RuangSujud.com – Setiap helaan napas kita adalah amanah, setiap tindakan kita adalah catatan. Di antara ribuan kisah yang terukir dalam sejarah, ada satu pelajaran berharga yang senantiasa mengingatkan kita akan beratnya timbangan keadilan Ilahi: kisah seorang hamba yang tak luput dari kezaliman, dan bagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan kekuasaan-Nya secara nyata. Sebuah riwayat dari Imam Adz-Dzahabi radhiyallahu anhu dalam kitabnya Al-Kaba’ir mengisahkan tentang seorang lelaki yang berdiri, dengan tangan terputus dari pangkal bahunya, menyerukan peringatan: “Barangsiapa yang melihatku, janganlah pernah menganiaya seorang pun!” Kisah hidupnya, meski penuh kepedihan, adalah cermin bagi kita semua tentang betapa rapuhnya kebahagiaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain.
Rasa penasaran pun membimbing seorang penanya untuk mendekat dan memohon sang lelaki berbagi kisahnya. Dengan nada penuh penyesalan, ia bertutur, ‘Dahulu aku adalah orang yang sering berbuat zalim, tak peduli akan hak sesama.’ Suatu hari, matanya tertambat pada seekor ikan besar hasil tangkapan seorang nelayan miskin. Tanpa memikirkan jerih payah dan kebutuhan keluarga nelayan itu, ia merampas ikan tersebut dengan paksa, meninggalkan nelayan dalam kesedihan. Namun, balasan Allah tak pernah terlambat. Dalam perjalanan pulang membawa rampasannya, ikan tersebut membalas dengan gigitan kuat pada ibu jarinya. Sakitnya begitu menusuk, melumpuhkan tidurnya, dan tak lama kemudian tangannya membengkak. Inilah awal mula sebuah episode penderitaan yang tak terbayangkan, sebuah peringatan dini akan bahaya berbuat zalim.
Pagi harinya, ia bergegas menemui tabib. Diagnosisnya mengejutkan: racun gigitan ikan telah menjalar, menuntut amputasi telapak tangan. Namun, rasa sakit itu tak kunjung mereda, bahkan semakin menjadi. Potongan demi potongan anggota tubuhnya harus merelakan diri, hingga mencapai siku, namun azab fisik itu seolah tak ingin berhenti. Ketika rasa putus asa melanda, orang-orang di sekitarnya pun bertanya apa gerangan penyebab musibah ini. Setelah mendengar kisahnya, barulah mereka berkata, ‘Andai engkau segera meminta maaf dan keikhlasan dari nelayan itu di awal rasa sakitmu, niscaya kau tak akan kehilangan bagian tubuhmu sedikit pun. Pergilah sekarang, sebelum azab ini menjalar ke seluruh ragamu!’
Menyadari kesalahannya, dengan sisa tenaga ia mencari sang nelayan. Saat bertemu, ia bersimpuh di kaki nelayan itu, menciumnya, dan menangis tersedu-sedu memohon ampunan. Ia bertanya, ‘Wahai tuanku, adakah engkau mendoakan keburukan atasku karena ikan yang telah kurampas?’ Sang nelayan menjawab, ‘Ya, aku berdoa: Ya Allah, dia telah menganiayaku dengan kekuatannya, maka tunjukkanlah kekuasaan-Mu dalam hal itu.’ Dengan penuh penyesalan, lelaki itu berujar, ‘Wahai tuanku, Allah telah menunjukkan kekuasaan-Nya padaku, dan aku bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.’ Kisah ini mengajarkan kita hakikat zalim. Dalam Islam, zalim bukan sekadar tindakan melanggar hukum, melainkan perbuatan yang melampaui batas kebenaran, meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ia adalah kegelapan jiwa yang menghalangi seseorang dari melihat dan menerima kebenaran, bahkan kekuasaan Allah Ta’ala.
Secara umum, kezaliman terbagi menjadi tiga tingkatan: pertama, syirik, yaitu menyekutukan Allah, dosa yang tak terampuni; kedua, zalim seorang manusia kepada dirinya sendiri dengan berbuat maksiat; dan ketiga, zalim seorang manusia kepada sesama manusia. Kezaliman terhadap sesama inilah yang sangat ditekankan, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan membiarkannya begitu saja. Para ulama memperingatkan betapa beratnya dosa ini. Sufyan Ats-Tsauri pernah berucap, ‘Bertemu Allah dengan 70 dosa yang engkau lakukan atas Allah akan lebih ringan daripada bertemu dengan-Nya dengan membawa satu dosa yang engkau lakukan atas orang lain.’ Bahkan, Abu Bakar Al-Warraq menambahkan, ‘Perkara yang banyak menyebabkan terlepasnya iman dalam hati adalah berlaku zalim terhadap sesama manusia.’ Ini menunjukkan bahwa hak sesama manusia adalah perkara yang sangat besar di sisi Allah.
Maka, marilah kita senantiasa menjaga lisan, tangan, dan hati kita dari segala bentuk kezaliman. Sebab, bagi pelaku kezaliman, akhirat adalah masa kebangkrutan hakiki, di mana pahala amal kebaikan akan diambil untuk membayar dosa kepada orang yang dizalimi, dan dosa-dosa orang yang terzalimi akan dibebankan kepadanya. Kezaliman tidak hanya terwujud dalam bentuk fisik atau perampasan harta, namun juga melalui lisan, perbuatan yang mengganggu kepentingan, atau kelalaian dalam menunaikan hak orang lain. Setiap perilaku yang merugikan sesama adalah bentuk kezaliman. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita akan berbagai wujudnya, dari melongok ke rumah tanpa izin, mendengarkan pembicaraan tanpa persetujuan, hingga merampas sejengkal tanah, yang semuanya berujung pada balasan yang pedih. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-Nya yang adil dan menjauhkan kita dari segala bentuk kezaliman. Amin ya Rabbal ‘alamin.