Monitorday.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan yang bermutu, inklusif, dan berlandaskan nilai karakter adalah fondasi utama untuk membangun peradaban yang damai, berkelanjutan, dan berkeadaban. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato kuncinya pada G20 Interfaith Forum (IF20) yang digelar di Cape Town, Afrika Selatan, Selasa (12/8/2025).
“Tidak ada seorang pun, terutama anak-anak, yang boleh tertinggal dari pendidikan hanya karena faktor ekonomi, geografis, kondisi fisik, gender, etnis, ras, atau agama,” tegas Mu’ti dalam pidatonya.
Menteri Mu’ti menekankan bahwa pendidikan merupakan alat paling efektif dalam membentuk generasi masa depan yang beretika dan bermoral. Ia juga menyampaikan pentingnya literasi lintas budaya dan agama sebagai fondasi untuk membangun karakter yang toleran dan menghormati keberagaman.
“Karakter tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui pembiasaan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sebagai wujud komitmen Indonesia terhadap pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjalankan dua program utama:
- Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang mencakup: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, giat belajar, aktif bermasyarakat, dan tidur tepat waktu.
- Penguatan Peran Guru sebagai pendidik sekaligus pembimbing. “Setiap guru adalah orang tua kedua yang membimbing potensi siswa menjadi generasi unggul,” kata Mu’ti.
Selain itu, ia memperkenalkan pendekatan baru yang akan diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia: Pembelajaran Mendalam, yang mengedepankan tiga prinsip utama — joyful, meaningful, dan mindful. Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya mengetahui, tetapi juga memahami pelajaran secara holistik.
Setelah pemaparan Mu’ti, forum dilanjutkan dengan diskusi panel bersama para tokoh pendidikan dan pemimpin komunitas global, termasuk Menteri Pendidikan Dasar Afrika Selatan Siviwe Gwarube, Direktur Eksekutif Leimena Institute Indonesia Matius Ho, dan Direktur Eksekutif Arigatou International Geneva Maria Lucia Uribe Torres.
Matius Ho memuji pendekatan Indonesia yang menyeimbangkan aspek kognitif dan karakter. “Inisiatif ini sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini, terutama dalam membangun tanggung jawab kewargaan melalui kegiatan kokurikuler,” ujarnya.
Senada, Maria Lucia Uribe Torres menambahkan bahwa pendidikan global terlalu lama fokus pada aspek kognitif, padahal aspek sosial, emosional, dan spiritual anak sama pentingnya. Ia menekankan perlunya pendidikan yang mendukung penghormatan terhadap keberagaman budaya, bahasa, dan agama.
Menutup pidatonya, Abdul Mu’ti mengajak seluruh pihak—pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, dan media—untuk bersama-sama membentuk generasi yang berilmu dan bijak dalam kehidupan sosial.
“Melalui persatuan lintas budaya dan lintas iman, kita dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tapi juga memiliki karakter dan tangguh menghadapi perubahan,” pungkasnya.
G20 Interfaith Forum (IF20) yang berlangsung pada 10–14 Agustus 2025 di Cape Town, Afrika Selatan, mengangkat tema “Ubuntu in Action: Focus on Vulnerable Communities.”
Forum ini merupakan platform global yang mempertemukan pemimpin agama, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk mendorong dialog antaragama dan merumuskan kebijakan inklusif di tingkat G20. Sejak berdiri pada 2014, IF20 menjadi sarana diplomasi nilai dan kemanusiaan lintas iman.