Monitorday.com – Fathul Makkah atau Penaklukan Makkah merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam. Peristiwa ini terjadi pada tahun 8 Hijriah (630 M) dan menjadi titik balik bagi umat Islam dalam menyebarkan ajaran tauhid. Tidak seperti penaklukan pada umumnya yang diwarnai pertumpahan darah, Rasulullah ﷺ dan pasukannya berhasil memasuki Makkah dengan damai dan tanpa perlawanan berarti.
Latar Belakang Fathul Makkah
Sebelum Fathul Makkah terjadi, umat Islam dan kaum Quraisy terikat dalam Perjanjian Hudaibiyah yang disepakati pada tahun 6 Hijriah. Salah satu isi perjanjian itu adalah tidak adanya peperangan antara kedua belah pihak selama 10 tahun. Namun, perjanjian ini dilanggar oleh kaum Quraisy ketika mereka membantu sekutu mereka, Bani Bakr, menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu kaum Muslimin.
Melihat pengkhianatan ini, Rasulullah ﷺ memutuskan untuk bertindak. Beliau mempersiapkan pasukan besar berjumlah sekitar 10.000 orang untuk berangkat ke Makkah. Strategi yang digunakan Nabi sangat cerdas, yaitu merahasiakan rencana ekspedisi ini agar Quraisy tidak sempat menyusun strategi perlawanan.
Strategi Rasulullah dalam Penaklukan Makkah
Sebelum tiba di Makkah, Rasulullah ﷺ memerintahkan pasukannya untuk menyalakan banyak api unggun di sekitar perkemahan guna menciptakan efek psikologis bagi Quraisy. Ketika Abu Sufyan, pemimpin Quraisy saat itu, menyaksikan besarnya pasukan Muslim, ia pun sadar bahwa mereka tidak akan mampu melawan.
Abu Sufyan akhirnya ditangkap oleh pasukan Muslim dan dibawa menghadap Rasulullah ﷺ. Dalam pertemuan itu, beliau menawarkan tiga pilihan keselamatan bagi penduduk Makkah:
1. Masuk Islam dan mendapatkan jaminan keselamatan.
2. Berlindung di rumah Abu Sufyan yang dijadikan tempat aman.
3. Tetap berada di dalam rumah masing-masing dan tidak melakukan perlawanan.
Setelah itu, Abu Sufyan pun menyatakan keislamannya dan kembali ke Makkah untuk mengajak penduduknya menerima tawaran damai tersebut.
Masuknya Rasulullah ke Makkah
Pada 20 Ramadan 8 Hijriah, pasukan Muslim memasuki Makkah dari berbagai arah tanpa perlawanan berarti. Rasulullah ﷺ sendiri memasuki kota dengan penuh ketawadhuan, menundukkan kepala hingga hampir menyentuh pelana unta, sebagai simbol kerendahan hati dan syukur kepada Allah.
Sesampainya di Ka’bah, Rasulullah ﷺ langsung menghancurkan berhala-berhala yang masih berada di sekelilingnya sambil membacakan firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 81:
“Dan katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.’”
Seluruh berhala dihancurkan, menandakan akhir dari penyembahan berhala di Makkah dan awal dari kembalinya kota suci ini ke ajaran tauhid.
Pemaafan yang Luar Biasa
Salah satu momen paling mengharukan dalam Fathul Makkah adalah ketika Rasulullah ﷺ memberikan pengampunan kepada kaum Quraisy yang sebelumnya telah menyakiti dan mengusirnya dari kota ini.
Rasulullah ﷺ berkata kepada mereka:
“Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan kepada kalian?”
Mereka menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia dan anak dari saudara yang mulia.”
Lalu Rasulullah ﷺ berkata:
“Pergilah kalian, karena kalian telah bebas.”
Keputusan ini sangat mengejutkan, mengingat kaum Quraisy selama bertahun-tahun telah memusuhi Islam. Namun, kebesaran hati Rasulullah ﷺ justru membuat banyak dari mereka akhirnya memeluk Islam dengan sukarela.
Dampak Fathul Makkah
Fathul Makkah membawa perubahan besar dalam sejarah Islam dan Jazirah Arab. Beberapa dampak penting dari peristiwa ini adalah:
1. Makkah menjadi pusat Islam. Dengan dihancurkannya berhala-berhala dan disucikannya Ka’bah, kota ini kembali menjadi pusat tauhid sebagaimana yang dimaksudkan sejak zaman Nabi Ibrahim.
2. Banyaknya orang yang masuk Islam. Keputusan Rasulullah ﷺ untuk tidak membalas dendam justru membuat penduduk Makkah dan suku-suku di sekitarnya masuk Islam dalam jumlah besar.
3. Munculnya stabilitas politik. Sebelumnya, Jazirah Arab dipenuhi konflik antarsuku. Setelah Fathul Makkah, banyak suku mulai tunduk kepada kepemimpinan Islam.
4. Penyebaran Islam yang lebih luas. Setelah penaklukan ini, dakwah Islam berkembang pesat hingga ke seluruh Jazirah Arab.
Pelajaran dari Fathul Makkah
Fathul Makkah mengajarkan kita banyak hal, di antaranya:
Kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi tantangan. Rasulullah ﷺ dan para sahabat menghadapi berbagai cobaan sebelum akhirnya mendapatkan kemenangan ini.
Pentingnya strategi dalam berjuang. Nabi tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga diplomasi dan efek psikologis untuk memenangkan hati musuh.
Kekuatan pemaafan dan kasih sayang. Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukanlah sekadar mengalahkan musuh, tetapi meraih hati mereka dengan kasih sayang.
Kesimpulan
Fathul Makkah bukan sekadar penaklukan militer, tetapi sebuah kemenangan moral dan spiritual yang menunjukkan keagungan Islam. Keputusan Rasulullah ﷺ untuk tidak membalas dendam dan memberikan pengampunan justru menjadi faktor utama yang membuat banyak orang akhirnya menerima Islam. Peristiwa ini juga menandai titik balik dalam sejarah Islam, menjadikan Makkah sebagai pusat peradaban Islam yang tetap bertahan hingga kini.
Dari kisah Fathul Makkah, kita belajar bahwa kekuatan sejati bukanlah pada pedang, tetapi pada akhlak yang mulia dan sikap penuh kasih sayang terhadap sesama manusia.