Monitorday.com – Takabbur, atau kesombongan, adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya dalam kehidupan manusia. Ia membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, bahkan terkadang merasa lebih dari Allah dengan menolak kebenaran. Dalam Islam, takabbur adalah sifat tercela yang dapat menghalangi seseorang masuk surga. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk memahami bagaimana cara menghindari sikap takabbur dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah dari Allah. Kekayaan, kecerdasan, kecantikan, jabatan, bahkan kemampuan beribadah, semuanya adalah karunia, bukan semata-mata hasil usaha pribadi. Kesadaran ini akan menumbuhkan rasa syukur dalam hati, bukan rasa bangga yang berlebihan. Orang yang bersyukur menyadari bahwa tanpa pertolongan Allah, ia bukanlah siapa-siapa.
Kedua, perbanyaklah mengingat asal usul kita. Allah menciptakan manusia dari tanah yang hina, lalu meniupkan ruh ke dalamnya. Dari proses penciptaan ini saja, kita sudah diingatkan bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri. Kita semua berasal dari sumber yang sama, dan akan kembali ke tanah. Kesadaran ini akan membuat hati lebih tunduk dan rendah hati.
Ketiga, belajarlah untuk menghargai kelebihan orang lain. Sering kali takabbur muncul karena kita hanya fokus pada kelebihan diri sendiri dan buta terhadap keistimewaan orang lain. Padahal setiap manusia diciptakan dengan keunikan dan kelebihan masing-masing. Mengakui kehebatan orang lain bukan berarti kita menjadi rendah, melainkan menunjukkan kebesaran hati dan kedewasaan.
Keempat, biasakan diri untuk selalu introspeksi. Setiap malam sebelum tidur, luangkan waktu sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: adakah hari ini aku merasa lebih baik dari orang lain? Adakah aku meremehkan orang lain, walaupun dalam hati? Introspeksi ini penting untuk mendeteksi benih-benih takabbur sebelum ia tumbuh besar dan sulit dikendalikan.
Kelima, latihlah diri untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan. Seseorang yang sombong akan sulit mengakui kesalahan karena merasa dirinya selalu benar. Dengan membiasakan diri minta maaf, kita melatih hati untuk lebih rendah dan tidak kaku terhadap koreksi. Ini adalah salah satu bentuk kerendahan hati yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Keenam, jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain dalam hal duniawi. Membandingkan kekayaan, jabatan, atau prestasi seringkali menjadi pintu masuk kesombongan. Fokuslah pada perbaikan diri sendiri, bukan pada mengungguli orang lain. Rasulullah SAW mengajarkan agar kita melihat ke atas dalam hal agama, tetapi melihat ke bawah dalam hal dunia agar kita tetap bersyukur.
Ketujuh, bergaullah dengan orang-orang yang rendah hati. Lingkungan pertemanan sangat berpengaruh terhadap karakter seseorang. Bergaul dengan orang-orang yang suka merendah, yang tidak suka pamer, dan yang selalu mengingatkan kepada Allah, akan menulari kita dengan sifat-sifat yang mulia tersebut. Sebaliknya, bergaul dengan orang yang sombong hanya akan menumbuhkan sifat takabbur dalam diri kita.
Kedelapan, perbanyaklah membaca kisah-kisah para nabi, sahabat, dan ulama salaf. Mereka adalah teladan terbaik dalam hal kerendahan hati. Nabi Muhammad SAW, manusia termulia, tetap hidup sederhana, makan bersama budak, dan tidak pernah memandang rendah orang miskin. Kisah-kisah ini akan menjadi motivasi kuat untuk meneladani akhlak mereka.
Kesembilan, pelajari hakikat dunia yang fana. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Kekayaan, popularitas, dan jabatan yang sering menjadi sumber kesombongan, semuanya akan hilang saat kita mati. Menyadari kefanaan dunia akan membantu kita untuk tidak melekatkan hati pada hal-hal duniawi yang sering menjadi sumber kesombongan.
Kesepuluh, banyaklah berdoa kepada Allah agar dilindungi dari sifat takabbur. Kita lemah, dan sering kali tidak sadar saat sifat sombong mulai masuk ke dalam hati. Maka, mintalah kepada Allah dengan doa seperti yang diajarkan Rasulullah: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat ujub, takabbur, dan riya’.” Dengan memohon perlindungan, kita menunjukkan sikap butuh kepada Allah dan menjaga hati agar tetap bersih.
Takabbur memang berbahaya, tapi bukan berarti tidak bisa dihindari. Dengan kesadaran, usaha terus-menerus, dan pertolongan Allah, kita bisa menjaga hati dari penyakit ini. Sikap rendah hati bukan hanya membuat kita lebih dicintai manusia, tetapi lebih penting lagi, membuat kita lebih dekat kepada Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kerendahan hati adalah kunci ketenangan jiwa. Orang yang rendah hati tidak mudah stres karena tidak sibuk mempertahankan gengsi. Ia lebih mudah bersyukur, lebih lapang menerima kekurangan diri, dan lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan. Maka, mari kita sama-sama berjuang untuk membersihkan hati dari takabbur dan menumbuhkan sifat tawadhu’ dalam diri kita.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang rendah hati dan jauh dari sifat takabbur.
Aamiin.