Monitorday.com – Hari Tarwiyah bukan sekadar momen logistik dalam perjalanan ibadah haji. Dalam pandangan para ulama, tanggal 8 Dzulhijjah ini mengandung makna spiritual yang mendalam, bukan hanya bagi para jamaah haji, tetapi juga bagi seluruh umat Islam. Ia adalah hari kontemplasi, penguatan niat, dan pembentukan spiritualitas menjelang puncak ibadah haji. Pandangan para ulama dari berbagai mazhab memberi warna dan pemahaman yang kaya terhadap hari yang kerap terabaikan ini.
Dimensi Tarwiyah dalam Pandangan Ulama Klasik
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa setiap amalan lahiriah dalam haji sejatinya adalah cerminan dari perjalanan hati. Hari Tarwiyah, menurut beliau, adalah saat di mana seorang hamba menimbang niatnya, membersihkan hatinya dari ambisi duniawi, dan bersiap secara batin untuk bertemu dengan Allah. Ini selaras dengan makna dasar “tarwiyah” yang bermakna “merenung” atau “berpikir mendalam.”
Ibnu Rajab al-Hanbali: Momen Peralihan Menuju Puncak Ibadah
Ulama besar lainnya, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam karyanya Lathaif al-Ma’arif menyebutkan bahwa Hari Tarwiyah adalah pintu gerbang menuju hari-hari paling mulia dalam Islam. Ia menjelaskan bahwa hari ini seharusnya digunakan untuk memperbanyak zikir, doa, dan istighfar. Karena siapa pun yang menyucikan hatinya sebelum wukuf di Arafah, maka ia lebih siap menyerap keberkahan rahmat Allah pada hari itu.
Pendapat Ulama Kontemporer: Menghidupkan Tarwiyah di Luar Haji
Ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa Hari Tarwiyah juga bisa dihidupkan oleh mereka yang tidak berhaji. Beliau menganjurkan umat Islam di berbagai belahan dunia untuk mengisi hari ini dengan amalan saleh, puasa sunnah, dan tafakur. Menurutnya, ini adalah waktu yang strategis untuk refleksi diri sebelum menyambut hari Arafah dan Iduladha.
Tafsir Tarwiyah dalam Konteks Kehidupan Modern
Dalam konteks modern, Hari Tarwiyah menjadi simbol penting dari jeda dan evaluasi. Ustaz Salim A. Fillah misalnya, menyampaikan bahwa hari ini adalah momentum untuk “mengisi ulang ruhani”. Dalam dunia yang serba cepat, kita jarang punya waktu untuk menengok kondisi hati. Hari Tarwiyah memberi jeda bagi jiwa untuk memperbaiki niat, menyusun ulang prioritas hidup, dan bersiap menghadapi tantangan besar.
Nilai-Nilai Edukatif dari Tarwiyah
Beberapa pesan penting dari Hari Tarwiyah dalam perspektif ulama, antara lain:
Pentingnya perenungan sebelum tindakan. Nabi Ibrahim tidak langsung mengeksekusi mimpinya, tetapi merenung terlebih dahulu. Ini pelajaran bahwa tindakan besar memerlukan ketenangan dan kehati-hatian.
Menjaga niat dalam beramal. Dalam semua ibadah, niat adalah fondasi utama. Tarwiyah adalah momen memperkuat niat semata karena Allah.
Menjalani proses dengan sabar. Ujian besar seperti yang dialami Ibrahim dan Ismail tidak datang tiba-tiba. Ada proses pembelajaran yang dilalui secara bertahap, dimulai dari Tarwiyah.
Tarwiyah sebagai Simbol Kesabaran dan Ketaatan
Banyak ulama memandang Hari Tarwiyah sebagai lambang dari dua sifat utama seorang mukmin: sabar dan taat. Nabi Ibrahim dan Ismail AS menunjukkan bagaimana dua sifat itu menjadi kunci keberhasilan melewati ujian. Hari ini adalah saat tepat bagi umat Islam untuk merenung, apakah dalam kehidupan sehari-hari kita telah menjalankan dua sifat itu dengan konsisten.
Menghidupkan Tarwiyah dalam Lingkungan Keluarga
Ulama tarbiyah (pendidikan) mengingatkan bahwa Hari Tarwiyah juga bisa dimanfaatkan sebagai waktu untuk membangun nilai-nilai keislaman dalam keluarga. Orang tua bisa menjadikan hari ini sebagai momen dialog ruhani, mengajak anak-anak untuk berzikir bersama, membaca kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, serta mengaitkan pesan-pesan spiritual dengan realitas hidup masa kini.
Penutup: Tarwiyah adalah Cermin Jiwa
Hari Tarwiyah, dalam pandangan ulama, bukan sekadar bagian dari manasik haji. Ia adalah simbol kesiapan spiritual seorang hamba untuk menyambut kedekatan dengan Rabb-nya. Ulama telah memberi banyak pencerahan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan hari ini. Maka marilah kita jadikan Tarwiyah sebagai titik tolak perubahan diri—dari hati yang lalai menjadi hati yang hidup, dari amal yang biasa menjadi amal yang bermakna.