Monitorday.com – Dalam ajaran Islam, nubuwah adalah konsep fundamental yang menjelaskan hubungan antara manusia pilihan dengan wahyu Ilahi. Nubuwah bukan hanya status spiritual, tapi juga amanah besar yang diberikan Allah kepada para Nabi untuk membimbing umat manusia menuju jalan yang benar. Konsep ini membentang dari sisi teologis hingga praktis dalam kehidupan umat Islam.
Pengertian Nubuwah
Secara etimologis, kata nubuwwah berasal dari bahasa Arab naba’a yang berarti “berita” atau “kabar penting”. Dalam konteks teologis, nubuwah mengacu pada kenabian, yaitu kedudukan seseorang yang dipilih oleh Allah untuk menerima wahyu dan menyampaikannya kepada umat manusia. Orang tersebut disebut Nabi, dan dalam beberapa kasus juga Rasul.
Para ulama membedakan antara Nabi dan Rasul. Rasul adalah Nabi yang menerima wahyu berupa syariat baru, sedangkan Nabi melanjutkan syariat sebelumnya. Namun, keduanya tetap membawa pesan kebenaran dari Allah SWT.
Wahyu sebagai Pilar Nubuwah
Wahyu merupakan elemen utama dari nubuwah. Tanpa wahyu, seseorang tidak bisa disebut Nabi. Wahyu menjadi sarana komunikasi antara Allah dan utusan-Nya. Proses ini bisa terjadi melalui malaikat, mimpi yang benar (ru’ya shadiqah), atau langsung dalam keadaan sadar.
Al-Qur’an menyebutkan:
“Dia (Allah) tidak berbicara kepada manusia kecuali melalui wahyu atau dari balik tabir atau mengutus seorang utusan (Jibril)…” (QS. Asy-Syura: 51)
Wahyu yang diterima para Nabi bukan hasil pemikiran atau ilham biasa, melainkan murni dari kehendak Allah. Ini membedakan nubuwah dari pengalaman spiritual atau filsafat biasa.
Tugas Para Nabi
Tugas utama Nabi adalah menyampaikan risalah (tabligh), memberikan kabar gembira (busyra) dan peringatan (inzar), serta menjadi teladan moral dan akhlak. Dalam QS. Al-Ahzab: 21, Allah menegaskan:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
Nabi juga bertugas untuk menjelaskan hukum-hukum Allah, membimbing umat dari kegelapan menuju cahaya, dan membangun masyarakat yang adil berdasarkan tauhid.
Keteladanan dalam Nubuwah
Salah satu aspek terpenting dari nubuwah adalah keteladanan. Para Nabi tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi hidup sesuai dengan ajaran yang mereka bawa. Rasulullah Muhammad SAW, misalnya, dikenal sebagai “Al-Amin” (yang terpercaya) bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi.
Keteladanan ini mencakup akhlak, kesabaran, keberanian, kejujuran, dan kasih sayang kepada sesama. Ini menjadikan nubuwah bukan hanya sesuatu yang teologis, tetapi juga sangat praktis dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.
Sifat-Sifat Wajib bagi Nabi
Para ulama menyepakati bahwa Nabi memiliki sifat-sifat khusus yang menjadi syarat kenabian, antara lain:
1. Shidiq (jujur)
2. Amanah (dapat dipercaya)
3. Tabligh (menyampaikan wahyu secara sempurna)
4. Fathanah (cerdas)
Sifat-sifat ini adalah standar minimal yang melekat pada setiap Nabi agar tidak diragukan oleh umatnya.
Penolakan dan Tantangan
Tidak semua orang menerima para Nabi. Banyak dari mereka mendapat penolakan, ejekan, bahkan ancaman pembunuhan. Namun, tantangan ini justru menjadi bukti keikhlasan dan kesungguhan mereka dalam menjalankan nubuwah. Dalam sejarah, Nabi Nuh AS berdakwah selama ratusan tahun namun hanya sedikit yang mengikutinya.
Begitu pula Nabi Musa AS menghadapi kekerasan dari Firaun, dan Rasulullah SAW mengalami boikot, pengasingan, hingga peperangan. Namun, para Nabi tidak pernah mundur dari tugas kenabian mereka.
Nubuwah Ditutup dengan Muhammad SAW
Islam mengajarkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup para Nabi (khatam an-nabiyyin). Tidak ada Nabi lagi setelah beliau, dan syariat yang dibawanya bersifat universal serta abadi hingga akhir zaman.
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Kedudukan ini menegaskan bahwa Islam sebagai agama terakhir membawa pesan yang sempurna, dan Rasulullah sebagai teladan utama sepanjang masa.
Relevansi Nubuwah di Era Modern
Meski tidak ada Nabi lagi, umat Islam tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga ajaran para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW. Ini dilakukan melalui dakwah, pendidikan, keteladanan, dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Nubuwah juga memberi inspirasi dalam kehidupan modern: bagaimana bersikap jujur, adil, dan memperjuangkan kebaikan meski berada dalam tekanan sosial yang tinggi.
Penutup
Hakikat nubuwah dalam Islam adalah kombinasi antara keistimewaan spiritual dan tanggung jawab sosial yang besar. Para Nabi adalah manusia terpilih yang bukan hanya menyampaikan wahyu, tapi juga menghidupkannya dalam praktik kehidupan. Mereka adalah teladan terbaik bagi umat manusia dalam menapaki jalan kebenaran dan keadilan.