Monitorday.com – Dalam seminar internasional ISHEL 2025 yang di gelar oleh Prodi Linguistik Terapan Universitas Negeri Jakarta, sabtu (5/7), Dr. Mohamed Aidil Subhan, Akademisi dari Nanyang Technological University menyampaikan paparan bertajuk “AI & the Humanities in a Future-Ready Education Phase”.
Materi yang disampaikannya mengungkap bagaimana strategi pendidikan di Singapura memadukan kecerdasan buatan dengan nilai-nilai humaniora demi membentuk generasi yang tak hanya cerdas secara digital, tetapi juga beretika, empatik, dan berakar pada budayanya.
Mengutip pernyataan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong saat peluncuran Smart Nation 2.0 pada 1 Oktober 2024, Aidil menegaskan bahwa anak-anak masa kini memang lahir sebagai digital natives. Namun, paparnya, itu saja tidak cukup. Mereka tetap perlu diberi kesempatan untuk memahami kemampuan, keterbatasan, dan etika penggunaan AI. Tujuannya bukan hanya mencetak pakar AI, melainkan membekali semua orang dengan literasi dasar sehingga mereka dapat memanfaatkan potensi inovatif AI di bidang apa pun.
Transformasi pendidikan di Singapura berlangsung melalui empat domain utama: kebijakan nasional, kurikulum dan pedagogi, pemberdayaan guru, serta pembelajaran bahasa. Semua ini dirancang selaras dengan strategi nasional seperti SkillsFuture, EdTech Masterplan 2030, dan Smart Nation. Sejak diluncurkan pada 2017, AI Singapore (AISG) terus mendorong inovasi dan pengembangan talenta AI. Puncaknya, melalui National AI Strategy 2.0 yang dirilis Desember 2023, pendidikan ditetapkan sebagai salah satu pilar utama transformasi AI yang bersifat manusiawi, bertanggung jawab, dan mendukung daya saing ekonomi serta ketahanan sosial.
Di tingkat kurikulum, Singapura sudah menyisipkan pembelajaran berpikir komputasional dan literasi AI mulai dari sekolah dasar atas. Program AI for Students (AI4S) mengenalkan konsep pembelajaran mesin dan etika AI dengan pendekatan praktis melalui platform seperti AI for Kids (AI4K) dan Machine Learning for Kids. Sementara di politeknik dan universitas, berbagai modul hingga diploma AI sudah tersedia.
Tak hanya untuk siswa, guru juga diberi pelatihan e-pedagogi lewat National Digital Literacy Programme. Berbagai alat berbasis AI kini membantu guru dalam penilaian otomatis, manajemen kelas, hingga analitik prediktif untuk mendeteksi siswa berisiko. Para guru bahkan dilibatkan sebagai perancang bersama dalam pengembangan pelajaran berbasis AI melalui platform seperti eduLab+ dan inisiatif future-ready educators.
Dalam pembelajaran bahasa, AI dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan berbahasa Inggris dan bahasa ibu (Mandarin, Melayu, Tamil). Mulai dari mesin pengenal suara untuk umpan balik pengucapan, chatbot percakapan, hingga alat bantu NLP untuk tata bahasa, semuanya hadir dengan memperhatikan konteks budaya yang kaya. Di tengah multibahasa yang kompleks, Singapura menekankan pentingnya AI yang peka terhadap norma kode-switching, ragam bahasa, dan nuansa makna.
Singapura juga tak melupakan pembelajaran sepanjang hayat. Melalui program AI for Everyone (AI4E), berbagai pelatihan AI dibuka untuk masyarakat umum bekerja sama dengan platform seperti Coursera dan Udemy. Harapannya, setiap pekerja di semua profesi, dari guru hingga kreator, mampu menguasai alat AI untuk meningkatkan produktivitas.
Aidil menyoroti bahwa hubungan antara AI dan humaniora di pendidikan bukan sekadar pelengkap, tetapi simbiosis. AI memungkinkan pembelajaran lebih luas dan personal, sementara humaniora memberi jiwa, etika, dan akar budaya. Keduanya memastikan generasi masa depan tak hanya melek digital, tetapi juga bijaksana secara moral, empatik, dan berakar pada nilai-nilai kultural.
Dalam sesi tanya jawab di Summer Davos WEF 2025, PM Lawrence Wong kembali menegaskan bahwa Singapura “terobsesi” untuk memastikan AI tidak hanya menjadi inovasi mutakhir bagi segelintir, melainkan alat produktivitas yang dikuasai oleh semua kalangan.
Seminar ISHEL 2025 diwarnai dengan semangat optimisme bahwa pendidikan masa depan memang bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi digunakan dengan cara yang manusiawi. Singapura membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, AI dan humaniora bisa berjalan beriringan, memberi makna baru pada pendidikan yang siap menghadapi tantangan zaman.