Monitorday.com – Fenomena sosial dan politik yang meledak pada Agustus 2025 di Indonesia menghadirkan gambaran yang tak jauh berbeda dengan kisah tentang black mamba, ular paling mematikan di dunia. Ular ini memang tidak menyerang tanpa sebab, tetapi sekali merasa terancam, ia mampu melepaskan bisa yang mematikan, bahkan lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan tubuh manusia untuk bereaksi. Analogi ini terasa sangat relevan ketika kita menyaksikan luapan amarah publik yang tumpah ruah di jalanan pada bulan itu amarah yang sebenarnya tidak muncul begitu saja, melainkan meledak sebagai reaksi karena kondisi ekonomi yang menekan dan pernyataan politisi yang tidak peka terhadap penderitaan rakyat.
Kondisi ekonomi nasional pada pertengahan 2025 berada dalam tekanan yang luar biasa. Harga kebutuhan pokok melonjak, lapangan kerja semakin terbatas, dan daya beli masyarakat melemah dari hari ke hari. Bagi rakyat, hidup terasa seperti berjalan di ladang ranjau: kapan saja beban itu bisa meledak. Oleh karena itu, masyarakat sesungguhnya berharap ada empati, kepemimpinan yang menenangkan, serta kebijakan konkret yang mampu mengurangi penderitaan. Namun, kenyataannya berbeda. Justru yang terdengar dari sebagian politisi adalah ucapan sinis, bahkan cenderung meremehkan kesulitan rakyat.
Kata-kata itulah yang akhirnya menjadi percikan api. Seperti black mamba yang diprovokasi, publik pun bereaksi keras. Amarah sosial berubah menjadi demonstrasi besar-besaran. Jalan-jalan ibu kota dan daerah lain menjadi saksi bagaimana energi frustrasi yang lama terpendam akhirnya dilampiaskan. Halte terbakar, gedung pemerintahan dirusak, dan infrastruktur kota hancur berantakan. Lebih ironis lagi, aparat kepolisian justru menjadi korban. Padahal, polisi bukanlah pihak yang melontarkan kalimat menyakitkan itu; mereka hanyalah perisai di garis depan, sehingga merekalah yang harus menerima luapan emosi rakyat.
Apabila dilihat dari perspektif fenomenologi, peristiwa ini bukan sekadar kerusuhan sosial, melainkan ledakan kesadaran kolektif yang pecah. Rakyat seolah tidak lagi bisa membedakan siapa yang bersalah dan siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Segalanya larut dalam satu kemarahan yang meletup, seperti bisa black mamba yang menyebar cepat ke seluruh tubuh. Dalam kondisi semacam itu, akal sehat pun hilang. Yang tersisa hanyalah dorongan untuk melampiaskan rasa sakit, rasa tidak dihargai, serta rasa dikhianati.
Namun, yang perlu digarisbawahi adalah akar masalahnya: politik yang tidak berempati. Kata-kata seorang politisi dalam situasi krisis bukan sekadar retorika; ia bisa menjadi penyembuh luka sosial, tetapi juga bisa menjadi pemantik kerusuhan. Ketika bahasa politik kehilangan empati, dampaknya justru lebih destruktif daripada kebijakan ekonomi yang salah.
Tiga pandangan ahli berikut memperkuat gambaran tersebut.
Andi, pakar pendidikan menegaskan bahwa:
“Bahasa politisi dalam situasi krisis adalah bahasa performatif. Ia tidak sekadar menyampaikan informasi, melainkan membentuk realitas sosial. Oleh karena itu, ucapan yang tidak empatik bisa memicu krisis legitimasi dan mendorong publik merasa ditinggalkan.”
Sementara itu, Rifqy menyampaikan:
“Ketika tekanan ekonomi tinggi, masyarakat berada dalam kondisi mental yang rapuh. Walaupun pemerintah berusaha memberikan stabilitas, ucapan pejabat yang menihilkan penderitaan rakyat justru menjadi bensin di atas bara. Dampaknya bisa jauh lebih mahal daripada biaya subsidi atau bantuan sosial yang dihemat.”
Senda dengan itu, Diana Sari menilai:
“Polisi sering menjadi tameng di jalanan, padahal sasaran sesungguhnya adalah elite politik. Fenomena Agustus 2025 menunjukkan betapa lemahnya komunikasi politik yang bijak. Akibatnya, polisi yang tidak bersalah akhirnya menjadi korban salah arah amarah publik.”
Fenomena black mamba ini memberi pelajaran penting: amarah publik bukanlah sesuatu yang lahir dalam sekejap, melainkan berakar pada rasa terancam, tertekan, dan tidak dihargai. Sekali dilampiaskan, amarah itu bisa mematikan, merusak tatanan sosial, dan mengorbankan pihak-pihak yang tidak seharusnya.
Agustus 2025 pun tercatat sebagai bulan ketika rakyat menjelma black mamba: marah, terluka, dan berbahaya. Pertanyaannya, apakah para politisi belajar dari bisa mematikan itu? Ataukah mereka justru akan mengulang kesalahan yang sama menganggap enteng penderitaan rakyat dan membiarkan racun sosial terus menyebar?