Monitorday.com – Sebanyak 152 atlet karate tradisional yang tergabung dalam Indonesian Traditional Karate Federation (INATKF) resmi diberangkatkan ke ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) VIII yang digelar di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 25 Juli hingga 1 Agustus 2025. Kontingen besar ini mewakili 13 provinsi dengan semangat “Indonesia Aktif” yang menjadi nafas gerakan olahraga masyarakat nasional.
Ketua Umum INATKF, Dr. Muhammad Muchlas Rowi, menyatakan bahwa INATKF menjadikan FORNAS sebagai momentum penting untuk menunjukkan bahwa karate tradisional bukan hanya olahraga prestasi, tapi juga warisan budaya yang hidup.
Sebagai anggota Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), INATKF memandang FORNAS selain menjadi panggung penting untuk merajut keberagaman. Event ini juga wadah bagi atlet-atlet junior untuk mengukir prestasi.
Tokoh Jawa Barat ini mengungkapkan targetnya agar atlet-atlet INATKF yang terjun di FORNAS NTB bisa meraih prestasi yang membanggakan.
“Melalui partisipasi ini, INATKF ingin menunjukkan bahwa karate tradisional adalah soft diplomacy Indonesia. Ia mendidik mental, melatih fisik, dan menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang,” ungkap Sekjen Internatioal Karate Federation (ITKF) Asia di Jakarta, Kamis (24/07).
FORNAS VIII mengusung tema “Nusa Tenggara Barat, Kalah Menang Semua Senang”, dengan simbol Rusa Timorensis yang merepresentasikan keunikan fauna lokal NTB. Semangat inklusif dan rekreatif inilah yang membuat ajang ini berbeda dari kompetisi olahraga lainnya: tidak hanya mengejar podium, tapi juga merayakan kebersamaan dan keragaman Indonesia.
Para atlet INATKF yang diberangkatkan akan bertanding di lebih dari 25 kategori yang terbagi berdasarkan usia dan nomor tanding: Kata, Kumite, Kata & Kumite, Fukugo, hingga kelas Master. Berdasarkan data federasi, kategori terbanyak datang dari kelompok usia 11–15 tahun dengan puluhan peserta tersebar dalam kelompok putra, putri, maupun gabungan. Diikuti oleh usia 16–21 tahun dan kelas dewasa 22–45 tahun. Bahkan, kategori Master usia 46–55 tahun pun menunjukkan gairah luar biasa, mencatat puluhan atlet siap berlaga.
Sekretaris Jenderal INATKF, Bachtiar Effendy, menyampaikan bahwa semua atlet telah melalui pembinaan ketat. Tidak sedikit dari mereka yang berasal dari komunitas akar rumput, dojo-dojo kecil, hingga pesantren dan sekolah daerah yang menjadi basis pengembangan karate tradisional selama ini.
“Ini bukan hanya soal atlet unggulan, tapi soal keterlibatan komunitas. Di balik mereka ada pelatih lokal, guru, dan orang tua yang menjaga nyala semangat tradisi,” jelas Bachtiar.
Ia juga menambahkan bahwa keikutsertaan di FORNAS adalah peluang untuk membangun jejaring baru, memperkuat solidaritas antardaerah, dan menegaskan bahwa olahraga rekreasi punya tempat penting dalam pembangunan karakter bangsa.
Bachtiar pun berharap para atlet bisa menunjukkan performa terbaiknya dan menjadi inspirasi untuk terus aktif bergerak, menjaga kebugaran, dan mencintai nilai-nilai budaya.
Diketahui, jumlah atlet yang mengikuti FORNAS 2025 adalah sekitar 20.000 orang, yang terdiri dari pegiat olahraga dari berbagai daerah di Indonesia. FORNAS VIII tahun 2025 akan melibatkan 72 Induk Organisasi Olahraga (Inorga).
Selain atlet, FORNAS juga melibatkan banyak pengunjung dan peserta dari berbagai kalangan, menjadikannya ajang olahraga sekaligus ruang kolaborasi budaya dan komunitas olahraga.