Monitorday.com – Industri akuakultur terpadu disebut sebagai game changer untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hal ini ditegaskan Anggota DPR RI, Prof. Rokhmin Dahuri saat Simposium Konsolidasi Akuakultur Nasional pada Rabu (9/7/2025) di Auditorium Undiksha, Buleleng, Bali.
Dalam Rakernas Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) sekaligus pengukuhan DPD MAI Bali itu, Prof. Rokhmin, Ketua Umum MAI, menyebut akuakultur adalah solusi strategis untuk mengatasi berbagai masalah bangsa seperti kemiskinan, pengangguran, gizi buruk, dan ketimpangan ekonomi yang masih mencengkeram Indonesia.
“Potensi perikanan budidaya kita terbesar di dunia, bisa mencapai 100 juta ton per tahun. Namun saat ini baru sekitar 15 juta ton yang terealisasi. Padahal sektor ini tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga bahan baku farmasi, kosmetik, bioenergi, hingga bioplastik,” jelas Menteri KKP di era Presiden Gus Dur dan Megawati itu.
Menurutnya, jika dikelola secara modern, inklusif, dan berkelanjutan, industri akuakultur mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 10 persen per tahun, jauh di atas capaian rata-rata saat ini yang stagnan di kisaran 5 persen.
“Kita punya semua modal: sumber daya alam, posisi geo-ekonomi strategis, dan bonus demografi. Tinggal kemauan politik, tata kelola, dan inovasi yang perlu dibenahi,” katanya.
Guru Besar IPB University itu pun menyayangkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir banyak peluang hilang karena iklim investasi yang tak ramah, kebijakan yang plin-plan, hingga kriminalisasi para pembudidaya. Bahkan relokasi industri asing lebih banyak ke Vietnam dan Malaysia ketimbang Indonesia.
“Kalau tidak segera kita perbaiki, kita bisa masuk ke bencana demografi. Anak-anak muda banyak jadi NEET (Not in Education, Employment, or Training), kualitas SDM rendah, dan jutaan orang malah mencari kerja ke luar negeri,” ujar Rektor UMMI Bogor.
Duta Besar Kehormatan Bushan University Korea Selatan itu juga menyoroti dampak stunting, gizi buruk, dan kemiskinan yang masih tinggi. Data yang dipaparkannya menunjukkan, dengan standar garis kemiskinan Bank Dunia, lebih dari 60 persen penduduk Indonesia masih tergolong miskin. Padahal dengan investasi yang tepat di akuakultur, jutaan lapangan kerja dapat tercipta karena sifat industrinya yang padat karya dan berbasis desa, pesisir, serta luar Jawa.
Dia menekankan pentingnya structural economic transformation melalui akuakultur terpadu, yaitu pengalihan faktor produksi dari sektor tradisional ke sektor bernilai tambah tinggi, seperti industri bioteknologi kelautan. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan target Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera dengan pendapatan per kapita lebih dari 14 ribu dolar AS pada 2045.
Selain meningkatkan produksi konvensional seperti ikan dan udang, Prof. Rokhmin juga menyoroti potensi produk non-konvensional dari laut seperti bioaktif untuk farmasi, bahan pangan sehat, pupuk organik, hingga biofuel dari alga. Ia menyebut laut Indonesia sebagai “tambang biru” yang nyaris tak terbatas jika dikelola dengan teknologi dan inovasi.
MAI, kata dia, siap memimpin transformasi ini dengan mendorong riset dan inovasi nyata, bukan sekadar publikasi ilmiah, memperkuat ekosistem investasi, serta menggalang kerja sama pentahelix antara pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media.
“Kalau semua bersinergi, saya yakin industri akuakultur kita bisa jadi tulang punggung Indonesia Emas. Jangan hanya melihat laut sebagai warisan, tapi juga sebagai masa depan,” pungkasnya sambil mengutip ayat suci dan pesan bijak: ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya’.
Acara yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai daerah itu ditutup dengan pengukuhan DPD MAI Bali dan seruan untuk menjadikan laut sebagai motor pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa.