kelembutan tidak berarti lemah, tetapi ia adalah strategi jitu agar hati manusia bisa tersentuh dan terbuka terhadap kebenaran.

Menjadi Da’i yang Bijak dan Rendah Hati

Seorang da’i harus membangun sikap tawadhu (rendah hati), karena sejatinya ia bukan pemilik kebenaran. Ia hanyalah perantara. Jika dakwah dilakukan dengan niat ikhlas dan metode yang lembut, insyaAllah akan lebih banyak hati yang tersentuh.

Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar, namun bisa saja salah. Pendapat orang lain salah, namun bisa saja benar.” Ungkapan ini mencerminkan keluasan hati dan kerendahan diri dalam menyampaikan kebenaran. Dakwah bukan ajang pamer ilmu atau perang ego, tapi tugas suci menyelamatkan manusia.

Penutup

Ghuluw dalam dakwah adalah bentuk penyimpangan dari semangat beragama yang tidak dibingkai dengan hikmah dan akhlak. Meskipun niatnya baik, namun ketika metode yang dipakai adalah kekerasan, pemaksaan, dan penghakiman, maka dampaknya bisa sangat merusak. Islam adalah agama yang mengajarkan dakwah dengan kasih sayang, bukan kemarahan.

Marilah kita belajar dari Rasulullah SAW — seorang da’i yang paling sukses dalam sejarah manusia — yang membangun perubahan dengan kelembutan, kesabaran, dan keteladanan. Dakwah bukan tentang siapa yang paling lantang, tapi siapa yang paling sabar dan paling mampu menyentuh hati manusia.

Continue Reading

Ruang Sujud

Membedakan Antara Keteguhan dan Ghuluw dalam Beragama

Yusuf Hasyim

Published

on

Monitorday.com – Dalam kehidupan beragama, keteguhan adalah sikap yang mulia. Ia mencerminkan kesungguhan, kesabaran, dan komitmen seorang Muslim dalam menjalankan syariat Allah. Orang yang teguh dalam beragama tidak mudah tergoyahkan oleh godaan dunia, tekanan sosial, atau ujian kehidupan. Namun di sisi lain, ada sikap yang sekilas mirip dengan keteguhan, tapi sebenarnya adalah bentuk penyimpangan: ghuluw, atau sikap berlebihan dalam beragama. Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting agar kita tidak terjebak dalam semangat keagamaan yang justru menjauh dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Keteguhan: Komitmen yang Proporsional

Keteguhan dalam beragama (tsabat) adalah cermin dari keimanan yang kuat. Ia lahir dari pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam dan diwujudkan dalam sikap konsisten menjalankan ibadah, menjauhi maksiat, serta tetap berada di jalan kebenaran meskipun dalam kondisi sulit. Seorang Muslim yang teguh tidak mudah menyerah atau tergoda untuk meninggalkan prinsip agamanya.

Keteguhan ini bersumber dari ilmu, disertai dengan kebijaksanaan dan sikap tawadhu. Ia tidak memaksakan kepada orang lain, tidak merasa paling benar, dan tidak mudah menghakimi. Contohnya adalah para sahabat Nabi yang tetap menjalankan shalat meski dalam medan perang, atau kisah Bilal bin Rabah yang tetap menyebut “Ahad, Ahad” meski disiksa. Keteguhan seperti ini adalah bentuk keimanan yang sejati.

Ghuluw: Semangat yang Melampaui Batas

Ghuluw berarti berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam memahami dan mengamalkan agama. Dalam konteks ini, ghuluw bukan berarti lebih rajin atau lebih semangat semata, tapi sikap ekstrem yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Contohnya adalah ketika seseorang memaksakan diri untuk puasa setiap hari tanpa henti, shalat malam sepanjang malam hingga meninggalkan keluarga, atau mengharamkan hal-hal yang sebenarnya mubah hanya demi terlihat “lebih religius”.

Rasulullah SAW sendiri sangat memperingatkan bahaya ghuluw. Beliau bersabda: “Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw dalam agama. Karena sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian adalah karena ghuluw mereka dalam agama.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ghuluw bisa membuat seseorang menjadi tidak proporsional. Ia menilai kesalehan hanya dari ibadah ritual yang banyak, namun melupakan keseimbangan dan tuntunan sunnah. Ia bisa menjadi keras kepada diri sendiri dan kepada orang lain, bahkan merasa paling benar hingga mudah menyalahkan pihak lain yang berbeda.

Titik Batas antara Keteguhan dan Ghuluw

Perbedaan utama antara keteguhan dan ghuluw terletak pada niat, pemahaman, dan cara penerapan. Keteguhan lahir dari pemahaman yang utuh dan cinta kepada Allah, sedangkan ghuluw sering kali lahir dari ketidaktahuan atau sikap emosional tanpa dasar ilmu. Keteguhan menciptakan ketenangan dan toleransi, sementara ghuluw melahirkan ketegangan dan pertentangan.

Keteguhan juga senantiasa mengikuti contoh Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya menjadi panutan dalam ibadah, tetapi juga dalam cara bersikap kepada keluarga, masyarakat, dan orang-orang yang belum mengenal Islam. Dalam sebuah riwayat, ketika tiga sahabat datang dan menyatakan ingin lebih rajin ibadah melebihi Nabi—dengan puasa tanpa henti, shalat malam terus-menerus, dan tidak menikah—Rasulullah justru menegur mereka. Beliau bersabda: “Aku lebih bertakwa kepada Allah dari kalian, tapi aku shalat dan tidur, puasa dan berbuka, dan aku juga menikah. Barang siapa membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa mengikuti Nabi secara seimbang lebih utama daripada semangat yang berlebihan namun menyimpang.

Dampak Negatif Ghuluw dalam Beragama

Ghuluw bukan hanya membahayakan individu, tapi juga masyarakat. Seseorang yang terlalu ekstrem dalam menjalankan agama bisa mengalami kelelahan spiritual, merasa kecewa jika target ibadahnya tak tercapai, atau bahkan mengalami krisis iman. Ia juga cenderung memandang orang lain sebagai kurang baik, sehingga mudah menyalahkan, memutus silaturahmi, dan menciptakan perpecahan.

Di level sosial, ghuluw bisa melahirkan kelompok-kelompok eksklusif yang merasa paling benar dan memonopoli kebenaran agama. Hal ini pernah terjadi dalam sejarah Islam, ketika munculnya kelompok Khawarij yang sangat ekstrem dalam menilai sesama Muslim hingga mudah mengkafirkan. Padahal Islam sangat menjunjung prinsip kasih sayang, adil, dan toleransi dalam perbedaan.

Menjadi Muslim yang Teguh Tanpa Ghuluw

Menjadi Muslim yang teguh adalah harapan setiap orang beriman. Namun, keteguhan itu harus disertai dengan ilmu, pemahaman yang lurus, dan akhlak yang mulia. Kita perlu terus belajar agar semangat beragama tidak berubah menjadi sikap keras, eksklusif, atau fanatik buta.

Islam mengajarkan prinsip wasathiyah (moderat), yakni berada di tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan. Dalam QS. Al-Baqarah: 143, Allah menyebut umat Islam sebagai “ummatan wasathan” — umat yang seimbang. Inilah karakter yang harus kita jaga dalam menjalani agama ini.

Bersikap teguh bukan berarti kaku, dan menjadi lembut bukan berarti lemah. Seorang Muslim yang teguh tetap bisa bersikap santun, toleran, dan lapang dada. Ia menghargai perbedaan, tetapi tetap kokoh dalam prinsip. Ia tidak memaksakan, tapi menginspirasi. Ia tidak menghina, tapi mendoakan.

Penutup

Perjalanan spiritual seorang Muslim harus dilandasi dengan ilmu, keseimbangan, dan keteladanan dari Rasulullah SAW. Keteguhan dalam beragama adalah keutamaan, tapi ghuluw adalah penyimpangan. Memahami perbedaan antara keduanya adalah bagian dari hikmah dan kedewasaan dalam berislam.

Mari kita jaga semangat beragama kita agar tetap berada dalam koridor syariat. Jangan sampai niat baik berubah menjadi tindakan ekstrem yang tidak dicontohkan oleh Nabi. Semoga kita termasuk orang-orang yang teguh dalam iman, lurus dalam amalan, dan bijak dalam menjalani kehidupan beragama.

Continue Reading

Sportechment

Timnas Indonesia U-17 Permalukan Korea Selatan, Berkat Gol Penalti Evandra

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Timnas U-17 Indonesia berhasil meraih kemenangan penting dengan mengalahkan Timnas U-17 Korea Selatan 1-0 pada laga penyisihan Grup C Piala Asia U-17 2025 yang digelar di Prince Abdullah Al Faisal Stadium, Jumat (4/4).

Gol tunggal Indonesia dicetak oleh Evandra Florasta melalui eksekusi penalti pada menit ke-90+3.

Pada babak pertama, Indonesia hampir mencetak gol lebih awal lewat Mierza Firjatullah yang berhadapan langsung dengan kiper Korea, Park Dohun, pada menit ke-14. Namun, peluang tersebut berhasil digagalkan setelah bola berhasil direbut oleh Park Dohun.

Beberapa saat kemudian, Korea Selatan memiliki kesempatan emas melalui Kim Yegeon pada menit ke-17, namun tembakannya berhasil diamankan oleh kiper Dafa Al Gasemi.

Indonesia lebih banyak bermain bertahan di babak pertama dan mengandalkan serangan balik cepat. Sementara itu, Korea Selatan mencoba memanfaatkan tendangan dari luar kotak penalti, tetapi usaha mereka belum membuahkan hasil.

Pada menit ke-37, Indonesia mendapatkan peluang melalui penalti setelah handball oleh Soo Yoonwoo, bek Korea Selatan. Eksekusi pertama Evandra Florasta sempat gagal, namun ia berhasil memanfaatkan bola rebound dan menceploskannya ke gawang, membawa Indonesia unggul 1-0.

Memasuki babak kedua, Korea Selatan langsung memberikan tekanan. Ji Geon Young mencoba melepaskan tembakan pada menit ke-55, tetapi bola melebar dari gawang Indonesia.

Beberapa pergantian pemain terjadi akibat kram yang dialami oleh pemain kedua tim hingga menit ke-60. Pada menit ke-67, Jim Geongyoung memiliki peluang dari luar kotak penalti, namun tendangannya dapat ditepis oleh kiper Dafa.

Pada menit ke-70, Hang Woo-sik mendapatkan bola liar di depan gawang Indonesia, tetapi tendangannya masih melebar tipis. Korea Selatan terus berusaha menekan, namun percobaan-percobaan dari Byeongchan dan Park Seo-joon pada menit ke-81 dan 85 masing-masing masih melambung dan melebar dari sasaran.

Skor 1-0 untuk Indonesia bertahan hingga akhir pertandingan meskipun Korea Selatan terus menyerang. Kemenangan ini membawa Timnas U-17 Indonesia meraih tiga poin penuh di fase grup.

Susunan Pemain:

Timnas U-17 Korea Selatan (4-4-2):
Park Dohun; Lim Yechan (Jang Woo-Sik 60′), Koo Hyeonbin, So Yoonwoo, Kim Minchan; Oh Haram (Jang Woo-Sik 60′), Kim Jihyuk (Kim Ji-Seong 65′), Kim Yegeon (Park Seo-joon 84′), Park Byeongchan; Jim Geongyoung; Jung Heejung (Jeong Hyeon-Ung 65′).
Pelatih: Back Kitae.

Timnas U-17 Indonesia (5-3-2):
Dafa Al Gasemi; Evandra Florasta, Daniel Afrido (Dafa Zaidan 90+6′), Putu Panji, Mathew Baker, Fabio Azkairawan; Zahaby Gholy (Fandi Ahmad 45′, Putu Ekayana 90+6′), Muhamad Al Gazani, Nazriel Alfaro (Ilham Romadhona 77′); Fadly Alberto, Mierza Firjatullah (Rafi Rasyiq 58′).
Pelatih: Nova Arianto.

Continue Reading

Sportechment

Ragnar Oratmangoen Donasi Anak-anak Gaza di Momen Lebaran Tuai Pujian Netizen

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Pemain Timnas Indonesia, Ragnar Oratmangoen, baru-baru ini mendapatkan pujian luas dari netizen atas tindakan kemanusiaannya. Di media sosial, tersebar sepanduk yang menunjukkan dukungannya untuk anak-anak di Gaza melalui donasi yang ia berikan.

Oratmangoen, yang bermain untuk FCV Dender, bekerja sama dengan Al Akhirah. Nl, sebuah organisasi nirlaba yang aktif memberikan bantuan kemanusiaan di Palestina dan Uganda.

Meskipun tidak hadir langsung di Gaza, donasi yang diberikan oleh Ragnar membantu menyelenggarakan acara untuk anak-anak di sana pada hari kedua Idul Fitri.

“Meski dalam situasi yang sulit, kami berhasil memberikan kebahagiaan kepada anak-anak di Gaza. Kami menyediakan hadiah, permen, minuman, dan kegiatan untuk mereka, dengan harapan dapat sedikit meringankan penderitaan dan membuat mereka kembali merasakan kebahagiaan menjadi anak-anak,” tulis Al Akhirah. Nl dalam unggahan videonya.

Organisasi tersebut juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada Ragnar Oratmangoen atas kontribusi dan dukungannya. Mereka berharap dapat melanjutkan kolaborasi di masa mendatang.

Ragnar Oratmangoen dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan dan peduli terhadap sesama.

Di usia 15 tahun, ia memutuskan untuk menjadi mualaf dan sejak saat itu, ia tak pernah berhenti menunjukkan kepeduliannya terhadap saudara-saudara seimannya, termasuk Palestina. Ini bukan pertama kalinya ia memberikan dukungan konkret kepada Palestina dalam berbagai kesempatan.

Sikap kepedulian Ragnar menjadi contoh yang patut dicontoh, khususnya di momen Idul Fitri, untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan.

Continue Reading

News

Hadapi Arus Balik Lebaran, Korlantas Polri Bakal Siapkan Strategi Ini

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengatasi arus balik Lebaran 2025 yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada 5 hingga 7 April 2025.

“Kami sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi arus balik Lebaran 2025,” kata Irjen Agus dalam keterangannya, Jumat (4/4/2025).

Agus menjelaskan, pihaknya telah memproyeksikan jumlah kendaraan yang akan melintas pada arus balik tahun ini, dengan salah satu faktor pertimbangannya adalah data kendaraan yang keluar dari Jakarta saat arus mudik, yang tercatat mencapai sekitar 2,1 juta kendaraan.

“Jika tidak diurai dengan baik, jumlah kendaraan ini berpotensi menyebabkan kemacetan parah saat puncak arus balik nanti,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi potensi kemacetan tersebut, Korlantas Polri telah menyiapkan sejumlah skema rekayasa lalu lintas. Salah satunya adalah penerapan sistem one way nasional yang akan diberlakukan mulai 6 April 2025. Penerapan sistem one way ini akan dimulai di Gerbang Tol Kalikangkung, dengan tujuan mengurai kepadatan kendaraan.

Selain itu, Korlantas juga akan memberlakukan contraflow jika volume kendaraan meningkat drastis. Skema contraflow ini akan diterapkan di Tol Jakarta-Cikampek, dimulai dari Kilometer (Km) 70 hingga Km 47, dan dapat diperpanjang hingga Km 36 jika diperlukan.

Tidak hanya itu, Korlantas juga akan memanfaatkan jalan tol fungsional, seperti Tol Jakarta-Cikampek (Japek) 2 Selatan, yang akan berfungsi sepanjang 30 kilometer dari Sadang hingga Cibatu untuk membantu mengurai kepadatan arus balik dari arah Bandung.

Sebagai langkah tambahan, jika terjadi lonjakan arus lalu lintas yang cukup signifikan, Korlantas juga siap memperpanjang sistem one way lokal tahap dua dari Km 246 hingga Km 188.

“Kami akan terus memantau perkembangan arus dan mengambil langkah-langkah yang tepat, baik itu di jalan tol, jalan arteri, atau jalan nasional,” ujar Agus.

Korlantas Polri juga akan terus bekerja sama dengan semua stakeholder terkait untuk memastikan kelancaran arus balik Lebaran 2025.

Continue Reading

News

Balas Kebijakan Trump, China Kenakan Tarif Impor AS Sebesar…

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – China mengambil langkah tegas dengan menetapkan tarif baru sebesar 34 persen untuk semua produk yang diimpor dari Amerika Serikat, sebagai respons terhadap kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Presiden Donald Trump. Tarif ini akan mulai berlaku pada 10 April 2025.

Keputusan tersebut diumumkan oleh Komisi Tarif Bea Cukai Dewan Negara China pada Jumat (4/4). China memberlakukan tarif ini sebagai pembalasan terhadap kebijakan tarif timbal-balik yang diterapkan AS pada produk China, dengan tarif sebesar 34 persen. Selain itu, AS juga memberlakukan tarif impor global sebesar 10 persen yang berlaku untuk semua negara.

Menurut laporan CGTN, tarif tambahan 34 persen ini akan dikenakan pada semua produk asal Amerika Serikat, namun rincian lebih lanjut mengenai produk yang terpengaruh belum diumumkan.

Kebijakan tarif AS terhadap China termasuk yang terbesar di dunia, lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya seperti Uni Eropa, Jepang, dan India.

Sementara itu, tarif baru yang diterapkan AS untuk semua produk impor akan mulai berlaku pada 5 April 2025.

Trump juga mengumumkan tarif 25 persen yang akan dikenakan pada semua mobil asing yang diimpor ke AS, yang mulai diberlakukan pada Kamis (3/4) dini hari.

Dalam sebuah langkah tambahan, Trump menyatakan keadaan darurat ekonomi nasional dan berharap kebijakan tarif ini dapat menghasilkan tambahan pajak tahunan hingga ratusan miliar dolar.

Ia menjanjikan bahwa penduduk Amerika Serikat akan memperoleh manfaat berupa lapangan pekerjaan dari penerimaan pajak yang lebih tinggi.

Namun, kebijakan ini berisiko menyebabkan perlambatan ekonomi yang tajam karena bisa memicu lonjakan harga barang-barang seperti mobil, pakaian, dan produk lainnya bagi konsumen dan bisnis.

Continue Reading

Sportechment

Wendy dan Yeri Resmi Cabut dari SM Entertainment, Tetap Lanjutkan Karier di Red Velvet

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – SM Entertainment mengumumkan bahwa kontrak eksklusif dengan Wendy dan Yeri dari Red Velvet telah resmi berakhir. Meskipun demikian, kedua anggota tersebut akan tetap melanjutkan karier mereka sebagai bagian dari grup, Red Velvet.

Pengumuman ini muncul setelah serangkaian negosiasi yang dimulai sejak 2023. Sebelumnya, Seulgi telah memperpanjang kontraknya dengan SM pada Agustus 2023, diikuti oleh Joy pada Januari 2025 dan Irene pada Februari 2024.

Melalui pernyataan resmi, SM Entertainment menyampaikan, “Halo, ini SM Entertainment. Kami ingin memberi tahu Anda bahwa kontrak eksklusif kami dengan Wendy dan Yeri telah berakhir.”

Mereka melanjutkan, “Sejak debut sebagai anggota Red Velvet, Wendy dan Yeri telah aktif berpromosi, baik sebagai anggota grup maupun solois di berbagai bidang. Kami sangat bahagia bisa bersama mereka selama ini.”

Dengan berakhirnya kontrak eksklusif mereka, masa depan Wendy dan Yeri di industri hiburan akan tetap terjaga, dan Red Velvet dipastikan akan terus berlanjut dengan kelima anggotanya.

Continue Reading

News

Selamatkan Bahasa Daerah: Aksi Nyata Generasi Muda

Bahasa daerah di Indonesia terancam punah. Upaya revitalisasi melalui pendidikan, teknologi, dan peran aktif generasi muda diperlukan untuk melestarikan warisan budaya ini.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Bahasa daerah merupakan warisan budaya tak ternilai yang mencerminkan identitas dan kekayaan bangsa Indonesia. Namun, di tengah arus globalisasi, keberadaan bahasa-bahasa ini semakin terancam. Data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menunjukkan bahwa dari 718 bahasa daerah yang teridentifikasi, 11 telah punah, 19 terancam punah, dan banyak lainnya mengalami kemunduran dalam jumlah penutur.

Penyebab utama kepunahan bahasa daerah antara lain adalah kurangnya penutur muda, pergeseran bahasa ke bahasa yang lebih dominan, serta minimnya dokumentasi dan pembelajaran formal. Jika tidak ada tindakan konkret, kita berisiko kehilangan sebagian besar kekayaan linguistik kita.

Namun, harapan masih ada. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah meluncurkan program Revitalisasi Bahasa Daerah sebagai bagian dari inisiatif Merdeka Belajar Episode 17. Program ini bertujuan untuk melindungi dan melestarikan bahasa daerah yang terancam punah dengan melibatkan komunitas penutur, guru, kepala sekolah, pengawas, dan siswa di berbagai sekolah.

Selain itu, peran generasi muda sangat krusial dalam upaya pelestarian ini. Mengintegrasikan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, seperti melalui media sosial, musik, dan seni, dapat menjadi cara efektif untuk menarik minat dan meningkatkan penggunaan bahasa tersebut. Komunitas-komunitas lokal juga dapat mengadakan festival budaya, lomba pidato, atau pertunjukan seni dalam bahasa daerah untuk meningkatkan kesadaran dan kebanggaan terhadap bahasa lokal.

Pendidikan formal juga memegang peranan penting. Mengajarkan bahasa daerah sejak dini di sekolah-sekolah dapat membantu menanamkan kecintaan dan kebiasaan menggunakan bahasa tersebut. Kurikulum yang memasukkan pelajaran bahasa daerah sebagai mata pelajaran wajib atau pilihan dapat menjadi solusi efektif.

Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelestarian bahasa daerah. Pengembangan aplikasi pembelajaran bahasa, kamus digital, atau platform daring yang menyediakan materi dalam bahasa daerah dapat memudahkan akses dan pembelajaran bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Namun, tantangan tetap ada. Keterbatasan penutur asli sebagai sumber belajar, kurangnya bahan ajar yang memadai, serta minimnya dukungan dari berbagai pihak menjadi hambatan dalam upaya revitalisasi ini. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat luas sangat diperlukan.

Menyelamatkan bahasa daerah bukan hanya tentang mempertahankan kata-kata atau frasa, tetapi juga menjaga identitas, sejarah, dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Dengan langkah-langkah konkret dan kolaborasi dari berbagai pihak, kita dapat memastikan bahwa warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang untuk generasi mendatang.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News50 minutes ago

Tingginya Arus Mudik Lebaran, WFA Diperpanjang hingga 8 April

Ruang Sujud1 hour ago

Ghuluw dalam Ibadah: Ketika Semangat Beragama Menyimpang dari Tuntunan

Ruang Sujud5 hours ago

Ghuluw dalam Dakwah: Ketika Kebenaran Dibela dengan Cara yang Salah

Ruang Sujud9 hours ago

Membedakan Antara Keteguhan dan Ghuluw dalam Beragama

Sportechment17 hours ago

Timnas Indonesia U-17 Permalukan Korea Selatan, Berkat Gol Penalti Evandra

Sportechment17 hours ago

Ragnar Oratmangoen Donasi Anak-anak Gaza di Momen Lebaran Tuai Pujian Netizen

News18 hours ago

Hadapi Arus Balik Lebaran, Korlantas Polri Bakal Siapkan Strategi Ini

News19 hours ago

Balas Kebijakan Trump, China Kenakan Tarif Impor AS Sebesar…

Sportechment20 hours ago

Wendy dan Yeri Resmi Cabut dari SM Entertainment, Tetap Lanjutkan Karier di Red Velvet

News21 hours ago

Selamatkan Bahasa Daerah: Aksi Nyata Generasi Muda

News1 day ago

Daftar Paspor Terkuat di Dunia, Indonesia Tertinggal dengan Negara Tetangga

Sportechment1 day ago

Red Sparks vs Pink Spiders: Megawati Cs Siap Bangkit di Game Ketiga Final Liga Voli Korea

Sportechment1 day ago

Pelatih Korsel Waspadai Kekuatan Timnas Indonesia U-17 di Piala Asia U-17 2025

Review1 day ago

Warung Madura, Jawaban Lokal atas Hegemoni Global

Review1 day ago

Hati-hati Upload Photo dan Narasi via Medsos di Era Post Truth

Review1 day ago

Program Sekolah Penggerak Dibubarkan, Apa Selanjutnya?

Pangan1 day ago

79 Tahun Indonesia Merdeka Tapi Masih Impor Pangan, Mayoritasnya Sembako!

Sportechment1 day ago

Amazon Dikonfirmasi Ajukan Tawaran Akuisisi TikTok

News1 day ago

Tarif Gila Trump, Deretan Produk Ekspor RI ke AS yang Terdampak

Sportechment2 days ago

Mohamed Salah Segera Perpanjang Kontrak di Liverpool