Connect with us

Ruang Sujud

Bahaya Riba terhadap Ekonomi dan Kehidupan Sosial

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Riba bukan hanya ancaman spiritual, tetapi juga memiliki dampak destruktif terhadap tatanan ekonomi dan sosial. Dalam sistem yang mengandalkan riba, kekayaan akan terkonsentrasi pada segelintir orang atau lembaga yang meminjamkan uang, sedangkan masyarakat luas akan terbebani oleh utang yang terus menumpuk.

Salah satu bahaya utama dari riba adalah eksploitasi terhadap orang miskin. Mereka yang membutuhkan dana darurat akan terpaksa meminjam dari lembaga yang mengenakan bunga tinggi. Akibatnya, mereka terjerat dalam lingkaran utang yang tidak kunjung selesai. Riba tidak memberikan ruang untuk pertumbuhan ekonomi yang adil, karena keuntungan hanya dinikmati oleh pemberi pinjaman, bukan oleh para pelaku usaha riil.

Dalam sejarah, banyak krisis ekonomi besar dipicu oleh sistem keuangan berbasis utang berbunga. Krisis keuangan 2008 adalah contoh nyata. Kredit perumahan berbunga tinggi di Amerika Serikat meledak dan menyebabkan keruntuhan pasar global. Ini menunjukkan bahwa sistem berbasis riba tidak stabil dan rawan runtuh.

Dari sisi sosial, riba merusak hubungan manusia. Alih-alih tolong-menolong, hubungan antarindividu menjadi transaksional dan menekan. Orang menjadi enggan menolong kecuali ada keuntungan. Padahal dalam Islam, semangat tolong-menolong sangat dijunjung tinggi, bahkan dianjurkan untuk memberi pinjaman tanpa mengambil keuntungan sedikit pun.

Pemerataan ekonomi tidak akan pernah tercapai dalam sistem riba. Kesenjangan semakin melebar karena orang kaya makin kaya dan orang miskin makin terjepit. Islam menawarkan sistem keuangan berbasis keadilan seperti zakat, infaq, sedekah, dan pembiayaan tanpa bunga. Ini adalah cara yang adil dan berkeadaban untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus merawat kemanusiaan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ruang Sujud

Perbedaan Antara Riba dan Keuntungan Bisnis Halal

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dalam Islam, memperoleh keuntungan dari bisnis adalah hal yang halal dan bahkan dianjurkan. Namun, banyak yang masih menyamakan keuntungan bisnis dengan riba. Padahal, keduanya sangat berbeda, baik dari segi akad, risiko, maupun nilai-nilai yang melandasinya.

Riba terjadi dalam transaksi utang-piutang yang menetapkan kelebihan pembayaran secara mutlak, tanpa mempertimbangkan hasil dari usaha atau kinerja dari peminjam. Misalnya, seseorang meminjam uang Rp10 juta dan wajib mengembalikannya menjadi Rp12 juta dalam waktu tertentu, tanpa ada risiko dari pihak pemberi pinjaman.

Sebaliknya, keuntungan dalam bisnis halal diperoleh dari jual-beli, sewa-menyewa, atau kerja sama usaha. Dalam akad seperti murabahah (jual beli dengan margin keuntungan) atau musyarakah (kerja sama modal), keuntungan ditentukan berdasarkan hasil usaha. Jika usaha gagal, maka kerugian ditanggung bersama sesuai kesepakatan. Inilah prinsip keadilan dalam ekonomi Islam.

Islam tidak melarang keuntungan, tetapi keuntungan itu harus adil, transparan, dan tidak memaksa. Selama tidak ada unsur penipuan, spekulasi berlebihan, dan eksploitasi, maka keuntungan bisnis adalah sah. Bahkan Rasulullah SAW sendiri adalah seorang pedagang yang sukses dan jujur, dan menjadi teladan dalam berbisnis.

Jadi, perbedaan utamanya adalah: riba adalah keuntungan tanpa risiko dan tanpa usaha, sedangkan keuntungan bisnis halal adalah hasil dari aktivitas nyata dengan kemungkinan untung atau rugi. Umat Islam perlu jeli membedakan keduanya agar tidak terjerumus pada praktik yang dilarang agama.

Continue Reading

Ruang Sujud

Riba dalam Islam: Dosa Besar yang Sering Diremehkan

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Riba, dalam terminologi Islam, berarti tambahan atau kelebihan dalam transaksi yang tidak dibenarkan syariat. Kata “riba” berasal dari bahasa Arab yang berarti “bertambah”. Dalam konteks ekonomi, riba identik dengan bunga atau keuntungan yang diperoleh tanpa adanya usaha produktif. Islam sangat tegas dalam mengharamkan riba, karena efek buruknya terhadap individu, masyarakat, dan sistem ekonomi secara keseluruhan.

Dalam Al-Qur’an, larangan riba ditegaskan dalam beberapa ayat. Salah satunya yang paling keras adalah dalam Surah Al-Baqarah ayat 275–279. Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah memerangi orang-orang yang terus-menerus menjalankan praktik riba. Bahkan disebutkan bahwa memakan riba seperti dirasuki setan. Ini bukan sekadar larangan, tapi peringatan keras atas konsekuensi spiritual dan sosial dari riba.

Nabi Muhammad SAW juga memperkuat larangan ini dalam hadis-hadisnya. Dalam salah satu riwayat, beliau menyebut bahwa riba memiliki 70 cabang dosa, dan yang paling ringan adalah seperti menzinai ibu kandung sendiri. Ini menggambarkan betapa kejinya perbuatan riba dalam pandangan Islam. Sayangnya, di zaman sekarang, praktik riba sering dianggap biasa, bahkan menjadi bagian dari sistem keuangan global.

Riba bukan hanya merusak tatanan ekonomi, tetapi juga merusak spiritualitas. Harta yang diperoleh dari riba tidak membawa berkah. Bahkan, orang yang bergelimang harta dari riba akan merasa gelisah, tidak tenang, dan jauh dari keberkahan hidup. Allah telah menyatakan dalam QS. Al-Baqarah bahwa riba akan menghancurkan keberkahan, sedangkan sedekah akan dilipatgandakan.

Dalam praktik modern, riba hadir dalam berbagai bentuk: bunga pinjaman, kartu kredit, leasing konvensional, dan deposito berbunga. Umat Islam harus mewaspadai semua bentuk riba ini dan mencari alternatif yang halal, seperti menggunakan lembaga keuangan syariah. Kesadaran untuk menghindari riba adalah bagian dari takwa dan bentuk kepatuhan kepada Allah SWT.

Continue Reading

Ruang Sujud

Menjadikan Dzikrul Maut sebagai Motivasi Hidup yang Lebih Bermakna

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Banyak orang menghindari pembicaraan tentang kematian karena dianggap menakutkan atau mengganggu suasana hati. Padahal, dalam Islam, dzikrul maut justru bisa menjadi motivasi kuat untuk menjalani hidup yang lebih bermakna dan terarah. Mengingat kematian bukan berarti menyerah pada pesimisme, tetapi justru mendorong seseorang untuk hidup dengan kesadaran penuh.

Ketika seseorang menyadari bahwa waktu hidupnya terbatas, ia akan mulai bertanya: apa yang sebenarnya penting? Apa warisan kebaikan yang ingin aku tinggalkan? Dzikrul maut mendorong kita untuk menyusun prioritas hidup, meminimalkan drama, dan fokus pada amal saleh serta kontribusi positif.

Rasulullah SAW menyebut orang yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Artinya, dzikrul maut adalah tanda kecerdasan spiritual—sebuah cara pandang yang tidak sekadar mengejar kesenangan dunia, tapi juga mempersiapkan diri untuk kehidupan abadi.

Orang yang menjadikan dzikrul maut sebagai motivasi tidak akan mudah putus asa. Ia sadar bahwa setiap musibah adalah pengingat, setiap kegagalan hanyalah ujian, dan setiap keberhasilan adalah peluang untuk berbuat lebih banyak kebaikan sebelum ajal menjemput. Hidupnya jadi lebih produktif dan berorientasi akhirat, tanpa mengabaikan dunia.

Dengan demikian, dzikrul maut bukanlah bayang-bayang kematian yang menakutkan, tapi cahaya yang menuntun langkah. Ia mengajarkan kita untuk menjalani setiap hari dengan nilai, bukan sekadar rutinitas. Untuk mencintai dengan tulus, bekerja dengan jujur, dan bersedekah tanpa pamrih—karena semua akan tercatat sebagai bekal pulang ke akhirat.

Continue Reading

Ruang Sujud

Dzikrul Maut dalam Pandangan Ulama: Antara Takut dan Harapan

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dzikrul maut, dalam pandangan para ulama, bukan sekadar perenungan tentang kematian, melainkan juga jendela menuju pemahaman yang lebih dalam tentang tujuan hidup. Mereka memandang bahwa mengingat kematian seharusnya menimbulkan dua rasa sekaligus dalam diri seorang mukmin: rasa takut dan rasa harapan.

Rasa takut muncul karena kematian adalah awal dari kehidupan akhirat, tempat di mana amal manusia akan dihitung dan dipertanggungjawabkan. Ulama seperti Imam Al-Ghazali menekankan bahwa mengingat maut seharusnya membuat seseorang waspada, memperbanyak taubat, dan menjauhi perbuatan dosa. Ketakutan ini bukan untuk melemahkan semangat hidup, tetapi untuk menyadarkan manusia agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia.

Namun di sisi lain, dzikrul maut juga harus membangkitkan rasa harapan. Para ulama menegaskan bahwa Allah adalah Maha Pengampun dan penuh rahmat. Maka, setiap kali kita mengingat maut, kita juga harus membayangkan ampunan-Nya yang luas, surga-Nya yang indah, dan kesempatan untuk kembali kepada-Nya dengan hati bersih. Dzikrul maut dengan harapan menjadikan hidup lebih tenang dan bermakna.

Ibnu Qayyim dalam kitabnya Al-Fawaaid mengatakan bahwa dzikrul maut yang benar adalah yang membangkitkan dorongan untuk mempersiapkan bekal akhirat, bukan hanya menimbulkan ketakutan yang membuat seseorang putus asa.

Sehingga, keseimbangan antara takut dan harapan inilah yang menjadi kunci dzikrul maut yang sehat. Takut agar tidak terjerumus dalam dosa, dan harapan agar tetap optimis mengejar ampunan dan rahmat Allah.

Dengan pandangan ini, dzikrul maut menjadi sumber energi spiritual, bukan momok yang menakutkan.

Continue Reading

Ruang Sujud

Manfaat Dzikrul Maut bagi Kehidupan Sehari-hari Umat Muslim

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Mengingat kematian atau dzikrul maut sering dianggap sebagai hal yang suram, padahal justru sebaliknya: dzikrul maut membawa banyak manfaat yang nyata dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim. Dalam Islam, kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang sesungguhnya, sehingga mengingatnya menjadi motivasi untuk hidup lebih baik.

Salah satu manfaat utama dari dzikrul maut adalah menjaga seseorang dari berbuat maksiat. Ketika seseorang sadar bahwa ajal bisa datang kapan saja, ia akan lebih berhati-hati dalam setiap tindakan, ucapan, dan pilihan hidupnya. Ini menjadikan dzikrul maut sebagai penjaga moral dan etika.

Dzikrul maut juga menumbuhkan semangat untuk beramal. Banyak orang yang mulai rutin bersedekah, memperbanyak ibadah, bahkan memperbaiki hubungan dengan sesama setelah merenungkan tentang kematian. Mereka sadar bahwa amal baik akan menjadi bekal satu-satunya di alam kubur.

Selain itu, mengingat kematian bisa mengurangi stres dan keserakahan. Dunia ini seringkali membuat manusia terjebak dalam ambisi tanpa akhir. Namun, ketika seseorang menyadari bahwa semua kenikmatan duniawi akan ditinggalkan, ia akan hidup lebih sederhana dan bersyukur.

Dzikrul maut juga menjadikan hati lebih tenang. Orang yang sering merenungi kematian akan lebih siap menghadapi kehilangan, musibah, dan perubahan hidup. Ia tidak mudah hancur ketika ditimpa ujian, karena ia tahu bahwa kehidupan ini fana dan semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Allah.

Dengan semua manfaat itu, dzikrul maut bukan hanya soal kematian, melainkan tentang bagaimana kita menjalani hidup dengan penuh kesadaran, makna, dan tanggung jawab.

Continue Reading

Ruang Sujud

Dzikrul Maut: Menghidupkan Hati dengan Mengingat Kematian

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dzikrul maut, atau mengingat kematian, adalah salah satu bentuk dzikir yang paling dalam maknanya. Dalam Islam, mengingat kematian bukanlah untuk menakut-nakuti diri, melainkan sebagai upaya menyadarkan hati bahwa hidup ini bersifat sementara dan dunia bukan tujuan akhir. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi).

Dengan mengingat kematian, seseorang akan terdorong untuk memperbaiki amal dan meninggalkan perbuatan sia-sia. Ia menjadi lebih bijak dalam memanfaatkan waktu, menjaga lisan, serta menata hubungan dengan sesama. Dzikrul maut bukan tentang pesimisme, tapi tentang kesiapan menghadapi pertemuan dengan Sang Pencipta.

Para ulama menyebutkan bahwa hati manusia bisa keras seperti batu jika tidak disiram dengan dzikir, termasuk dzikrul maut. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebut, “Sungguh, mengingat mati akan melunakkan hati yang keras, melenyapkan ambisi terhadap dunia, dan meringankan musibah.”

Mengingat kematian juga menjaga seseorang dari sifat sombong dan lalai. Ketika seseorang sadar bahwa maut bisa datang kapan saja, maka ia akan menahan diri dari kesombongan, memperbanyak istighfar, dan lebih giat beribadah. Kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi, dan dzikrul maut adalah kuncinya.

Continue Reading

Ruang Sujud

Antara Kebutuhan Sosial dan Larangan Syariat: Memahami Konteks Ikhtilath di Era Modern

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Perkembangan zaman menghadirkan berbagai dinamika baru dalam kehidupan sosial umat Islam, termasuk dalam hal pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Di tengah kebutuhan interaksi sosial, pendidikan, dan pekerjaan yang semakin kompleks, muncul pertanyaan besar: bagaimana umat Islam menyikapi ikhtilath di era modern?

Ikhtilath secara syar’i adalah percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tanpa batasan, pengawasan, atau kepentingan syar’i yang mendesak. Islam secara tegas memberikan peringatan terhadap kondisi semacam ini karena bisa menjerumuskan pada fitnah dan maksiat. Namun, bukan berarti setiap bentuk interaksi antara dua lawan jenis adalah terlarang.

Di era modern, laki-laki dan perempuan sering berada di ruang yang sama: kantor, kampus, seminar, proyek sosial, hingga forum diskusi daring. Selama interaksi itu dilakukan dengan niat baik, adab Islam dijaga, dan syarat-syarat syar’i dipenuhi, maka itu bukan bentuk ikhtilath yang dilarang.

Syariat Islam sangat fleksibel dan mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan prinsip dasarnya. Dalam situasi tertentu, laki-laki dan perempuan diperbolehkan bekerja sama, asalkan tidak melanggar batasan: tidak berdua-duaan, tidak bersentuhan fisik, tidak membuka aurat, tidak bercampur tanpa kejelasan fungsi atau kepentingan, serta menjaga sikap dan ucapan.

Contoh penerapannya bisa kita lihat dalam sistem pendidikan Islam modern. Banyak sekolah dan universitas Islam yang tetap membuka ruang bagi perempuan untuk belajar, namun dengan sistem kelas terpisah, tempat duduk dibedakan, atau menggunakan sistem daring. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak menutup akses perempuan untuk maju, tetapi tetap mengatur jalannya agar selaras dengan nilai-nilai agama.

Begitu pula dalam dunia kerja. Banyak perusahaan menerapkan kebijakan ramah syariah dengan memisahkan ruang kerja, menjaga etika komunikasi, bahkan menyediakan ruang shalat dan waktu untuk beribadah. Ini adalah bentuk adaptasi yang harmonis antara kebutuhan zaman dan larangan ikhtilath.

Namun tetap harus diingat, bahwa kelonggaran ini bukan untuk menjadi pembenaran atas pergaulan bebas yang bertentangan dengan syariat. Di balik kebebasan modern, umat Islam harus tetap menanamkan kesadaran akan batasan, rasa malu, dan kontrol diri. Karena syahwat tidak mengenal ruang dan waktu—ia bisa menyelinap dalam ruang terbuka maupun tersembunyi.

Maka, memahami ikhtilath di era modern berarti memahami urgensi menjaga batas sambil tetap aktif dan produktif dalam masyarakat. Syariat Islam hadir bukan untuk menghambat kemajuan, tapi untuk membimbing langkah agar tidak tergelincir dalam kehancuran.

Continue Reading

Ruang Sujud

Adab dan Etika Pergaulan dalam Islam: Menghindari Ikhtilath yang Merusak

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga dengan sesama manusia—termasuk dalam hal pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Dalam pergaulan ini, Islam menetapkan adab dan etika yang tegas agar tidak terjadi pelanggaran yang berujung pada maksiat. Salah satu prinsip penting yang dijaga adalah menghindari ikhtilath atau percampuran bebas.

Pergaulan dalam Islam dibangun atas dasar kehormatan, kesopanan, dan rasa tanggung jawab. Islam sangat menjunjung tinggi martabat perempuan dan menjaga kehormatan laki-laki. Maka, aturan-aturan yang tampak ketat dalam pergaulan bukanlah bentuk pengekangan, melainkan penjagaan terhadap fitrah dan kemuliaan manusia.

Etika dasar yang pertama adalah menundukkan pandangan. Dalam QS. An-Nur ayat 30-31, Allah memerintahkan kaum mukmin untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Ini adalah langkah awal agar interaksi tidak berubah menjadi ajang syahwat atau godaan yang mengarah pada zina hati.

Kedua, berbicara dengan adab dan secukupnya. Al-Qur’an memperingatkan perempuan agar tidak melembutkan suara ketika berbicara dengan laki-laki asing, agar tidak menimbulkan harapan di hati orang yang memiliki penyakit dalam hatinya (QS. Al-Ahzab: 32). Ini menunjukkan bahwa pembicaraan pun harus dijaga.

Ketiga, menghindari khalwat, yaitu berdua-duaan tanpa mahram. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Tirmidzi). Oleh karena itu, sistem pertemuan atau kerja yang melibatkan dua orang berbeda jenis harus diatur agar tidak terjebak dalam suasana yang membuka celah maksiat.

Keempat, menjaga jarak fisik dan tidak bersentuhan. Dalam Islam, bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tanpa kebutuhan darurat adalah hal yang dilarang. Bahkan, Rasulullah SAW menyatakan bahwa lebih baik kepala ditusuk dengan jarum besi daripada menyentuh perempuan yang bukan mahram (HR. Thabrani).

Semua adab dan etika ini bukan untuk mempersulit kehidupan, melainkan untuk menjaga kejernihan hati dan kemurnian niat dalam bergaul. Islam tidak menutup peluang interaksi, selama dalam kerangka profesional dan syar’i. Dalam pendidikan, kerja, maupun kegiatan sosial, laki-laki dan perempuan bisa bekerja sama, asalkan tetap menjaga batas.

Menghindari ikhtilath adalah bagian dari memuliakan diri sendiri dan orang lain. Ketika etika ini diabaikan, pergaulan menjadi liar, nilai malu luntur, dan dosa pun menjadi ringan di mata. Sebaliknya, dengan menjaga adab, pergaulan menjadi berkah dan membawa kebaikan bagi semua.

Continue Reading

Ruang Sujud

Bahaya Ikhtilath: Ketika Batas Aurat dan Syahwat Terkaburkan

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Ikhtilath atau percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram bukan hanya melanggar etika sosial dalam Islam, tetapi juga membawa dampak serius terhadap kesehatan spiritual dan moral umat. Ketika batas aurat tak lagi dijaga dan syahwat dibiarkan bebas, kehancuran moral hanya tinggal menunggu waktu.

Di zaman sekarang, ikhtilath sering dianggap hal yang biasa. Pergaulan bebas yang diperlihatkan di media, sistem kerja tanpa sekat gender, hingga acara-acara sosial yang tak mengenal batasan, menjadi ladang subur bagi syahwat untuk tumbuh tanpa kendali. Padahal, Islam sangat jelas melarang segala bentuk interaksi yang bisa membuka pintu fitnah.

Bahaya ikhtilath bukan hanya terletak pada kontak fisik semata, tetapi juga dalam hal-hal yang tampak kecil: saling memandang dengan syahwat, bercanda tanpa batas, hingga membuka aurat yang seharusnya ditutup. Semua itu menjadi sebab hati mulai condong, pikiran tak lagi jernih, dan iman pun melemah.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya pandangan itu adalah salah satu panah dari panah-panah iblis. Barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantinya dengan keimanan yang manisnya akan dia rasakan di dalam hatinya.” (HR. Al-Hakim). Hadis ini menjadi peringatan kuat bahwa syahwat sering kali bermula dari pandangan yang tidak dijaga dalam suasana ikhtilath.

Selain itu, ikhtilath bisa menimbulkan zina hati, yaitu bentuk kemaksiatan yang bermula dari pikiran dan perasaan. Zina mata, zina telinga, dan zina hati adalah tahap-tahap menuju kehancuran diri yang sering kali tidak disadari. Ketika ikhtilath dianggap hal yang wajar, batas antara halal dan haram pun menjadi kabur.

Banyak kasus pelecehan, perselingkuhan, hingga perceraian yang berawal dari interaksi bebas yang tidak terjaga. Dunia kerja, kampus, bahkan lembaga-lembaga keagamaan bisa terpapar bahaya ini jika tidak ada pengawasan dan kesadaran untuk menjaga batas.

Karena itu, penting bagi umat Islam untuk kembali kepada panduan syariat. Menjaga aurat, menghindari khalwat, berbicara dengan sopan, serta mengatur ruang interaksi agar tetap terjaga adalah ikhtiar agar hidup tetap dalam lindungan Allah. Bukan berarti membenci lawan jenis, tetapi menghormatinya dengan cara yang sesuai dengan petunjuk Ilahi.

Ikhtilath memang bisa terlihat menyenangkan sesaat, namun bahayanya bisa merusak masa depan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, lebih baik mencegah sejak dini daripada menyesal di kemudian hari.

Continue Reading

Ruang Sujud

Ikhtilath dalam Pandangan Islam: Batasan yang Harus Dijaga

Ahmad Munawir

Published

on

Monitorday.com – Dalam kehidupan sosial, interaksi antara laki-laki dan perempuan merupakan sesuatu yang tak bisa dihindari. Namun, Islam sebagai agama yang sempurna menetapkan batasan-batasan yang tegas dalam pergaulan antara dua lawan jenis. Salah satunya adalah larangan ikhtilath atau percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

Secara bahasa, ikhtilath berarti bercampur atau berbaur. Sedangkan dalam istilah fikih, ikhtilath merujuk pada keadaan di mana laki-laki dan perempuan berada dalam satu tempat tanpa pemisahan atau batasan yang jelas, sehingga memungkinkan terjadinya kontak fisik, pandangan yang tidak dijaga, hingga fitnah yang merusak.

Al-Qur’an dan Hadis banyak memberikan arahan agar kaum muslimin menjaga diri dari pergaulan yang tidak terkontrol. Dalam QS. An-Nur ayat 30-31, Allah memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga agar interaksi antara lawan jenis tidak melanggar batas-batas yang ditentukan.

Rasulullah SAW juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan beliau. Dalam banyak kesempatan, beliau memisahkan barisan antara laki-laki dan perempuan, bahkan dalam urusan ibadah seperti shalat berjamaah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat hati-hati dalam menjaga interaksi agar tidak menjerumuskan umat pada maksiat.

Namun, bukan berarti Islam menutup pintu interaksi antara laki-laki dan perempuan sama sekali. Dalam kondisi tertentu yang mendesak, seperti pendidikan, perdagangan, atau urusan publik lainnya, interaksi boleh terjadi selama tetap menjaga adab, menutup aurat, dan menghindari khalwat (berduaan). Adanya hijab, pemisahan ruang, dan pengawasan menjadi solusi yang diajukan Islam agar interaksi tetap dalam koridor syariat.

Dalam dunia modern yang semakin bebas, tantangan dalam menjaga batasan ikhtilath semakin besar. Budaya kerja, sistem pendidikan, hingga media sosial kerap memperlihatkan pergaulan bebas yang jauh dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memperkuat pemahaman agama, menjaga diri dari fitnah, serta membentengi hati dengan keimanan.

Ikhtilath bukan hanya soal fisik yang bercampur, tapi juga tentang hati yang mulai terpengaruh, pikiran yang terbawa, dan pandangan yang tidak dijaga. Maka, menjaga batas bukanlah bentuk pengekangan, melainkan perlindungan agar jiwa tetap bersih dan hidup diberkahi.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



News18 minutes ago

PPHI Siapkan Bus Antar Jamaah Rute Mekkah Madinah

Ruang Sujud2 hours ago

Perbedaan Antara Riba dan Keuntungan Bisnis Halal

News3 hours ago

Hamas Difitnah, Ini Respon Ulama Muda Muhammadiyah

Ruang Sujud6 hours ago

Bahaya Riba terhadap Ekonomi dan Kehidupan Sosial

News7 hours ago

Polisi Israel Ini Masuk Islam Sebab Saksikan Penderitaan Palestina

News9 hours ago

Rusia-Ukraina Bakal Gelar Perundingan Damai di Turki, Bagaimana Sikap China?

Sportechment9 hours ago

Mengintip Perjalanan Karir Carlo Ancelotti dari Pemain Legendaris-Pelatih yang Dihormati

Sportechment10 hours ago

Polemik Soal Royalti, LMKN Spill Aturan Putar Musik di Ruang Publik

Sportechment10 hours ago

Sokong Venezia Keluar dari Zona Degradasi, Jay Idzes Raih Rapor Hijau

Ruang Sujud10 hours ago

Riba dalam Islam: Dosa Besar yang Sering Diremehkan

News19 hours ago

AS dan China Sepakati Pemangkasan Tarif Dagang, Pasar Global Auto Menguat

News21 hours ago

Inilah Sosok di Balik Kemenangan Militer Pakistan Atas India

Ruang Sujud22 hours ago

Menjadikan Dzikrul Maut sebagai Motivasi Hidup yang Lebih Bermakna

News24 hours ago

Militer Israel Temukan Jasad Tentaranya yang Hilang Selama 43 Tahun

Review1 day ago

Wisuda SMK CBM Purwokerto: Parody Hollywood Sonoan Dikit

Sportechment1 day ago

Marc Marquez Pilih Main Aman di MotoGP Prancis demi Target Juara Dunia

News1 day ago

Kronologi Ledakan saat Pemusnahan Amunisi di Garut Tewaskan 13 Orang

Sportechment1 day ago

Dipanggil Jadi Saksi di Kasus Blake Lively dan Justin Baldoni, Taylor Swift Respon Begini

News1 day ago

Hamas Siap Bebaskan Sandera AS-Israel, Upaya Gencatan Senjata Kembali Menguat

Infrastruktur1 day ago

UMK Academy Pertamina Dorong UMKM Naik Kelas dan Tembus Pasar Internasional