KITA marah kepada oknum Pertamina, karena sekian besar uang negara dicuri untuk bergaya hidup dan foya-foya. Sekaligus kita patut berduka pada upaya pencegahan korupsi dalam lingkungan Pertamina.
Negara dan Pertamina, ibarat dua sisi mata uang. Pada awalnya, semangat berdirinya Permina adalah sebuah sikap Nasionalisme rakyat Indonesia dalam rangka kedaulatan Indonesia Raya. Hingga bertransformasi menjadi Pertamina, perusahaan ini juga turut serta membiayai kebutuhan negara.
Pertamina lahir dan hadir bukan semata-mata perusahaan minyak negara. Ia juga hadir sebagai penyokong ekonomi dan sumber pembiayaan Negara. Pertamina juga menjadi salah satu perusahaan negara yang menjadi penjamin keuangan nasional dalam tatanan global.
Hari-hari ini rakyat kita marah dan kecewa atas terbongkarnya isu mega korupsi dilingkungan Pertamina. Itu juga hal yang begitu fundamental mendorong Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri untuk meminta maaf secara tulus kepada seluruh rakyat Indonesia. Dan kita menyambut baik hal itu. Karena tentu, melakukan transformasi kemajuan dalam segala hal di Pertamina, bukan lah hal mudah.
Namun, tiba-tiba muncul bak preman kampung bicara kesana-kemari yang seakan-akan sudah khatam hal-ikhwal Pertamina. Tapi sebenarnya yang dikatakan adalah kemarahan membabi-buta, bahkan seperti pengangguran yang sedang “Mencari Muka”.
Ahok, seakan-akan ingin tampil sebagai pahlawan kesorean yang masih bau badan. Jika kita sebagai publik kembali bertanya, apa sesungguhnya yang sudah dia berikan dalam pengawasan dan kemajuan dalam lingkungan Pertamina? Pasti serentak orang menjawab, disaat Presiden Jokowi punya prinsip kepemimpinan; Kerja, Kerja dan Kerja. Lantas, Ahok model kepemimpinan Marah, Marah dan Marah.
Jika hanya Ibu Mega yang bisa membungkam Ahok, dan itu dia banggakan. Jadi, apa gunanya dia ditugaskan dalam Pertamina?
Ahok juga merasa pantas untuk semestinya, ada pada posisi Direktur Utama Pertamina. Yang benar saja, baru menjadi Gubernur Jakarta, dia hampir membuat pecah belah negara. Barangkali Ahok lupa, bahwa Pertamina adalah perusahaan milik negara, bukan warung bakmi. Ya tentu berbeda, antara mengelola bisnis energi dan warung bakmi babi.
Sekarang mari kita bertanya, apakah ada dokumen resmi yang bisa ditunjukan Ahok secara publik bahwa dirinya sudah melakukan upaya pencegahan korupsi di lingkungan Pertamina. Karena, ini adalah organisasi perusahaan maka apa yang Ahok lontarkan semestinya beserta data dan fakta yang valid.
Ahok semestinya merenung, bahwa setiap amarah yang dia luapkan terkait pertamina, berdampak negatif pada perwira-perwira muda Pertamina yang masih taat menjalankan visi-misi Negara. Jangan lupa, ada ribuan perwira muda yang kelak memangku estafet tugas negara.
Pribahasa lama berkata, ‘Nila setitik, rusak susu sebelanga’. Namun, kita juga perlu jujur bahwa susu tetaplah susu.
Apa yang perlu kita bela? Pertamina adalah fondasi negara. Kita tidak boleh meninggalkan Pertamina apalagi membenci secara membabi buta. Masih banyak anak-anak dalam lingkungan Pertamina yang masih memiliki idealisme kepentingan negara. Mereka adalah mimpi besar masa depan Indonesia.
Sepantasnya, jika Ahok pernah menjadi bagian formil Pertamina. Yang perlu dia ucapkan adalah pertanyaan yang Objektif. Bahwa kasus korupsi ini bukanlah wajah Pertamina sesungguhnya. Ini adalah wajah kelam perusahaan energi negara.
Senyatanya, kita harus berani mengucapkan bahwa Pertamina adalah pondasi negara. Pertamina tidak sedang baik-baik saja. Pertamina membutuhkan segenap dukungan rakyat Indonesia. Pertamina juga membutuhkan, untuk kembalinya reputasi dikalangan kaum muda Indonesia.
Kita yakin dan percaya, bahwa Tuhan memberikan mata bukan untuk bergelap-gelapan. Justru, penegasan bahwa cahaya bukan hanya di bulan purnama.