Monitorday.com – Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, banyak nilai yang perlahan-lahan mulai terlupakan. Salah satunya adalah iffah, sikap menjaga kehormatan diri. Meski sering dipandang kuno, sebenarnya iffah justru menawarkan sebuah keindahan yang langka: ketenangan, martabat, dan rasa percaya diri yang sejati.
Iffah berasal dari kata ‘afafa yang berarti menahan diri dari hal-hal yang tidak pantas. Dalam Islam, iffah mencakup menjaga pandangan, menjaga ucapan, menjaga perilaku, hingga menjaga kehormatan dalam relasi sosial. Ini adalah bentuk pengendalian diri yang menuntut kesadaran tinggi, bukan sekadar mengikuti arus.
Bayangkan, di dunia yang serba bebas ini, seseorang yang mampu menjaga dirinya dari godaan, dari perilaku yang merendahkan harga diri, adalah sosok yang sangat berharga. Mereka seperti bunga yang tetap mekar indah di tengah gurun, tetap wangi meski lingkungan sekitarnya penuh debu.
Dalam kehidupan sehari-hari, iffah bisa tampak dalam banyak bentuk sederhana. Seorang mahasiswa yang memilih untuk tidak menyontek meski semua temannya melakukannya. Seorang karyawan yang menolak suap walau ada kesempatan besar. Seorang pemuda yang menahan pandangan saat melewati sesuatu yang menggoda di jalan. Hal-hal kecil ini, saat dikumpulkan, membentuk karakter besar: pribadi ber-iffah.
Menjaga iffah bukan berarti mengasingkan diri dari dunia, tapi justru bersikap cerdas dalam berinteraksi. Ketika seseorang menjaga lisan dari gibah dan fitnah, ia sedang membangun reputasi baik tanpa perlu memaksakan diri. Ketika ia memilih pakaian yang sopan, ia sedang menunjukkan rasa hormat pada dirinya sendiri dan pada orang lain.
Kehidupan sosial kita hari ini seringkali menormalisasi perilaku yang dulu dianggap tercela. Dari konten media sosial yang vulgar, budaya flexing harta secara berlebihan, sampai pergaulan bebas yang dianggap lumrah. Dalam situasi seperti ini, iffah menjadi semacam “perlawanan sunyi” — tidak dengan marah-marah, tapi dengan konsistensi menjaga nilai.
Tentu menjaga iffah itu berat, apalagi saat lingkungan sekitar seperti membiarkan semua batasan runtuh. Tapi justru di situlah keindahannya. Seperti berlian yang terbentuk dari tekanan luar biasa, seseorang yang tetap menjaga dirinya di tengah ujian akan bersinar dengan keindahan yang tidak mudah dipalsukan.
Kita bisa belajar banyak dari teladan para tokoh Islam yang luar biasa dalam menjaga iffah. Misalnya, Mariam binti Imran, ibu Nabi Isa ‘alaihissalam, yang terkenal akan kesucian dan keteguhannya. Dalam Al-Qur’an, ia disebut sebagai wanita pilihan yang menjaga dirinya dengan penuh kehormatan, hingga namanya diabadikan sebagai salah satu surah.
Bagi kita yang hidup di zaman ini, menjaga iffah bisa dimulai dari langkah kecil. Misalnya, memilih tontonan yang bersih, memperhatikan apa yang kita bagikan di media sosial, atau menghindari candaan-candaan yang menjurus pada hal negatif. Kadang kita merasa itu hal sepele, tapi semua kebiasaan kecil itu, lama-lama membentuk siapa diri kita sebenarnya.
Salah satu keindahan dari iffah adalah munculnya rasa damai dalam hati. Ketika kita tidak merasa harus berpura-pura, tidak harus mengikuti standar dunia yang terus berubah, kita jadi lebih bisa menikmati hidup apa adanya. Kita tidak sibuk membandingkan diri, tidak terjebak dalam kebutuhan untuk selalu terlihat sempurna di mata orang lain.
Selain itu, orang yang menjaga iffah seringkali justru lebih dihormati, meskipun awalnya mungkin mereka dianggap “berbeda” atau “ketinggalan zaman”. Kehormatan yang dibangun atas dasar prinsip jauh lebih kokoh daripada popularitas sesaat. Orang lain bisa saja lupa dengan postingan viral atau tren singkat, tapi mereka akan selalu mengingat integritas seseorang.
Menariknya, menjaga iffah juga membuat hubungan antar manusia lebih sehat. Hubungan pertemanan, hubungan bisnis, bahkan hubungan percintaan menjadi lebih tulus karena dibangun atas dasar saling menghormati, bukan saling mengeksploitasi. Dengan iffah, kita tidak hanya menjaga diri sendiri, tapi juga menjaga orang lain dari perbuatan yang bisa menodai martabat mereka.
Dalam skala yang lebih luas, masyarakat yang menjunjung tinggi iffah akan lebih damai. Ketika semua orang saling menjaga adab dan batasan, kepercayaan sosial meningkat, dan kekerasan atau pelecehan bisa ditekan. Dunia yang lebih beradab berawal dari individu-individu yang mau menjaga dirinya.
Pada akhirnya, iffah bukanlah tentang membatasi kebahagiaan, tapi tentang menemukan kebahagiaan yang sejati — kebahagiaan yang tidak bergantung pada validasi orang lain, tapi bersumber dari rasa hormat terhadap diri sendiri. Itulah keindahan sejati yang banyak orang cari, tapi sering salah arah dalam mencapainya.
Jadi, jangan pernah merasa kecil karena memilih menjaga iffah. Justru di dunia yang sering melupakan kehormatan, orang-orang seperti kita lah yang memegang kunci masa depan yang lebih indah. Pelan-pelan, dengan langkah kecil setiap hari, kita bisa tetap menjaga diri, menjaga hati, dan menemukan keindahan yang sebenarnya dalam perjalanan hidup ini.