Monitorday.com – Ada ironi besar di panggung global hari ini. Di satu sisi, negara-negara Arab yang kaya minyak, besar secara geopolitik, dan memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban Islam, ternyata masih saja gemetar jika berhadapan dengan tekanan Amerika Serikat.
Sementara di sisi lain, Indonesia, negara dengan ekonomi yang tidak sebesar Arab Saudi atau Uni Emirat Arab justru lebih resah jika melihat saudara seiman di Palestina, Yaman, atau bahkan Afrika, mati kelaparan dan terluka akibat konflik.
Perbandingan ini menyingkap dua wajah dunia Islam. Wajah yang satu adalah wajah negara Arab yang kerap disebut “raksasa dengan kaki lumpur”: kuat di atas kertas, tetapi rapuh dalam keberanian politik. Wajah lainnya adalah wajah Indonesia, yang meskipun menghadapi banyak persoalan domestik, tetap menempatkan solidaritas kemanusiaan sebagai prioritas, meski sering dianggap hanya sebatas wacana.
Pertanyaannya sederhana: mengapa Arab begitu takut pada Amerika, sementara Indonesia lebih khawatir jika umat Islam mati kelaparan?
Arab yang Penuh Ketakutan
Negara-negara Arab seolah-olah terjebak dalam paradoks. Mereka memiliki kekayaan energi yang menjadi urat nadi dunia. Mereka punya akses ke jalur perdagangan strategis, dari Selat Hormuz hingga Laut Merah. Namun, dalam praktiknya, politik luar negeri mereka tidak jarang berputar-putar di sekitar restu Washington.
Krisis Palestina menjadi bukti nyata. Arab yang seharusnya menjadi benteng pertama pembelaan terhadap rakyat Palestina justru sibuk mencari aman. Alih-alih menggalang kekuatan kolektif untuk menekan Israel, sebagian justru memilih normalisasi hubungan. Mereka lebih takut pada ancaman embargo senjata Amerika ketimbang pada murka sejarah.
Ketakutan Arab pada Amerika juga tercermin dalam sikap defensif menghadapi isu keamanan regional. Bayang-bayang intervensi militer Barat masih menancap dalam-dalam pasca tragedi Irak, Suriah, hingga Libya. Alih-alih berdiri tegar, mereka justru menjadikan Amerika sebagai patron keamanan. Inilah wajah Arab hari ini: negara-negara kaya minyak yang seolah menjadi satelit Washington.
Indonesia yang Gelisah
Di sisi lain, Indonesia, meskipun tidak punya kekuatan militer sebesar Arab Saudi atau kekayaan seperti Qatar, menunjukkan kegelisahan moral yang berbeda. Ketika Palestina dibombardir, suara keras datang dari Jakarta. Ketika Yaman terjebak dalam perang saudara, masyarakat sipil Indonesia ikut menggalang donasi. Bahkan di Afrika, relawan kemanusiaan Indonesia turut serta menyalurkan bantuan bagi korban kelaparan.
Indonesia memang tidak bisa serta-merta mengubah peta politik global. Tetapi, kegelisahan moral itu menunjukkan adanya empati yang tulus. Indonesia takut jika saudara seiman mati kelaparan. Itu berarti ada kesadaran kemanusiaan yang masih terjaga, meskipun dalam praktik politik luar negeri kadang tak sekuat kata-kata.
Perbedaan ini bukan hanya soal kekuatan materi, tetapi soal keberanian moral. Arab takut kehilangan kenyamanan ekonominya, sementara Indonesia takut kehilangan nurani kemanusiaannya.
Betapa Lemahnya Arab
Kelemahan Arab bukanlah pada sumber daya, melainkan pada jiwa kepemimpinan. Dengan segala kekuatan yang dimiliki, Arab seharusnya bisa menjadi pionir dalam membangun solidaritas global Islam. Mereka punya modal ekonomi, geopolitik, dan religius. Namun, semua itu lumpuh oleh rasa takut terhadap Amerika.
Ketika kekuatan ekonomi hanya digunakan untuk membeli senjata dari Barat, tanpa keberanian melawan ketidakadilan, maka Arab hanya menjadi konsumen, bukan pemimpin. Ketika kekuasaan politik lebih diarahkan untuk melanggengkan rezim, bukan memperjuangkan kedaulatan umat, maka Arab hanyalah boneka yang dimainkan kepentingan asing.
Lemahnya Arab adalah cermin pahit bahwa keberanian moral lebih mahal daripada emas hitam. Dan inilah yang membuat dunia Islam terus berjalan pincang: yang kaya kehilangan nyali, yang miskin kehilangan daya.
Tulisan ini tidak bermaksud mengagungkan Indonesia atau merendahkan Arab semata, tetapi mengingatkan bahwa kekuatan sejati tidak diukur dari seberapa banyak cadangan minyak atau seberapa besar pasukan bersenjata. Kekuatan sejati diukur dari keberanian membela keadilan, meski harus berhadapan dengan kekuatan adidaya.
Indonesia, dengan segala keterbatasannya, setidaknya masih memiliki kegelisahan moral untuk tidak membiarkan saudara seiman mati kelaparan. Sementara Arab, dengan segala kekayaannya, justru sering kali membiarkan ketakutannya pada Amerika menjadi alasan untuk berdiam diri.
Maka, betapa lemahnya Arab jika dibandingkan dengan kegelisahan sederhana bangsa Indonesia: takut melihat manusia, terutama saudara seiman, mati kelaparan di tengah dunia yang katanya modern dan beradab.