Connect with us

News

Prestasi WorldSkills, Cermin Kemajuan Pendidikan Vokasi Indonesia

Kontingen Indonesia membawa pulang satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medallion for Excellence dari WorldSkills Competition Shanghai 2026.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Prestasi kontingen Indonesia dalam WorldSkills Competition Shanghai 2026 layak dilihat sebagai kabar positif bagi perjalanan pendidikan Indonesia. Satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medallion for Excellence bukan sekadar deretan penghargaan, tetapi juga menunjukkan bahwa talenta muda Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing dengan peserta dari berbagai negara dalam kompetisi keterampilan tingkat dunia.

Yang menarik, prestasi tersebut lahir dari berbagai bidang keahlian yang sangat relevan dengan kebutuhan ekonomi dan industri masa kini. Software Applications Development, IT Network Systems Administration, Web Technologies, Industrial Control, Electronics, Mechatronics, hingga Automobile Technology memperlihatkan bahwa pendidikan vokasi Indonesia mulai semakin dekat dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.

Indonesia mengirimkan 20 kompetitor dalam 17 bidang keahlian, didampingi 17 ekspert dan technical delegate. Jumlah tersebut disebut sebagai delegasi terbesar Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan dalam WorldSkills. Lebih penting lagi, jumlah bidang yang memperoleh prestasi internasional meningkat dari empat menjadi sembilan bidang. Angka ini memberikan sinyal positif bahwa pembinaan talenta vokasi mulai menghasilkan capaian yang semakin luas.

Prestasi Edsel Parama Mustapa yang meraih medali perak pada Software Applications Development menjadi contoh menarik. Selama enam bulan ia menjalani latihan intensif dengan mengerjakan soal-soal baru setiap hari. Pengalamannya menunjukkan bahwa prestasi teknologi tidak lahir secara instan. Ada proses latihan, ketekunan, pemecahan masalah, dan keberanian menghadapi tantangan yang harus dibangun secara konsisten.

Demikian pula dengan Fatima Rani Al Husna Prameswara yang meraih medali perunggu pada Restaurant Service. Ia menempuh perjalanan panjang selama sekitar dua setengah tahun, mulai dari Lomba Kompetensi Siswa, kompetisi tingkat ASEAN, seleksi daerah, seleksi nasional, hingga training center WorldSkills. Pengalaman berlatih langsung di industri juga memperlihatkan betapa pentingnya hubungan antara sekolah vokasi dan dunia kerja.

Kisah Rash Asyari Amyris Thalib yang meraih medali perunggu pada IT Network Systems Administration memberikan pelajaran lain. Ia sempat merasa peluang mendapatkan medali telah tertutup setelah menghadapi beberapa bagian kompetisi yang tidak berjalan sesuai harapan. Namun, hasil akhir justru menempatkannya dalam tiga besar. Ini menunjukkan bahwa kompetisi pendidikan tidak hanya menguji keterampilan teknis, tetapi juga ketahanan mental, kepercayaan diri, dan kemampuan bangkit dari tekanan.

Dari perspektif pendidikan nasional, keberhasilan WorldSkills seharusnya tidak berhenti pada seremoni penyambutan atau perolehan medali. Nilai terbesar justru terletak pada bagaimana pengalaman tersebut ditularkan kepada peserta didik lain. Rencana Kemendikdasmen untuk mendiseminasikan pengalaman WorldSkills melalui penyelarasan Lomba Kompetensi Siswa, penguatan pusat pelatihan mitra, dan penyusunan buku pengalaman Indonesia merupakan langkah yang positif.

Prestasi ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan Indonesia memiliki banyak talenta yang tidak selalu terlihat dalam ukuran akademik konvensional. Keterampilan membuat aplikasi, mengelola jaringan, merancang sistem elektronik, memperbaiki kendaraan, mengoperasikan teknologi industri, hingga memberikan pelayanan profesional merupakan kompetensi nyata yang semakin penting dalam perekonomian modern.

Karena itu, WorldSkills Shanghai 2026 dapat dibaca sebagai salah satu potret optimistis pendidikan Indonesia. Tantangan ke depan bukan sekadar meningkatkan jumlah medali, tetapi memperluas ekosistem pembinaan agar pengalaman para juara dapat menjangkau lebih banyak SMK dan satuan pendidikan vokasi. Jika kompetensi, teknologi, industri, dan karakter dapat terus dipadukan, prestasi beberapa puluh anak muda di panggung dunia dapat berkembang menjadi inspirasi bagi jutaan peserta didik di seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika Merah Putih berkibar di podium. Keberhasilan yang lebih besar terjadi ketika pengalaman para juara mampu mengubah budaya belajar, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat hubungan sekolah dengan industri, dan membuat semakin banyak anak Indonesia percaya bahwa mereka juga mampu bersaing di dunia.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News

Prabowo Tekankan Komunikasi Pemerintah yang Sederhana dan Dialogis

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan dan Wakil Kepala Bakom Fadli Tri Hartono di kediamannya, pada Minggu (04/10/2026) sore. Pertemuan tersebut membahas penguatan peran Bakom dalam membangun komunikasi pemerintah yang semakin dekat dengan masyarakat.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap bagaimana program dan kebijakan pemerintah dikomunikasikan kepada publik. Komunikasi tersebut diharapkan tidak hanya menyampaikan program pemerintah, tetapi juga manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Dalam pertemuan tersebut, Presiden berdiskusi mengenai penguatan peran Badan Komunikasi Pemerintah dalam menyampaikan program, hasil, dan manfaatnya kepada masyarakat, sekaligus membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Seskab, Presiden Prabowo menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang sederhana agar komunikasi pemerintah dapat diterima dan dipahami dengan mudah oleh masyarakat. Informasi yang disampaikan juga tidak cukup hanya menjelaskan apa yang dikerjakan pemerintah, tetapi perlu memberikan pemahaman mengenai arah dari setiap kebijakan.

Selain menyampaikan informasi, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Seskab menyebut bahwa Bakom diharapkan menjadi salah satu jembatan bagi pemerintah untuk mendengar berbagai aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.

“Presiden juga mengingatkan agar Badan Komunikasi Pemerintah tidak hanya menyampaikan informasi kepada masyarakat, tetapi juga mendengarkan masukan, keluhan, dan kritik masyarakat untuk kemudian diteruskan kepada kementerian dan lembaga terkait, termasuk kepada Presiden,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya membangun pola komunikasi pemerintah yang terbuka dan dialogis. Pemerintah tidak hanya hadir sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pihak yang mendengar dan merespons suara masyarakat.

“Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat komunikasi pemerintah yang lebih terbuka, dialogis dan berkesinambungan antara pemerintah, media, dan masyarakat. Dengan demikian, setiap kebijakan dan pemikiran Presiden dapat dipahami secara utuh, sekaligus memastikan suara dan aspirasi masyarakat dapat didengar oleh pemerintah,” tutur Seskab.

Continue Reading

News

Indonesia Tuan Rumah IMSO-23, Diikuti 404 Murid dari 23 Negara

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com –  Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Sekolah Dasar, berkolaborasi dengan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) dan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyelenggarakan International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23. IMSO-23 secara resmi dibuka oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Sabtu (3/10).

Sebanyak 404 murid dari 23 negara mengikuti IMSO-23 yang berlangsung pada 2–7 Oktober 2026. Penyelenggaraan ajang ini menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan talenta matematika dan sains sejak jenjang sekolah dasar sekaligus memberikan pengalaman berkompetisi di tingkat internasional.

Dalam sambutannya, Mendikdasmen menyampaikan ajang IMSO-23 digelar untuk mengasah kemampuan generasi muda di bidang matematika dan sains. Lebih dari sekadar kompetisi, IMSO menjadi wadah berkumpulnya murid-murid terbaik dari 23 negara. 

“Selaras dengan tema “Where Young Minds Meet, Discover, Compete, and Inspire!”, kami berharap IMSO tidak hanya menjadi arena bertanding, tetapi juga sarana membangun rasa kebersamaan, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan antar-generasi muda berprestasi dari berbagai belahan dunia,” ucapnya.

Lebih lanjut, Menteri Mu’ti mengatakan bahwa penyelenggaraan IMSO-23 yang konsisten selama bertahun-tahun dengan partisipasi yang terus meningkat membuktikan bahwa ajang ini kian populer dan menginspirasi. “Pertemuan ini menjadi momentum bagi para peserta untuk saling mengenal dan menimba inspirasi. Saya berharap program ini terus berlanjut di berbagai negara serta berkontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas generasi muda, khususnya di bidang matematika dan sains,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum IMSO, Raden Ridwan Hasan Saputra, mengatakan penyelenggaraan IMSO-23 di Indonesia memiliki makna historis. Indonesia merupakan negara tempat IMSO pertama kali digagas dan diselenggarakan pada 2004.

“Kompetisi tahun ini memiliki makna historis dan emosional yang mendalam seiring dengan kembalinya IMSO pulang ke rumah yaitu Indonesia, negara tempat olimpiade internasional ini pertama kali dicetuskan dan dilahirkan,” ujar Ridwan.

Sejak pertama kali diselenggarakan di Jakarta pada 2004, Indonesia telah beberapa kali menjadi tuan rumah IMSO, antara lain di Mataram, Yogyakarta, Denpasar, dan Tangerang. Indonesia juga menjadi tuan rumah IMSO secara daring pada 2020–2023. Setelah IMSO-22 diselenggarakan di Kedah, Malaysia, pada 2025, IMSO kembali hadir di Indonesia melalui IMSO-23 pada 2026.

Kembalinya IMSO ke Indonesia menjadi momentum untuk melanjutkan semangat awal ajang ini sebagai ruang bagi murid sekolah dasar untuk mengembangkan talenta, kemampuan berpikir, serta minat dan kecintaan terhadap matematika dan sains.

Pada tahun ini, Indonesia menurunkan 63 peserta pada IMSO-23, terdiri atas 32 peserta bidang Matematika dan 31 peserta bidang Sains. Mereka disaring melalui dua jalur utama, yakni peraih medali Olimpiade Sains Nasional (OSN) serta seleksi mandiri yang dilaksanakan KPM dalam tiga tahap.

Proses pembinaan tidak hanya berfokus pada kemampuan logika dan pemecahan masalah di bidang matematika dan sains, tetapi juga memperhatikan aspek karakter dan budi pekerti peserta. Sebagai bagian dari persiapan, peserta Indonesia mengikuti pembekalan dan karantina yang dilaksanakan KPM pada 25–30 September 2026 di PPSDM Kemendikdasmen.

Upacara pembukaan IMSO-23 dihadiri para delegasi, country coordinator, team leader, tutor, observer, accompanying person, Executive Board IMSO, serta panitia penyelenggara. Acara diawali dengan Parade of Nations yang menampilkan perwakilan dari 23 negara peserta, kemudian dilanjutkan dengan pemukulan gong sebagai tanda dimulainya rangkaian IMSO-23.

Kompetisi utama IMSO-23 berlangsung pada 4–5 Oktober 2026 dalam tiga kategori, yaitu Teori I, Teori II, serta Eksplorasi dan Eksperimen. Selain kompetisi akademik, peserta akan mengikuti STEM Presentation dan berbagai kegiatan budaya, seperti permainan tradisional Indonesia, Cultural Night, serta city tour ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Rangkaian IMSO-23 akan ditutup melalui upacara penutupan pada 6 Oktober 2026. Kembalinya IMSO ke Indonesia menjadi bagian penting dari perjalanan ajang yang pertama kali lahir di Indonesia sekaligus momentum untuk memperkuat pengembangan talenta matematika dan sains serta membangun jejaring pendidikan internasional.

Continue Reading

News

Dari AI ke Super Intelligence, Ketika Teknologi Menjadi Bahasa Kekuasaan

Trump mengganti istilah AI menjadi Super Intelligence (SI) dalam pemerintahan AS, sebuah langkah yang lebih menyerupai perubahan nomenklatur politik daripada perubahan teknologi.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Presiden Donald Trump pada 29 September 2026 menandatangani Executive Order 14434 yang menginstruksikan lembaga eksekutif Amerika Serikat menggunakan istilah “Super Intelligence” atau SI menggantikan “Artificial Intelligence” atau AI dalam korespondensi, situs web, laporan, dokumen kebijakan, dan komunikasi resmi. Perubahan tersebut tidak otomatis mengubah regulasi, kontrak, atau dokumen lama.

Secara administratif, langkah tersebut memang nyata. Bahkan pemerintah AS memberikan waktu 60 hari kepada Assistant to the President for Science and Technology untuk mengusulkan definisi federal mengenai “Super Intelligence”. Menariknya, untuk sementara perintah tersebut masih mendefinisikan SI dengan merujuk pada cakupan teknologi yang sebelumnya disebut artificial intelligence dalam hukum federal.

Di sinilah persoalan istilah menjadi menarik. Dalam perkembangan ilmu AI, “superintelligence” telah lama digunakan untuk menggambarkan kecerdasan mesin yang melampaui manusia secara luas, bukan sekadar nama baru untuk teknologi AI yang sudah tersedia. Axios mencatat adanya perbedaan antara penggunaan istilah tersebut dalam literatur teknologi dan penggunaan yang sekarang didorong pemerintahan Trump.

Trump sendiri memberikan alasan yang sangat komunikatif. Menurut pernyataannya, kata “artificial” membuat teknologi tersebut terdengar seperti sesuatu yang palsu, sedangkan “super” dianggap lebih menggambarkan kekuatan dan potensinya. Dalam pidatonya, ia juga menggambarkan SI sebagai teknologi yang dapat memiliki dampak lebih besar daripada revolusi industri dan internet.

Dari perspektif komunikasi politik, perubahan bahasa seperti ini tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun persepsi. Istilah AI selama beberapa tahun terakhir membawa dua wajah sekaligus: peluang ekonomi yang sangat besar dan kekhawatiran mengenai pekerjaan, keamanan, disinformasi, serta keselamatan manusia. Dengan mengganti istilah menjadi SI, pemerintah AS menggeser titik tekan komunikasi dari sesuatu yang “buatan” menuju sesuatu yang “super” dan progresif.

Dimensi geopolitiknya juga kuat. Pemerintahan Trump secara terbuka menempatkan kepemimpinan Amerika dalam teknologi ini sebagai bagian dari persaingan strategis dengan China. Pembentukan Super Intelligence Force yang dipimpin Direktur National Intelligence Jay Clayton menunjukkan bahwa istilah tersebut tidak berhenti sebagai slogan komunikasi, tetapi mulai digunakan untuk membangun struktur kebijakan baru di pemerintahan.

Namun, perubahan nomenklatur tidak membuat kemampuan teknologi berubah secara otomatis. Model bahasa besar, sistem generatif, dan agen AI tetap memiliki keterbatasan, termasuk kesalahan informasi, persoalan keamanan, bias, dan ketergantungan pada data serta infrastruktur komputasi. Nama baru tidak dengan sendirinya menghasilkan lompatan kemampuan baru.

Justru karena itu, perubahan istilah ini menarik untuk dibaca sebagai fenomena hubungan antara teknologi dan kekuasaan. Ketika sebuah negara besar memberikan nama resmi baru terhadap teknologi strategis, bahasa bukan lagi sekadar alat untuk menjelaskan realitas. Bahasa ikut membentuk cara masyarakat, industri, birokrasi, dan negara lain memahami realitas tersebut.

Ada pula persoalan akademis yang tidak sederhana. “Superintelligence” dalam diskursus AI memiliki makna yang jauh lebih spesifik daripada sekadar teknologi AI generasi terbaru. Literatur tentang superintelligence umumnya mengarah pada sistem yang kemampuan intelektualnya melampaui manusia secara sangat luas. Karena itu, penggunaan istilah SI untuk seluruh spektrum AI berpotensi membuat batas antara teknologi yang sudah tersedia, teknologi frontier, AGI, dan superintelligence menjadi semakin kabur.

Pada akhirnya, keputusan Trump lebih tepat dipahami sebagai perubahan bahasa kebijakan dan komunikasi pemerintah daripada deklarasi bahwa mesin telah mencapai kecerdasan super. Bahkan executive order itu sendiri menunjukkan bahwa pemerintah masih perlu menyusun definisi federal baru. Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan apakah AI benar-benar sudah menjadi SI, melainkan siapa yang memiliki kewenangan untuk mendefinisikan teknologi tersebut dan bagaimana definisi itu akan memengaruhi kebijakan publik.

Perubahan dari AI menjadi SI memperlihatkan satu hal penting: dalam era teknologi strategis, pertarungan tidak hanya berlangsung pada chip, pusat data, model, energi, dan talenta. Pertarungan juga berlangsung pada kata-kata. Dan ketika sebuah istilah datang dari Gedung Putih, ia dapat berubah dari sekadar nomenklatur menjadi bagian dari strategi teknologi, ekonomi, dan geopolitik Amerika.

Continue Reading

News

Pusat Data AI Jatiluhur Dihentikan, Investasi dan Kepentingan Air Harus Seimbang

Penghentian sementara proyek pusat data AI Jatiluhur menegaskan pentingnya memastikan perizinan, lingkungan, dan kebutuhan air masyarakat berjalan beriringan dengan investasi teknologi.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dihentikan sementara oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Langkah tersebut, menurut Dedi, dilakukan karena sejumlah persyaratan perizinan belum lengkap sekaligus untuk memastikan kepentingan masyarakat, khususnya akses terhadap air, tetap terlindungi.

Menurut Dedi, ketika melakukan pengecekan ke lokasi, dokumen terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan izin bangunan belum selesai. Karena itu, ia meminta pembangunan tidak dilanjutkan sebelum seluruh persyaratan dipenuhi. Pemerintah daerah, kata dia, perlu memastikan setiap investasi berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Persoalan air menjadi perhatian penting karena pusat data AI membutuhkan air dalam jumlah besar untuk sistem pendinginan. Proyek yang memiliki nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun tersebut dirancang dengan kapasitas awal 120 megawatt dan dapat dikembangkan hingga 640 megawatt. Kebutuhan air pada kapasitas pengembangan disebut dapat mencapai sekitar 384 liter per detik atau sekitar 33 juta liter per hari.

Dedi menjelaskan, pasokan air untuk pusat data tersebut direncanakan melalui PDAM Kabupaten Purwakarta yang memperoleh alokasi air dari sistem Jatiluhur. Ia menyebut PDAM memiliki alokasi 3.000 liter per detik, sementara pemanfaatannya selama ini sekitar 380 liter per detik. Berdasarkan penjelasan tersebut, Dedi menilai masih terdapat ruang pemanfaatan, tetapi penggunaannya tetap harus memperhatikan kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, penghentian sementara proyek ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital berskala besar tidak hanya menyangkut investasi, listrik, lahan, dan teknologi. Data center AI memiliki karakteristik khusus karena membutuhkan infrastruktur komputasi dengan konsumsi energi dan sistem pendinginan yang signifikan. Karena itu, aspek lingkungan dan ketersediaan sumber daya menjadi bagian penting dalam perencanaan.

Dedi juga menegaskan bahwa dirinya tidak menutup peluang pembangunan pusat data tersebut. Ia menyatakan, apabila AMDAL menunjukkan proyek dapat berjalan sesuai ketentuan, tidak ada persoalan untuk melanjutkannya. Sebaliknya, jika kajian lingkungan menyatakan terdapat risiko yang tidak dapat diterima, pemerintah juga memiliki dasar untuk menghentikannya.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa investasi teknologi dan perlindungan sumber daya publik sebenarnya tidak harus ditempatkan sebagai dua kepentingan yang berlawanan. Justru, proyek data center dapat menjadi investasi strategis apabila sejak awal dirancang dengan tata kelola air, energi, lingkungan, dan perizinan yang transparan.

Kasus Jatiluhur juga relevan bagi perkembangan ekosistem AI Indonesia. Ketika kebutuhan komputasi AI terus meningkat, Indonesia membutuhkan lebih banyak infrastruktur pusat data untuk mendukung transformasi digital. Namun, pertumbuhan tersebut perlu disertai standar pembangunan yang memastikan investasi tidak mengurangi akses masyarakat terhadap sumber daya vital.

Pemprov Jawa Barat sebelumnya juga menyatakan akan memperhatikan pusat data lain yang telah beroperasi di Karawang dan Bekasi. Supervisi diarahkan untuk memastikan keberadaan data center tidak mengganggu pelayanan publik, terutama pemenuhan kebutuhan air masyarakat.

Karena itu, penghentian sementara pusat data AI Jatiluhur dapat menjadi momentum untuk membangun standar baru bagi investasi digital di Indonesia. Teknologi AI memang membutuhkan infrastruktur besar, tetapi pembangunan infrastruktur tersebut akan lebih berkelanjutan jika sejak awal memperhitungkan daya dukung lingkungan, kebutuhan masyarakat, kepastian perizinan, serta manfaat ekonomi bagi daerah.

Pada akhirnya, tantangan Indonesia bukan memilih antara AI atau lingkungan, melainkan menemukan model pembangunan yang memungkinkan keduanya tumbuh bersama. Pusat data yang dibangun dengan perencanaan air dan energi yang matang, kajian lingkungan yang transparan, serta kepastian hukum justru dapat menjadi fondasi penting bagi ekonomi digital Indonesia di masa depan.

Continue Reading

News

Brian Yuliarto: Kuasai Sains Fundamental agar Tak Jadi “Budak” Superintelligence

Mendiktisaintek Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi memperkuat penguasaan sains fundamental agar talenta Indonesia mampu menghadapi perkembangan agentic AI, superintelligence, dan komputasi kuantum.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com– Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meminta perguruan tinggi memperkuat penguasaan sains fundamental sebagai fondasi menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang bergerak menuju era superintelligence.

Hal itu disampaikan Brian saat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) XII Tahun 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat. Menurut dia, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, mulai dari agentic AI hingga komputasi kuantum, sehingga Indonesia membutuhkan talenta dengan pemahaman kuat terhadap ilmu pengetahuan dasar.

“Kecuali satu, kita menguasai hard science. Kita menguasai fundamental science. Kalau tidak, kita akan menjadi budak-budak superintelligence baru,” kata Brian.

Menurut Brian, kemampuan menggunakan berbagai produk berbasis AI saja tidak cukup. Talenta Indonesia perlu memahami prinsip dasar sains dan teknologi agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengembangkan, mengevaluasi, dan mengendalikan teknologi yang semakin kompleks.

Ia menilai perkembangan AI kini bergerak menuju agentic AI, yaitu sistem kecerdasan buatan yang dapat menjalankan rangkaian tugas secara lebih mandiri. Perkembangan tersebut, menurut dia, akan semakin signifikan ketika AI bertemu dengan superintelligence dan teknologi komputasi kuantum.

“Agentic AI bertemu dengan super AI (Superintelligence), bertemu dengan quantum computation, ini kita akan semakin keteteran,” ujarnya.

Brian menjelaskan komputasi kuantum memiliki prinsip yang berbeda dengan komputer konvensional yang selama ini menggunakan sistem biner. Karena itu, perubahan teknologi tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami aplikasi teknologi, tetapi juga menguasai matematika, fisika, ilmu komputer, dan disiplin sains fundamental lainnya.

Penguatan hard science, kata Brian, menjadi bagian penting dari strategi pendidikan tinggi untuk menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan teknologi. Ia mengingatkan bahwa kecanggihan perangkat AI tidak boleh membuat kemampuan berpikir dan pemahaman ilmiah manusia justru melemah.

“Pasukan kita, talenta kita, anak-anak muda kita sepintas pintar, sepintas dia pintar, tetapi sebenarnya hanya artificial. Jadi, artificial intelligence ini betul-betul artificial untuk anak-anak muda kita kalau tidak menguasai hard science, kalau tidak menguasai fundamental science,” katanya.

Karena itu, perguruan tinggi dan para pendidik memiliki peran strategis dalam membangun keseimbangan antara penguasaan teknologi dan pemahaman ilmu pengetahuan. Tantangannya bukan sekadar membuat mahasiswa mampu menggunakan AI, tetapi memastikan mereka memiliki fondasi keilmuan yang cukup untuk menjadi pencipta dan pengendali teknologi masa depan.

Continue Reading

News

Batas Penggunaan Gemini Berbasis Komputasi

Sistem baru tersebut menghitung konsumsi kuota berdasarkan tingkat kerumitan perintah, panjang sesi percakapan, serta jenis fitur lanjutan yang digunakan oleh pengguna sebelum batas penggunaan diterapkan secara berkala.

Amalan Saliha

Published

on

Monitorday.com – Google secara resmi memperbarui skema dan batas penggunaan fitur kecerdasan buatan Gemini pada paket langganan AI Plus, AI Pro, dan AI Ultra dalam ajang I/O 2026. Pembaruan ini mengubah mekanisme kuota perintah harian menjadi sistem pembatasan kapasitas yang sepenuhnya berbasis komputasi.

Sistem baru tersebut menghitung konsumsi kuota berdasarkan tingkat kerumitan perintah, panjang sesi percakapan, serta jenis fitur lanjutan yang digunakan oleh pengguna sebelum batas penggunaan diterapkan secara berkala.

Pihak Google menyatakan bahwa aplikasi Gemini kini menerapkan, "batas penggunaan berbasis komputasi yang akan diperbarui setiap 5 jam hingga Anda mencapai batas mingguan."

Perusahaan teknologi tersebut juga menjelaskan bahwa, "model dan fitur premium memerlukan lebih banyak penggunaan dan dapat menyebabkan Anda mencapai batas lebih cepat."

Kebijakan komputasi ini berdampak langsung pada pemanfaatan model Pro, fitur Extended Thinking, Deep Think, Deep Research, serta fitur pembuatan media. Di sisi lain, pengguna versi gratis di Amerika Serikat kini mulai memperoleh akses ke model Pro untuk pemikiran tingkat lanjut serta tata letak generatif, dengan Gemini 3.5 Flash yang menjalankan model otomatis.

Bagi pelanggan berbayar tingkat AI Plus, Google menghadirkan peningkatan fungsionalitas seperti AI Overviews untuk mempercepat pencarian pesan di Gmail secara langsung tanpa harus membuka surat elektronik satu per satu, serta fitur Proofread guna memeriksa tata bahasa, nada, dan gaya penulisan naskah.

Continue Reading

News

Revitalisasi 61 Satuan Pendidikan di Kebumen, Bangun Lingkungan Belajar Berkualitas

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Anak-anak membutuhkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, sehat, dan mendukung tumbuhnya karakter serta kompetensi. Oleh karena itu, Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak berhenti pada pembenahan sarana dan prasarana, tetapi diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang semakin mendukung kualitas pembelajaran.

Komitmen memperkuat lingkungan belajar ini sejalan dengan arahan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq. Saat melakukan kunjungan kerja ke Kebumen, Wamen Fajar mengingatkan bahwa di balik sarana fisik yang terus dibenahi, mental dan daya juang anak-anak juga harus ikut ditempa. 

“Yang dilatih di dunia pendidikan bukan semata-mata kemampuan kognitif, tetapi karakter dan kompetensi. Ketika kecerdasan buatan sekarang sudah melesat jauh, maka yang penting adalah kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan beradaptasi,” ujar Fajar saat menghadiri kegiatan di Universitas Muhammadiyah Gombong (UNIMUGO), Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pada Kamis (1/10).

Di Kabupaten Kebumen, revitalisasi telah dilakukan terhadap 61 satuan pendidikan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, pada 26 Januari 2026 lalu meresmikan hasil revitalisasi 61 satuan pendidikan tersebut. Nilai bantuan revitalisasi mencapai Rp31,85 miliar dan menjangkau berbagai jenjang pendidikan yaitu 33 Sekolah Dasar (SD), 14 SMP, 5 TK/PAUD, 4 SMK, dan 3 SMA. Pendidikan nonformal seperti 1 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan 1 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) pun tak luput dari pembenahan.

Intervensi pemerintah tidak hanya menyasar perbaikan bangunan. Sejumlah satuan pendidikan juga mendapatkan dukungan program prioritas lainnya, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Interactive Flat Panel (IFP)/Papan Interaktif Digital (PID), dan perangkat laptop. Langkah ini menegaskan bahwa pembenahan lingkungan pendidikan berjalan simultan dengan program lainnya guna mendukung proses pembelajaran murid.

Wamen Fajar mengingatkan bahwa pembenahan lingkungan pendidikan perlu diikuti dengan pembentukan budaya belajar yang adaptif. Murid perlu dibiasakan untuk terus belajar, mengembangkan kompetensi, dan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi maupun dunia kerja. “Jadilah pembelajar sepanjang hayat. Dunia kerja akan berubah karena itu karakter dan kompetensi harus menjadi bekal untuk terus beradaptasi,” pesannya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat terhadap peningkatan kualitas pendidikan di daerah. Menurutnya, dengan ruang kelas yang lebih baik, anak-anak di Kebumen, dari pelosok desa hingga kawasan kota, bisa menuntut ilmu dengan lebih aman dan nyaman demi meraih cita-cita mereka. “Ketika pemerintah pusat dan daerah berjalan searah, upaya meningkatkan kualitas pendidikan akan lebih cepat dan jangkauannya semakin luas,” ujar Lilis.

Ia menjelaskan bahwa upaya peningkatan kualitas pendidikan tersebut berjalan di tengah capaian pendidikan Kebumen yang terus berkembang. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Kebumen, Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7–12 tahun mencapai 99,73 persen, sedangkan APS usia 13–15 tahun mencapai 98,56 persen. Pada aspek pembelajaran, nilai literasi SD tercatat 84,28 dan numerasi 73,68, sementara literasi SMP mencapai 87,29. Capaian ini menjadi modal untuk terus meningkatkan mutu pembelajaran sekaligus memperluas kesempatan belajar.

Ke depan, Lilis berharap dukungan revitalisasi dapat terus menjangkau satuan pendidikan yang masih membutuhkan. Pemerintah Kabupaten Kebumen terus berupaya memastikan anak-anak di berbagai wilayah memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang layak dan mendapatkan layanan pendidikan berkualitas.

Continue Reading

News

RUU APBN 2027 Resmi Disahkan, Fokus pada Delapan Klaster Program Kerja Prioritas Nasional

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun Anggaran 2027 resmi disahkan menjadi Undang-Undang dalam Rapat Paripurna DPR RI pada Selasa (29/09/2026) lalu. APBN 2027 difokuskan pada delapan klaster Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Delapan klaster tersebut meliputi kedaulatan pangan; kemandirian energi dan air; pendidikan; kesehatan; hilirisasi dan industrialisasi; infrastruktur, perumahan, dan ketahanan bencana; ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa; serta penurunan kemiskinan. Selain itu, APBN 2027 juga mendukung program pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, digitalisasi, serta diplomasi ekonomi.

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menyampaikan bahwa APBN 2027 dirancang tetap ekspansif, kolaboratif, terarah, dan terukur untuk mendukung pelaksanaan prioritas nasional, dengan tetap menjaga kredibilitas dan keberlanjutan fiskal.

“Fiskal harus hadir untuk menjaga momentum pertumbuhan, melindungi masyarakat dengan tetap menjaga kredibilitasnya. Kebijakan fiskal 2027 dirancang tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur, dengan defisit sebesar 2,4 persen terhadap PDB,” ungkap Menkeu, seperti dikutip dari laman Kementerian Keuangan, Kamis (01/10/2026).

Untuk mendukung berbagai prioritas tersebut, pendapatan negara dalam APBN 2027 diperkirakan mencapai Rp3.435,1 triliun, dengan belanja negara sebesar Rp4.106,3 triliun. Sementara itu, pembiayaan sebesar Rp671,2 triliun akan dilakukan secara inovatif dan terukur.

Alokasi anggaran juga diarahkan untuk memperkuat program yang berdampak langsung bagi masyarakat, antara lain melalui anggaran pendidikan sebesar Rp824 triliun, perlindungan sosial Rp539,7 triliun, serta ketahanan pangan Rp195,3 triliun.

“Angka-angka ini bukan sekadar target fiskal. Di baliknya terdapat tanggung jawab pemerintah untuk menjaga momentum pembangunan, sekaligus memastikan setiap rupiah dikelola secara hati-hati dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Continue Reading

News

Daftar 26 Anggota Wantimpres yang Dilantik Prabowo

Hendi Firdaus

Published

on

Monitorday.com – Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia. Pelantikan tersebut dilaksanakan pada Jumat (02/10/2026) di Istana Negara, Jakarta.

Pengangkatan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia. Adapun para pejabat yang diangkat berdasarkan Keppres tersebut yaitu:

1. Pratikno, sebagai Ketua merangkap anggota;

2. Muhammad Hatta Rajasa, sebagai Wakil Ketua merangkap anggota;

3. Muhammad Qodari, sebagai Sekretaris merangkap anggota;

4. Sinta Nuriyah Wahid, sebagai anggota;

5. Muhammad Quraish Shihab, sebagai anggota;

6. Agum Gumelar, sebagai anggota;

7. Chairul Tanjung, sebagai anggota;

8. Said Aqiel Siradj, sebagai anggota;

9. Anwar Iskandar, sebagai anggota;

10. Yahya Cholil Staquf, sebagai anggota;

11. Jusuf Wanandi, sebagai anggota;

12. Budi Gunawan, sebagai anggota;

13. Bambang Soesatyo, sebagai anggota;

14. Salim Segaf Al-Jufri, sebagai anggota;

15. Soekarwo, sebagai anggota;

16. Dato’ Sri Tahir, sebagai anggota;

17. Rocky Gerung, sebagai anggota;

18. Ida Bagus Purwalaksana, sebagai anggota;

19. Philip Kuncoro Wijaya, sebagai anggota;

20. Budi Santoso Tanuwibowo, sebagai anggota;

21. Anwar Usman, sebagai anggota;

22. Mohamad Hatta, sebagai anggota;

23. Jusuf Hamka, sebagai anggota;

24. Margarito Kamis, sebagai anggota;

25. Jacky Manuputty, sebagai anggota; dan

26. Ignasius Jonan, sebagai anggota

Selanjutnya, Presiden Prabowo mengambil sumpah para pejabat yang dilantik sebagai anggota Wantimpres.

“Bahwa saya akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi darmabakti saya kepada bangsa dan negara. Bahwa saya dalam menjalankan tugas jabatan akan menjunjung tinggi etika jabatan, bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan penuh rasa tanggung jawab,” ucap Presiden mendiktekan sumpah jabatan.

Acara pelantikan tersebut diakhiri dengan pemberian ucapan selamat oleh Presiden Prabowo Subianto untuk kemudian diikuti oleh para tamu undangan.

Turut hadir dalam acara pengangkatan antara lain Wakil Presiden Gibran Rakabuming, para pimpinan lembaga negara, sejumlah menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih, serta tamu undangan lainnya.

Continue Reading

News

‘Fraksi Gabungan’ dan Jebakan Oligarki Baru

Ma'ruf Mutaqin

Published

on

Jakarta, MONITORDAY – Setiap lembar suara rakyat memiliki nilai dan tidak boleh terbuang sia-sia akibat aturan ambang batas parlemen. Semangat inilah yang disodorkan Mahfud MD. Ia menilai, dalam sistem demokrasi konstitusional, kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan di ujung kalkulator pemilu, sehingga formula Fraksi Gabungan hadir sebagai solusi agar belasan juta suara pemilih tetap terwakili di parlemen.

Di atas kertas, Pemilu 2024 meninggalkan jejak angka yang mencengangkan sekaligus getir: 17.304.303 suara sah rakyat menguap begitu saja. Sebanyak 11,3 persen pemilih nasional sudah mendatangi tempat pemungutan suara, namun aspirasi mereka berakhir menjadi angka mati yang dibuang ke tempat sampah sejarah karena sepuluh partai politik gagal melompati pagar ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4 persen.

Angka 17 juta bukanlah statistik kosong. Jumlah itu setara dengan mengosongkan hak suara seluruh penduduk di sebuah negara kecil. Sebanyak sepuluh partai politik—mulai dari PPP yang terganjal tipis di angka 3,87 persen, PSI dengan 2,8 persen, hingga Perindo—dipaksa keluar dari pintu utama Senayan. Di gerbang parlemen, mandat dari jutaan kepala tersebut dinyatakan “hangus” dan tidak bisa dikonversi menjadi kursi legislatif.

Pagar Kaku Regulasi

Jika kita melihat dari kacamata hukum tata negara, aturan yang berlaku saat ini memang sangat kaku. Pasal 414 Ayat (1) UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 dengan tegas mematok angka 4 persen sebagai syarat mutlak partai untuk bisa menempatkan wakilnya di DPR RI. Dampaknya, berapa pun besarnya suara yang dikumpulkan suatu parpol secara nasional, jika persentasenya mandek di angka 3,9 persen, seluruh suara tersebut dianggap tidak bernilai.

Sebenarnya, Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan Putusan Nomor 116/PUU-XXI/2023 yang menyatakan ambang batas 4 persen tersebut inkonstitusional bersyarat untuk Pemilu 2029. MK menilai aturan lama mencederai prinsip kedaulatan rakyat dan keadilan pemilu. Namun, karena MK menyerahkan besaran angka dan formulasinya kepada DPR dan Pemerintah, masa depan belasan juta suara alternatif ini masih menggantung di ketidakpastian legislasi. 

Dalam sistem proporsional yang dianut Indonesia, esensi utama pemilu adalah keterwakilan (representasi). Ketika suara itu dinolkan secara paksa oleh undang-undang, esensi demokrasi kita sedang mengalami defisit moral.

Mekanisme Fraksi Gabungan

Keresahan atas banyaknya mandat rakyat yang disia-siakan inilah yang memicu pakar hukum tata negara, Mahfud MD, untuk meracik sebuah formula baru. Lewat tayangan di kanal YouTube pribadinya, Mahfud melempar sebuah gagasan taktis: mengizinkan adanya Fraksi Gabungan pasca-pemilu sebagai solusi konkret untuk mencegah terbuangnya suara rakyat.

“Bagi partai-partai yang tidak lolos ini, boleh mengadakan perjanjian membentuk fraksi bersama. Dulu sudah pernah ada, dan kalau itu, tidak akan ada suara yang hilang dan sama-sama berhak nanti mengajukan calon presiden,” ujar Mahfud dengan penekanan intonasi yang lambat namun tajam.

Melalui mekanisme stembus accoord atau penggabungan sisa suara ini, Mahfud menawarkan jalan tengah. Ia tetap sepakat bahwa ambang batas parlemen (threshold) itu harus tetap ada demi menjaga stabilitas pemerintahan dan mencegah parlemen terlalu gemuk. 

Namun, alih-alih menghanguskan suara parpol gurem, regulasi baru nantinya mengizinkan partai-partai kecil menggabungkan perolehan suara mereka pasca-pemilu. Jika total akumulasinya melampaui batas minimal, mereka berhak membentuk satu fraksi bersama di DPR. 

Dengan demikian, perolehan kursi yang sempat mereka menangkan di berbagai daerah pemilihan (dapil) tetap sah dikonversi.

Oligarki Baru

Gagasan Mahfud MD sekilas terdengar seperti resep jitu bagi keadilan pemilu. Namun, jika kita membedah isi dapurnya lebih dalam, ada risiko racun tersembunyi yang siap merusak rasa demokrasi. Pertanyaan kritisnya: apakah penggabungan parpol-parpol gurem ini murni demi memperjuangkan nasib pemilih, atau jangan-jangan hanya aliansi taktis demi menyelamatkan jatah kursi elite?

Jika Fraksi Gabungan ini nantinya lahir hanya karena keputusasaan pragmatis demi mendapat fasilitas parlemen, maka seluruh ikhtiar ini akan menjadi sia-sia. Alih-alih menyelamatkan hak rakyat, celah hukum ini justru berisiko tinggi melahirkan kartel atau oligarki baru di tingkat menengah.

Perlu diingat, sepuluh parpol yang tidak lolos ke Senayan pada Pemilu 2024 memiliki ideologi, basis massa, dan platform yang saling bertolak belakang. Menyatukan mereka dalam satu fraksi tanpa kesamaan visi ibarat mencampur minyak dengan air. 

Tanpa adanya perekat ideologis yang kuat, Fraksi Gabungan ini akan sangat rentan berubah menjadi komoditas dagang politik baru di parlemen. Mereka bisa menjelma menjadi fraksi oportunis yang “mudah dibeli” oleh kekuatan modal raksasa atau dikooptasi oleh penguasa demi memuluskan kebijakan elitis. 

Pada titik ini, 17 juta suara rakyat tadi hanya dijadikan tameng legalitas bagi perdagangan pengaruh belaka. Perjuangan menghidupkan suara rakyat pun berakhir percuma.

Komitmen Parlemen

Mengubah gagasan ini menjadi menu regulasi riil tentu akan menghadapi tembok tebal di Senayan. Partai-partai raksasa yang saat ini menguasai parlemen cenderung nyaman dengan status quo. Mereka lebih suka parlemen yang ramping agar “kue kekuasaan” tidak perlu dibagi-bagi ke terlalu banyak meja.

Oleh karena itu, jika formula Fraksi Gabungan ini ingin diadopsi dalam revisi UU Pemilu mendatang, hukum harus menguncinya dengan regulasi yang sangat ketat. Mekanisme internal fraksi harus diatur secara transparan, dan hak parpol yang lebih kecil di dalamnya harus dijamin agar tidak didepak atau didikte begitu saja setelah kursi didapat. 

Harus ada sistem akuntabilitas publik yang memastikan bahwa fraksi ini bekerja berdasarkan manifesto bersama yang berorientasi pada kepentingan konstituen, bukan menjadi arena baru bagi para pemburu rente jabatan.

Pada akhirnya, pemilu adalah kontrak sosial antara negara dan warganya. Semangat yang disodorkan Mahfud MD seolah mengingatkan kita bahwa setiap lembar pilihan rakyat adalah mandat berharga yang harus dirawat dengan penuh kasih. 

Menata demokrasi memang seperti berjalan di atas seutas tali yang tipis. Di satu sisi kita wajib menegakkan keadilan bagi tiap lembar hak pilih rakyat, namun di sisi lain kita harus tetap awas dan curiga agar celah keadilan tersebut tidak ditunggangi oleh para penumpang gelap untuk menancapkan kuku-kuku oligarki baru. 

Jangan sampai, suara yang coba kita hidupkan kembali, justru mati untuk kedua kalinya di dalam pelukan pragmatisme elite.

Continue Reading
LakeyBanget3 menit ago

Singapura Siapkan Polisi Robot Humanoid Berbasis AI

News28 menit ago

Prestasi WorldSkills, Cermin Kemajuan Pendidikan Vokasi Indonesia

News40 menit ago

Prabowo Tekankan Komunikasi Pemerintah yang Sederhana dan Dialogis

LakeyBanget1 jam ago

Scaloni: Laga Perpisahan Messi Bakal Jadi Momen Emosional

LakeyBanget1 jam ago

Bos Ducati Catat 100 Kemenangan Berkat Marquez Juarai MotoGP Jepang

LakeyBanget2 jam ago

Disambut Menpora, Presiden FIFA Dipastikan Saksikan Final FIFA ASEAN CUP 2026

Ruang Sujud4 jam ago

Islam dan Lingkungan Sumut

News12 jam ago

Indonesia Tuan Rumah IMSO-23, Diikuti 404 Murid dari 23 Negara

LakeyBanget13 jam ago

Sold Out! 67 Ribu Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Terjual

LakeyBanget13 jam ago

Asian Games 2026 Ditutup, Atlet Tenis Bawa Bendera Merah Putih Kenakan Prada Bali

LakeyBanget19 jam ago

De la Fuente: Yamal Menuju Legenda

LakeyBanget20 jam ago

Marc Marquez Kuasai Motegi, Persaingan Juara MotoGP 2026 Makin Seru

News22 jam ago

Dari AI ke Super Intelligence, Ketika Teknologi Menjadi Bahasa Kekuasaan

News1 hari ago

Pusat Data AI Jatiluhur Dihentikan, Investasi dan Kepentingan Air Harus Seimbang

News1 hari ago

Brian Yuliarto: Kuasai Sains Fundamental agar Tak Jadi “Budak” Superintelligence

News1 hari ago

Batas Penggunaan Gemini Berbasis Komputasi

LakeyBanget1 hari ago

Trump Bakal Bentuk Lembaga AI, Ini Calon Pemimpinnya

LakeyBanget1 hari ago

Fadona/Fitriani Sabet Perak Padel di Asian Games 2026

Ruang Sujud1 hari ago

Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Masjid di Padang

News1 hari ago

Revitalisasi 61 Satuan Pendidikan di Kebumen, Bangun Lingkungan Belajar Berkualitas