Monitorday.com – Di era informasi yang serba cepat ini, diskusi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita berdiskusi di ruang kelas, kantor, forum digital, bahkan dalam lingkaran pertemanan. Namun, banyak yang lupa bahwa diskusi bukan sekadar adu argumen. Ada nilai penting yang harus dijaga, yaitu adab berdiskusi.
Adab berdiskusi adalah etika atau tata krama dalam bertukar pendapat. Ia bukan hanya soal menyampaikan ide, tetapi juga bagaimana menyampaikannya, kepada siapa, dan dalam suasana seperti apa. Tanpa adab, diskusi bisa berubah menjadi debat kusir, bahkan konflik personal. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan adab berdiskusi menjadi kunci utama dalam menciptakan dialog yang sehat dan bermartabat.
Mengapa Adab Berdiskusi Itu Penting?
Pertama, adab berdiskusi menunjukkan kedewasaan berpikir. Seseorang yang mampu menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain adalah orang yang mampu mengendalikan ego dan emosi. Dalam banyak kasus, kegagalan diskusi justru berasal dari sikap merasa paling benar dan enggan mendengar. Padahal, hakikat diskusi adalah saling melengkapi, bukan saling mengalahkan.
Kedua, adab berdiskusi membangun kepercayaan dan rasa hormat antar peserta diskusi. Kita lebih cenderung mendengarkan dan menerima pendapat orang yang berbicara dengan sopan dan logis, daripada yang menyampaikan ide dengan nada tinggi atau menyerang secara pribadi. Sikap yang santun menciptakan ruang aman untuk berpikir terbuka dan mengembangkan ide secara bersama.
Ketiga, dalam konteks sosial dan profesional, kemampuan berdiskusi dengan adab yang baik bisa membuka banyak peluang. Di dunia kerja, misalnya, orang yang mampu berdiskusi dengan tenang, objektif, dan menghargai pendapat lain sering dipandang sebagai pemimpin yang matang.
Prinsip-Prinsip Dasar Adab Berdiskusi
Lalu, seperti apa adab berdiskusi yang ideal? Ada beberapa prinsip dasar yang bisa dijadikan pedoman:
- Mendengar dengan Sungguh-sungguh
Diskusi yang baik dimulai dari kemampuan mendengarkan. Dengarkan lawan bicara sampai tuntas, tanpa menyela. Memotong pembicaraan adalah bentuk ketidaksopanan dan bisa menurunkan kualitas diskusi.
- Menghindari Serangan Pribadi (Ad Hominem)
Fokuslah pada ide, bukan pada orangnya. Menyerang pribadi hanya akan membuat diskusi kehilangan arah dan menjadi ajang saling menyudutkan.
- Menggunakan Bahasa yang Sopan dan Jelas
Hindari kata-kata kasar, merendahkan, atau provokatif. Gunakan bahasa yang mudah dipahami, ringkas, dan tidak menyinggung.
- Terbuka terhadap Pandangan yang Berbeda
Tidak semua orang akan setuju dengan kita, dan itu hal yang wajar. Yang penting adalah kita siap menerima perbedaan sebagai bagian dari proses berpikir dan belajar bersama.
- Menghindari Emosi Berlebihan
Emosi adalah hal manusiawi, tapi dalam diskusi, emosi perlu dikendalikan. Jika mulai emosi, lebih baik menenangkan diri sejenak daripada memperkeruh suasana.
- Menjaga Niat Diskusi
Apa tujuan kita berdiskusi? Apakah untuk mencari kebenaran atau sekadar menang? Jika niatnya benar, kita akan lebih mudah mengedepankan adab.
Adab Berdiskusi dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, adab berdiskusi bukan hal baru. Bahkan, Al-Qur’an dan hadis banyak memberikan contoh bagaimana Rasulullah SAW berdiskusi dengan umatnya maupun dengan kaum yang berbeda keyakinan. Rasulullah dikenal sebagai sosok yang lembut, tidak pernah memaksakan pendapat, dan selalu menjawab dengan penuh hikmah.
Dalam QS. An-Nahl ayat 125, Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam berdiskusi, kita dianjurkan untuk menggunakan hikmah (kebijaksanaan), mau’izhah hasanah (nasihat yang baik), dan mujadalah bil-lati hiya ahsan (debat dengan cara terbaik). Ketiganya menekankan pentingnya etika dalam berdialog.
Tantangan Adab Berdiskusi di Era Digital
Di media sosial, siapa pun bisa berdiskusi. Tapi karena tidak ada tatap muka, banyak orang merasa bebas berkata kasar atau menyerang. Inilah tantangan besar di era digital: anonimitas sering membuat orang lupa adab.
Kita perlu menyadari bahwa meskipun medium diskusi berubah, nilai adab tidak boleh hilang. Menyampaikan opini lewat komentar, story, atau postingan tetap harus dengan sopan. Dunia maya bukan alasan untuk mengabaikan etika.
Pendidikan adab berdiskusi harus dimulai sejak dini—di rumah, sekolah, dan lingkungan sosial. Guru, orang tua, dan tokoh masyarakat perlu memberi contoh nyata bagaimana berdiskusi yang baik. Bukan hanya mengajarkan apa yang benar, tapi juga bagaimana menyampaikan kebenaran itu.
Penutup: Membangun Budaya Diskusi yang Bermartabat
Adab berdiskusi bukan soal menahan diri saja, tapi juga tentang membangun budaya dialog yang cerdas, terbuka, dan saling menghargai. Dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia, kemampuan berdiskusi dengan adab menjadi kunci untuk mencegah perpecahan dan memupuk kebersamaan.
Jadi, sebelum berbicara dalam forum, sebelum mengetik komentar di media sosial, mari kita tanya pada diri sendiri: Apakah yang akan saya sampaikan sudah mencerminkan adab? Jika jawabannya ya, maka kita sedang menjadi bagian dari solusi, bukan sumber masalah.