Monitorday.com – Dalam ajaran Islam, kekuatan sejati tidak selalu diukur dari kekuasaan, harta, atau pengaruh sosial. Ada kekuatan yang lebih halus namun jauh lebih berpengaruh: kekuatan spiritual. Salah satu pilar utama kekuatan ini adalah iffah — sikap menjaga kehormatan diri dengan penuh kesadaran dan ketulusan.
Iffah berasal dari kata kerja ‘afafa, yang berarti menjaga diri, menahan nafsu, dan menghindari hal-hal yang dapat mengurangi kemuliaan pribadi. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang memiliki iffah, bahkan menganjurkan untuk membantu mereka, seperti dalam Surah An-Nur ayat 33: “Dan orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya yang tidak mampu menikah, hendaklah mereka menjaga kehormatannya sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka dari karunia-Nya.”
Dalam kehidupan sehari-hari, iffah menjadi fondasi bagi kekuatan batin yang kokoh. Orang yang memiliki iffah akan lebih mampu mengendalikan dirinya dalam situasi apa pun, tidak mudah tergoda oleh dunia, dan tetap teguh pada prinsip meski menghadapi godaan besar. Ini adalah kekuatan yang tidak terlihat secara kasat mata, tetapi terpancar dalam sikap, pilihan, dan kepribadian seseorang.
Dalam sejarah Islam, banyak tokoh besar yang membuktikan bahwa iffah adalah sumber kekuatan luar biasa. Salah satunya adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam, yang menjadi simbol kesucian diri dalam menghadapi godaan berat. Saat berhadapan dengan rayuan istri pembesar Mesir, Yusuf memilih mempertahankan kehormatannya meski risikonya adalah dipenjara. Kisah ini bukan sekadar cerita moral, tapi bukti nyata bahwa menjaga iffah adalah kemenangan besar dalam jihad melawan hawa nafsu.
Kekuatan iffah juga terlihat dalam keseharian Rasulullah ﷺ. Beliau adalah sosok yang selalu menjaga adab dalam interaksi, penuh kasih, tetapi tetap tegas dalam menjaga prinsip. Rasulullah mengajarkan bahwa harga diri manusia lebih berharga daripada dunia dan seisinya, dan iffah adalah salah satu cara menjaga harga diri itu tetap utuh.
Saat ini, di tengah zaman yang serba bebas, menjaga iffah bisa terasa sangat menantang. Kita hidup di era di mana batasan-batasan moral sering dipertanyakan, bahkan dihapus. Media sosial, hiburan, dan budaya populer seringkali mengaburkan mana yang pantas dan mana yang tidak. Dalam situasi seperti ini, memiliki iffah bukan hanya soal menjaga citra, tapi tentang mempertahankan identitas diri yang autentik sebagai seorang Muslim.
Menjaga iffah juga membawa banyak dampak positif dalam aspek kehidupan lainnya. Dalam hubungan sosial, seseorang yang ber-iffah akan lebih dihormati, dipercaya, dan diandalkan. Dalam hubungan keluarga, iffah memperkuat nilai kesetiaan, rasa hormat, dan kasih sayang yang tulus. Dalam dunia kerja, iffah menjauhkan seseorang dari praktik curang, korupsi, atau perilaku tidak etis lainnya.
Sikap iffah mengajarkan kita untuk menahan diri bukan karena takut dilihat orang, tapi karena sadar bahwa Allah selalu mengawasi. Ini menumbuhkan keikhlasan dalam hati, membangun hubungan yang lebih dalam dengan Allah, dan menguatkan keteguhan iman. Seorang ulama besar, Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa iffah adalah bagian penting dari akhlak mulia yang menjadi jalan menuju kebahagiaan hakiki.
Lebih dari sekadar menjaga diri dari dosa, iffah mengajarkan kita untuk menjaga pikiran, niat, dan sikap dari segala sesuatu yang bisa mengotori hati. Ini termasuk menjaga pandangan, menjaga ucapan, mengontrol emosi, dan menghindari niat buruk terhadap sesama. Semua ini, jika dijalani dengan konsisten, akan membentuk karakter pribadi yang luhur dan kuat.
Untuk menumbuhkan iffah, dibutuhkan kesadaran diri dan latihan yang terus menerus. Tidak cukup hanya mengandalkan keinginan sesaat. Seperti atlet yang berlatih setiap hari untuk mencapai performa terbaik, menjaga iffah juga perlu komitmen harian: memperbaiki niat, mengevaluasi diri, dan terus belajar dari kesalahan.
Lingkungan juga memegang peran penting. Berada di lingkungan yang positif, bersama orang-orang yang saling mengingatkan dalam kebaikan, akan sangat membantu menjaga iffah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Pada akhirnya, iffah adalah karunia dan perjuangan. Ia adalah anugerah bagi siapa pun yang mau berusaha menjaganya dengan kesungguhan. Orang yang hidup dengan iffah tidak hanya menjaga dirinya dari kehinaan, tetapi juga mempersiapkan dirinya untuk meraih kemuliaan di dunia dan akhirat.
Di tengah dunia yang semakin riuh dan penuh godaan, iffah adalah cahaya yang membimbing kita tetap berada di jalan yang lurus. Ia adalah pilar kekuatan spiritual yang akan membuat kita tetap berdiri tegak, meski badai ujian datang bertubi-tubi.
Dan ingat, menjaga iffah bukan berarti membatasi kebebasan, tapi justru memerdekakan diri dari perbudakan nafsu. Dengan iffah, kita menemukan martabat, menemukan makna hidup, dan menemukan cinta sejati dari Sang Pencipta.