Connect with us

News

Ingin Tarik Wisatawan Muslim, Filipina Kembangkan Wisata Halal

Siti Aisyah

Published

on

Monitorday.com – Menyadari semakin pentingnya pasar wisata halal global, Filipina mengadaptasi infrastruktur pariwisatanya dan memperkenalkan standar baru untuk menerima lebih banyak pengunjung dari negara-negara muslim.

Meskipun sebagian besar warga Filipina beragama Katolik, negara ini juga merupakan rumah bagi minoritas muslim yang cukup besar.

Islam menjadi agama monoteistik tertua di kawasan ini, dengan sejarah lebih dari 600 tahun yang tercermin dalam warisan budaya negara tersebut.

Pemerintah Filipina berupaya menggabungkan sejarah yang kaya ini dengan pantai berpasir putih yang terkenal, tempat menyelam, dan keramahtamahan yang hangat.

Filipina ingin menyasar pengunjung dari Timur Tengah untuk memperluas pasar pariwisatanya.

Wakil Menteri Pariwisata Filipina, Myra Paz Abubakar, menyatakan bahwa inisiatif ramah muslim telah berjalan dengan pesat.

Departemen Transportasi juga memiliki program untuk menarik wisatawan muslim, termasuk dari pasar Timur Tengah.

Abubakar menjelaskan bahwa upaya mereka berfokus pada pengembangan standar yang melindungi kepentingan wisatawan muslim.

Pemerintah Filipina mengenalkan akomodasi ramah muslim yang mendorong hotel dan resor untuk memenuhi standar khusus.

Standar ini mencakup area resepsionis, kamar tamu, dan ketersediaan ruang salat agar pengunjung muslim merasa seperti di rumah sendiri.

Departemen Pariwisata juga memiliki modul pelatihan tentang pemahaman wisatawan muslim dan pariwisata halal.

Tiga belas properti dioperasikan oleh Megaworld Group, jaringan perhotelan terbesar di Filipina.

Tahun lalu, mereka membuka Marhaba Boracay, area teluk yang didedikasikan untuk wisatawan wanita muslim di Boracay.

Filipina juga menjajaki pembuatan paket wisata halal yang disesuaikan untuk wisatawan muslim, termasuk warga Arab Saudi.

Negara ini memiliki sejarah Islam yang kaya dengan sejumlah destinasi dan aktivitas yang sejalan dengan nilai-nilai budaya dan agama pengunjung Arab dan Muslim.

Salah satu situs paling ikonik adalah Masjid Sheikh Karimul Makdum di provinsi Tawi-Tawi, yang merupakan masjid tertua di Filipina.

Masjid ini dibangun pada 1380 oleh pedagang dan misionaris Arab Makhdum Karimul dan dikelilingi oleh perairan pesisir.

Selain masjid, terdapat banyak situs di Tawi-Tawi yang terkait dengan Kesultanan Sulu, yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Filipina Selatan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News

Abuya Muhtadi dan Lebaran Versi Sendiri

Ulama Banten, Abuya Muhtadi, menetapkan Idul Fitri 1446 H jatuh pada 1 April 2025. Keputusannya yang unik memicu reaksi beragam, tetapi tetap dihormati dalam suasana penuh humor dan kebijaksanaan.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Bayangkan sedang duduk santai di serambi pesantren, menikmati kopi pahit dan gorengan hangat, tiba-tiba Abuya Muhtadi berseloroh, “Lebaran versi kita beda dikit, tapi tetap sah.” Begitulah cara sang ulama Banten ini menyampaikan sesuatu yang serius dengan gaya khasnya: ringan, penuh humor, tapi tetap sarat makna.

Siapa yang tak kenal Abuya Muhtadi? Bagi sebagian orang, dialah sosok ulama kharismatik dengan segudang ilmu dan pemikiran yang tajam . Bagi sebagian lainnya, dialah adalah pencerah jiwa dengan selera humor tinggi, kadang lebih segar dari es kelapa di tengah terik Banten.

Kali ini, Abuya kembali bikin heboh dengan penetapan Idul Fitri 1446 H yang jatuh pada 1 April 2025! Apakah ini kebetulan? Atau justru hikmah terselubung yang hanya dia yang tahu?

Ketika pemerintah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 31 Maret 2025, Abuya justru punya hitungan sendiri yang lebih ‘spesial’. “Bukan soal beda, tapi soal metode. Kalau orang lain pakai 3 derajat, kita pakai 9 derajat. Kalau bisa tinggi, kenapa harus pendek?” katanya sambil tertawa. Logika sederhana ini tampaknya sulit dibantah, setidaknya jika kita ikut dalam frekuensi humornya.

Metode penghitungan hilal Abuya mungkin bukan yang paling populer, tapi jelas bukan sekadar hitungan asal-asalan. Dengan kriteria minimal 9 derajat, Abuya memastikan hilal benar-benar terlihat tanpa perlu berdebat panjang. “Kalau kurang dari 9 derajat, itu masih anak-anak. Biar hilal juga tumbuh dewasa dulu baru dianggap,” celetuknya. Gaya khasnya dalam menyampaikan ilmu agama ini membuat suasana menjadi cair dan tidak kaku.

Tak hanya dalam hal penetapan Lebaran, Abuya juga dikenal dengan gaya dakwah yang jenaka tapi penuh makna. Dalam suatu pengajian, ada yang bertanya, “Abuya, kalau kita ragu ikut Lebaran versi siapa, bagaimana?” Dengan santai, beliau menjawab, “Ikut yang bikin kamu bahagia, tapi jangan sampai kebanyakan Lebaran, nanti bajunya nggak cukup.” Candaannya memang sederhana, tapi pesannya mendalam: perbedaan jangan sampai membuat umat tercerai-berai.

Pendekatan toleran yang diusung Abuya juga patut diacungi jempol. ia tidak pernah memaksakan pengikutnya untuk mengikuti hitungannya. “Mau ikut pemerintah? Silakan. Mau ikut saya? Juga boleh. Mau ikut yang lain? Ya terserah, yang penting jangan Lebaran setiap bulan.” Guyonan semacam ini selalu membuat suasana lebih ringan, bahkan ketika membahas hal yang bisa memicu perdebatan panjang.

Tentu saja, tidak semua orang menerima keputusan Abuya dengan tangan terbuka. Ada yang mengkritik, ada yang bingung, ada juga yang diam-diam tertawa karena merasa ini adalah bagian dari kebijaksanaan unik seorang ulama. “Lebaran kok kayak diskon, ada versi beda-beda,” kelakar seorang santri sambil tertawa.

Meski begitu, pengikut setia Abuya tetap teguh dengan keyakinannya. “Kami percaya perhitungan Abuya. Beliau bukan hanya ulama, tapi juga manusia yang penuh hikmah. Kadang, sesuatu yang terdengar lucu justru lebih mudah diterima dan dipahami,” ujar seorang jemaahnya.

Pada akhirnya, perbedaan dalam penentuan 1 Syawal ini bukanlah sesuatu yang harus diributkan. Seperti kata Abuya, “Yang penting puasanya khusyuk, makannya nikmat, dan Lebarannya bahagia. Mau 31 Maret atau 1 April, yang penting jangan 1 Desember.” Satu pesan yang mungkin ingin ia sampaikan: perbedaan itu wajar, tapi menjaga kebersamaan jauh lebih penting.

Continue Reading

News

Muhammadiyah: Raksasa Ekonomi di Dunia Keagamaan

Muhammadiyah menempati posisi keempat dalam daftar organisasi keagamaan terkaya dunia dengan aset Rp454,24 triliun. Keberhasilannya didukung oleh sistem pengelolaan modern dan investasi di berbagai sektor.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Saat membayangkan organisasi keagamaan, kebanyakan orang cenderung fokus pada aspek spiritual dan sosial. Namun, siapa sangka bahwa Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar di Indonesia, kini mencatatkan namanya dalam daftar organisasi keagamaan terkaya di dunia? Berdasarkan data dari Seasia Stats, Muhammadiyah memiliki aset luar biasa, mencapai Rp454,24 triliun. Angka ini menempatkan Muhammadiyah di posisi keempat secara global, membuktikan bahwa organisasi Islam ini tidak hanya berkembang dalam aspek keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi yang luar biasa.

Posisi pertama dalam daftar organisasi keagamaan terkaya masih dipegang oleh The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (LDS Church) yang berbasis di Amerika Serikat dengan total aset mencapai Rp4.305 triliun. Di sisi lain, Vatikan yang menjadi pusat Gereja Katolik tidak memiliki angka kekayaan yang pasti dalam laporan Seasia Stats. Namun, catatan menunjukkan bahwa Gereja Katolik di Jerman memiliki aset antara Rp767 triliun hingga Rp4.315 triliun, sementara di Australia dan Prancis masing-masing mencapai Rp377,72 triliun dan Rp373,66 triliun.

Fenomena ini menggugah banyak pertanyaan: bagaimana Muhammadiyah bisa mencapai pencapaian ini? Rahasianya terletak pada sistem pengelolaan keuangan yang transparan dan modern. Sumber dana utama Muhammadiyah berasal dari wakaf, donasi, serta investasi di sektor pendidikan dan kesehatan. Dengan jaringan universitas, rumah sakit, dan lembaga sosial yang tersebar di seluruh Indonesia, Muhammadiyah telah membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan, Muhammadiyah juga memainkan peran besar dalam perekonomian masyarakat, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan taraf hidup banyak orang.

Capaian ini juga membuktikan bahwa organisasi Islam mampu berdiri secara mandiri dan berkembang dengan sistem yang efisien. Meski masih jauh dari LDS Church atau kekayaan Gereja Katolik di berbagai negara, posisi Muhammadiyah dalam daftar ini menunjukkan bahwa organisasi Islam di Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan dalam skala global. Keberhasilannya juga menjadi bukti bahwa pengelolaan aset berbasis nilai-nilai Islam dapat menjadi model bagi organisasi lain.

Namun, perhitungan kekayaan organisasi keagamaan bukanlah hal yang mudah. Estimasi aset bisa berbeda tergantung pada metode yang digunakan. Beberapa faktor seperti nilai properti, investasi, dan arus kas operasional dapat memengaruhi hasil akhir dari analisis kekayaan. Oleh karena itu, membandingkan Muhammadiyah dengan Vatikan atau organisasi keagamaan lain membutuhkan data yang lebih mendalam.

Terlepas dari itu, masuknya Muhammadiyah dalam daftar ini menegaskan bahwa organisasi keagamaan bukan hanya memiliki peran spiritual, tetapi juga berkontribusi dalam aspek sosial dan ekonomi. Dengan aset yang terus berkembang, Muhammadiyah memiliki potensi besar untuk terus memperluas dampaknya, baik di Indonesia maupun di kancah global. Ke depannya, tantangan terbesar bagi Muhammadiyah adalah bagaimana menjaga keberlanjutan pertumbuhan ini sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Islam dan amanah umat.

Continue Reading

News

Erick Thohir: Sepakbola Memupuk Bhineka Tunggal Ika

Sepakbola menjadi alat pemersatu bagi Indonesia, mencerminkan semangat Bhineka Tunggal Ika. Erick Thohir menargetkan Indonesia masuk 50 besar FIFA 2045 dan berjuang lolos ke Piala Dunia 2026.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com –Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa sepakbola bisa membangun kembali semangat semboyan negara Indonesia, ‘Bhineka Tunggal Ika’. Sepakbola bukan sekadar olahraga, melainkan alat pemersatu yang mampu menyatukan berbagai latar belakang, budaya, dan identitas dalam satu visi: mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia.

Saat ini, Timnas Indonesia dihuni oleh 19 pemain keturunan, sebagian besar berasal dari Belanda. Keberagaman dalam skuad Garuda mencerminkan semangat Bhineka Tunggal Ika yang tersemat dalam lambang Garuda Pancasila. Erick Thohir percaya bahwa kekuatan sepakbola mampu merajut kembali keberagaman menjadi satu kesatuan yang kokoh.

Perjuangan Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 menjadi momentum untuk membuktikan hal tersebut. Para pemain terbaik dikumpulkan demi satu tujuan: membawa Indonesia ke panggung sepakbola tertinggi. Dalam wawancara dengan media Belanda, NOS, Erick mengungkap misi besar PSSI bersama Indonesia.

“Sepakbola bisa membantu membangun kembali motto nasional kami, ‘Bhineka Tunggal Ika’, yang berarti persatuan dalam keberagaman,” kata Erick dalam wawancara dengan Voetbal Primeur.

Ambisi besar juga disampaikan Erick Thohir. Dia ingin Indonesia masuk dalam 50 besar peringkat FIFA pada tahun 2045. Target ini bukan perkara mudah. Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan 280 juta penduduk, Indonesia memiliki tantangan yang kompleks. Namun, hal itu bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Saat ini, Indonesia masih menjaga asa untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Skuad Garuda menempati posisi keempat Klasemen Kualifikasi Piala Dunia 2026 babak ketiga Grup C dengan sembilan poin. Mereka bersaing ketat dengan Australia (13 poin), Arab Saudi (10 poin), Bahrain (6 poin), dan China (6 poin). Jepang sudah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 dengan raihan 20 poin.

Perjalanan panjang Timnas Indonesia di kancah internasional memang penuh tantangan. Namun, dengan semangat persatuan dan dukungan penuh dari masyarakat, sepakbola Indonesia memiliki peluang besar untuk bangkit. Bhineka Tunggal Ika bukan hanya semboyan, melainkan filosofi yang hidup di lapangan hijau. Dengan kerja keras, disiplin, dan strategi yang tepat, mimpi Indonesia berlaga di Piala Dunia bukan lagi sekadar angan-angan.

Continue Reading

News

Atlet Muay Thai Muslim Ini Sumbangkan Bonus Pertandingan Untuk Kaum Dhuafa

Siti Aisyah

Published

on

Monitorday.com – Rodtang Jitmuangnon menyumbangkan sebagian bonus pertandingannya untuk masyarakat Muslim yang kurang mampu dan dhuafa.

Bonus senilai 50.000 dolar AS ia terima setelah berhasil mengalahkan Takeru Segawa dalam waktu 80 detik.

Rodtang, petarung asal Thailand, memenangkan laga utama ONE 172 di Saitama Super Arena, Jepang, pada 23 Maret 2025.

Takeru Segawa dikenal sebagai salah satu kickboxer terbaik, dengan gelar di berbagai kelas dalam ajang K-1.

Rodtang sendiri merupakan juara kelas terbang kickboxing dan dijuluki “The Iron Man” karena ketangguhannya di ring.

Kemenangan cepatnya atas Takeru membuat namanya semakin populer di kalangan pecinta olahraga bela diri.

Rodtang lahir dengan nama Tinnakorn Srisawat di Pattalung, Thailand, pada 23 Juli 1997.

Ia berusia 27 tahun dan saat ini berstatus sebagai atlet Muay Thai dengan kewarganegaraan Thailand.

Rodtang masuk Islam pada Februari 2023 setelah menikah dengan atlet Muay Thai Muslimah, Aida Looksaikongdin.

Sebelumnya, sempat beredar rumor bahwa ia ditahbiskan sebagai biksu Buddha sebelum akhirnya menjadi mualaf.

Rodtang menegaskan bahwa dirinya kini adalah seorang Muslim penuh dan mengikuti agama istrinya.

Keputusan Rodtang untuk berbagi rezeki mendapat apresiasi dari banyak penggemar dan komunitas Muslim.

Ia berharap sumbangannya bisa membantu mereka yang membutuhkan serta memberikan manfaat bagi umat Islam.

Aksi sosial Rodtang menambah daftar panjang atlet Muslim yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan.

Melalui donasi ini, Rodtang menunjukkan bahwa kemenangan di ring juga bisa menjadi berkah bagi sesama.

Rodtang terus menginspirasi dengan prestasi dan kepeduliannya terhadap sesama, baik di dalam maupun di luar arena.

Continue Reading

News

Kelola THR dengan Cerdas untuk Siswa SMP

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Saat amplop berisi Tunjangan Hari Raya (THR) berpindah ke tangan, euforia langsung terasa. Bagi siswa SMP kelas 8, ini adalah momen langka—kesempatan memiliki uang sendiri tanpa harus meminta orang tua.

Namun, bagaimana jika THR ini bukan sekadar untuk jajan atau beli barang yang sedang tren? Bagaimana kalau uang ini bisa dikelola dengan lebih cerdas dan bermanfaat?

Banyak siswa yang langsung tergoda untuk menghabiskan THR dalam hitungan hari, bahkan jam! Makanan lezat, gadget baru, atau mainan impian tiba-tiba masuk dalam daftar belanja. Padahal, dengan sedikit perencanaan, THR bisa dimanfaatkan lebih optimal tanpa menghilangkan kesenangan. Bayangkan jika sebagian dari THR bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna, misalnya menabung untuk membeli barang impian tanpa harus meminta tambahan uang dari orang tua.

Salah satu trik sederhana dalam mengelola THR adalah dengan membaginya ke dalam beberapa kategori: kebutuhan, keinginan, tabungan, dan donasi. Misalnya, 40% untuk ditabung, 30% untuk membeli barang yang diinginkan, 20% untuk keperluan mendadak atau kebutuhan kecil, dan 10% untuk berbagi kepada orang lain. Dengan cara ini, uang THR tidak langsung habis begitu saja, dan ada kepuasan lebih dalam menggunakannya.

Menabung dari THR mungkin terdengar membosankan, tetapi coba pikirkan manfaatnya. Saat teman-teman kehabisan uang dan kembali meminta jajan pada orang tua, kamu justru masih memiliki simpanan. Jika dilakukan secara rutin setiap tahun, kebiasaan ini bisa menjadi bekal berharga di masa depan. Bisa jadi, saat naik ke kelas 3 SMP, kamu sudah bisa membeli sesuatu yang lebih besar dengan uang tabungan sendiri, seperti sepeda atau bahkan perangkat komputer untuk belajar.

Selain menabung, investasi kecil juga bisa dilakukan. Misalnya, jika tertarik dengan dunia bisnis, sebagian THR bisa digunakan untuk mencoba usaha kecil-kecilan seperti menjual stiker, aksesoris, atau makanan ringan. Dengan modal dari THR, kamu bisa belajar cara menghasilkan uang sendiri. Ini bukan hanya mengajarkan kemandirian, tetapi juga memberi pengalaman berharga dalam mengelola keuangan.

Menggunakan THR dengan bijak juga bisa melatih pengendalian diri. Kadang, ada dorongan besar untuk langsung membeli sesuatu yang sedang tren, tapi coba tanya pada diri sendiri: apakah ini benar-benar dibutuhkan? Jika bisa menunda keinginan sesaat dan berpikir lebih jauh, kamu akan lebih puas dengan keputusan yang diambil. Latihan sederhana ini bisa membuat kamu lebih bijak dalam mengelola keuangan di masa depan.

Jadi, daripada membiarkan THR langsung lenyap untuk kesenangan sesaat, yuk coba kelola dengan cerdas! Dengan sedikit strategi dan pengendalian diri, uang THR bisa menjadi langkah awal untuk kebiasaan finansial yang lebih sehat dan bermanfaat dalam jangka panjang.

Continue Reading

News

Nastar: Sang Primadona Lebaran yang Tak Tergoyahkan

Survei Populix menobatkan nastar sebagai kue kering Lebaran favorit milenial dan gen Z. Selain lebih menyukai produksi UMKM, mereka juga memperhatikan rasa dan harga dalam membeli kue kering.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Geliat Lebaran tak hanya terasa di jalanan yang mulai dipadati pemudik, tetapi juga di meja-meja ruang tamu yang siap menyambut tamu dengan suguhan terbaik. Di antara beragam kue kering yang menggoda selera, nastar kembali membuktikan dominasinya. Menurut survei terbaru dari Populix, delapan dari sepuluh milenial dan gen Z menyatakan bahwa nastar adalah kue kering wajib di Hari Raya Idulfitri.

Fenomena ini menegaskan bahwa si mungil nan legit dengan isian selai nanas ini tetap menjadi raja di antara para kudapan Lebaran.

Data yang dirilis menunjukkan bahwa 82 persen responden memilih nastar sebagai favorit utama, jauh melampaui putri salju (44 persen), kastengel (35 persen), dan sagu keju (27 persen). Dengan angka yang hampir dua kali lipat dari pesaing terdekatnya, nastar sukses mempertahankan tahtanya. Tak heran jika saat silaturahmi Lebaran nanti, nastar bakal jadi incaran pertama di meja hidangan.

Bukan hanya soal selera, tetapi juga soal tradisi. Nastar bukan sekadar kue, tetapi bagian dari kenangan masa kecil, simbol kebersamaan, dan suguhan yang tak tergantikan saat merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Aroma butter yang berpadu dengan manisnya selai nanas homemade membawa nostalgia bagi banyak orang. Maka, meski tren kue viral kerap muncul tiap tahun, nastar tetap tak tergeser.

Selain favorit dalam hal rasa, survei ini juga mengungkap preferensi masyarakat terhadap asal kue kering yang mereka beli. Sebagian besar responden lebih memilih kue kering buatan rumahan (UMKM) dibandingkan produk pabrikan atau toko kue besar. Faktor kepercayaan terhadap bahan yang digunakan, cita rasa yang lebih otentik, serta dukungan terhadap bisnis kecil menjadi alasan utama di balik tren ini.

Namun, meskipun lebih menyukai produksi UMKM, cara berbelanja para milenial dan gen Z masih didominasi oleh metode konvensional. Mayoritas mereka memilih membeli langsung dari toko atau memesan dari keluarga dan teman. Hanya sedikit yang memanfaatkan platform e-commerce atau media sosial, dan lebih sedikit lagi yang memilih layanan pesan antar online. Ini menjadi sinyal bagi para produsen kue kering untuk tetap menjaga kualitas rasa serta memperluas akses produk mereka di berbagai kanal penjualan.

Ketika berbicara soal harga, mayoritas responden menyebutkan kisaran Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per toples sebagai harga ideal. Meski begitu, cukup banyak yang rela merogoh kocek hingga Rp100 ribu demi mendapatkan kue kering berkualitas. Dengan permintaan yang tinggi, mereka bahkan merencanakan untuk membeli lebih dari tiga hingga lima toples kue kering tahun ini. Bisa dibayangkan betapa semaraknya meja ruang tamu saat Lebaran nanti!

Tren ini menjadi catatan penting bagi pelaku bisnis kuliner, terutama produsen kue kering. Dengan tingginya permintaan nastar dan kecenderungan pembeli yang lebih memperhatikan rasa serta harga, strategi pemasaran dan produksi harus benar-benar diperhitungkan. Tak cukup hanya mengandalkan kemasan menarik atau tren viral semata, tetapi memastikan kualitas rasa yang konsisten agar pelanggan tetap setia.

Lebaran memang selalu membawa cerita, dan nastar adalah bagian dari cerita itu. Tahun demi tahun, kue berbentuk bulat mungil ini selalu hadir dengan kehangatan dan cita rasa yang tak pernah mengecewakan. Jadi, sudah siap menyambut tamu dengan toples nastar penuh di ruang tamu Anda?

Continue Reading

News

Akselerasi Pertanian Modern, Kementan Bentuk Lembaga Baru

Kementerian Pertanian membentuk Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian untuk mempercepat modernisasi pertanian guna mencapai swasembada pangan. Lembaga ini fokus pada inovasi teknologi dan efisiensi produksi.

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Pemerintah terus melaju kencang dalam mengejar target swasembada pangan. Dengan tekad kuat dan strategi matang, transformasi pertanian tradisional ke modern menjadi prioritas utama.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pertanian modern adalah kunci utama untuk menggandakan produktivitas dan menekan biaya produksi.

“Dengan pertanian modern, produktivitas bisa dua kali lipat dan biaya produksi dapat ditekan,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Pertanian resmi membentuk Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian. Lembaga ini dirancang untuk merekayasa, merakit, menguji, menyebarluaskan, serta menerapkan pertanian modern secara lebih luas. Ini adalah jawaban atas kebutuhan mendesak akan teknologi dan inovasi yang dapat mempercepat laju modernisasi di sektor pertanian Indonesia.

Fadjry Djufry, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, menegaskan bahwa lembaga baru ini merupakan transformasi dari Badan Standardisasi Instrumen Pertanian dengan tugas dan fungsi baru. Ini bukan hanya perubahan nama, tetapi juga perubahan paradigma dan strategi dalam mengembangkan teknologi pertanian. “Standar bidang pertanian yang telah dibangun oleh BSIP akan diperkuat dengan adanya perekayasaan dan perakitan teknologi bermutu tinggi untuk disebarluaskan pada pengguna,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Lembaga ini membawa amunisi yang cukup untuk berlari kencang. Modal awal berupa pengalaman panjang dalam riset pertanian, sumber daya manusia unggul, serta laboratorium modern yang telah tersertifikasi menjadi fondasi kuat. Sebelumnya, melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, berbagai inovasi telah lahir, dari varietas unggul hingga alat mesin pertanian. Kini, dengan tambahan fungsi perakitan dan modernisasi, percepatan hilirisasi dan pencapaian swasembada pangan semakin nyata.

Dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 2 Tahun 2025, struktur Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian telah ditetapkan. Lembaga ini terdiri atas Sekretariat Badan, Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan, Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura, Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Perkebunan, serta Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pembagian ini memastikan spesialisasi dan fokus yang lebih tajam dalam setiap sektor.

Dengan percepatan modernisasi ini, Indonesia semakin dekat dengan mimpi swasembada pangan. Setiap inovasi yang dihasilkan akan menjadi bagian dari solusi besar untuk meningkatkan ketahanan pangan dan daya saing global. Petani kini bisa mengakses teknologi yang lebih canggih, dengan proses yang lebih efisien, dan hasil yang lebih optimal.

Tak ada waktu untuk berdiam diri. Laju pertanian modern harus semakin dipercepat, dan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian hadir sebagai motor penggeraknya. Dengan kombinasi riset, teknologi, dan strategi yang tepat, swasembada pangan bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang semakin dekat di depan mata.

Continue Reading

News

LPPOM MUI Ingatkan Pemudik Tak Konsumsi Jamu Non Halal

Siti Aisyah

Published

on

Monitorday.com – Di media sosial sempat viral pembagian jamu gratis bagi pemudik di beberapa titik rute mudik Lebaran.

Jamu tersebut diketahui mengandung alkohol lebih dari 10 persen, yang memicu keprihatinan dari LPPOM MUI.

LPPOM mengimbau masyarakat agar lebih waspada dalam memilih produk konsumsi selama perjalanan mudik.

Fatwa MUI No. 10 Tahun 2018 menyatakan bahwa minuman dengan kadar alkohol minimal 0,5% tergolong khamr dan haram dikonsumsi.

Berdasarkan fatwa tersebut, jamu atau minuman tradisional dengan alkohol di atas 0,5% juga haram untuk dikonsumsi.

Jika jamu dengan kadar alkohol lebih dari 10% dikonsumsi pengemudi, hal ini dapat membahayakan keselamatan di jalan.

LPPOM mengingatkan agar pemudik tidak mudah tergiur produk gratis yang belum memiliki jaminan kehalalan.

Masyarakat diminta lebih teliti dalam membeli makanan dan minuman, terutama yang belum bersertifikat halal dari BPJPH.

Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, menegaskan bahwa kemasan tradisional atau klaim khasiat tidak menjamin kehalalan produk.

LPPOM juga meminta produsen jamu atau minuman tradisional beralkohol tinggi untuk memberikan informasi yang jujur kepada publik.

Pemerintah diminta menegakkan aturan dalam PP Nomor 42 Tahun 2024 Pasal 110a terkait kewajiban pelaku usaha mencantumkan keterangan tidak halal.

Aturan ini bertujuan melindungi konsumen dari produk yang mengandung bahan yang diharamkan dalam Islam.

LPPOM mengajak seluruh pihak untuk menjaga keamanan dan keselamatan selama mudik dengan lebih selektif dalam memilih produk.

Pemudik diimbau untuk hanya mengonsumsi produk yang sudah memiliki sertifikat halal resmi.

Kewaspadaan terhadap produk konsumsi sangat penting untuk menjaga kesehatan dan keselamatan selama perjalanan.

LPPOM berharap masyarakat lebih sadar dan bijak dalam memilih produk agar perjalanan mudik tetap aman dan berkah.

Continue Reading

News

Hanya Mengizinkan Orang Tua, Penjajah Israel Larang Pemuda Masuk Masjidil Aqsha

Siti Aisyah

Published

on

Monitorday.com – Penjajah Israel hanya mengizinkan warga Palestina berusia lanjut masuk ke Masjidil Aqsha dan melarang para pemuda.

Pria di atas 55 tahun, wanita di atas 50 tahun, dan anak-anak di bawah 12 tahun diperbolehkan masuk oleh otoritas Israel.

Namun, di banyak kasus, lansia Palestina tetap dilarang masuk meskipun memiliki surat izin resmi.

Pada Jumat, beberapa warga lansia Palestina mengatakan mereka dilarang melalui pos militer Qalandiya.

Ratusan warga lansia Palestina datang ke pos pemeriksaan Qalandiya pagi itu dengan harapan bisa beribadah di Masjidil Aqsha.

Namun, mereka disambut oleh militer Israel yang memperketat pemeriksaan.

Seorang reporter Anadolu melaporkan bahwa banyak warga Palestina ditolak masuk dengan alasan tidak memiliki izin yang tepat.

Umu Alaa, wanita berusia 71 tahun dari Gaza, mengungkapkan kekecewaannya karena dilarang masuk.

Ia mengatakan bahwa yang ia inginkan hanyalah berdoa di Masjidil Aqsha, tetapi tentara Israel menolaknya.

Fatima Awawda, seorang warga negara Amerika berusia 67 tahun, juga dihentikan di pos pemeriksaan Qalandiya.

Fatima mempertanyakan larangan tersebut karena ia memiliki paspor Amerika dan sudah berusia lanjut.

Ia menegaskan bahwa Masjidil Aqsha memiliki arti yang sangat penting bagi umat Islam.

Sami Qadomi, pria tua dari Tepi Barat, juga mengalami nasib serupa dan dilarang masuk meski berangkat sejak pagi buta.

Pada 6 Maret, Benjamin Netanyahu menyetujui pembatasan ketat bagi jamaah Palestina yang ingin ke Masjidil Aqsha.

Pembatasan ini mewajibkan izin keamanan sebelumnya serta pemeriksaan ketat di pos pemeriksaan yang ditentukan.

Keputusan ini bertepatan dengan meningkatnya penyerbuan pemukim ilegal Israel ke Masjidil Aqsha selama bulan Ramadhan.

Continue Reading

News

Tampar Wajah Trump, Pimpinan Politik Greenland Justru Lebih Pilih China

Ambisi Amerika untuk menguasai Greenland kembali membara, namun China kini menjadi pesaing kuat dalam perebutan pengaruh. Pemerintah Greenland dihadapkan pada pilihan sulit antara ekonomi, geopolitik, dan kedaulatan

Natsir Amir

Published

on

Monitorday.com – Sejarah memiliki cara unik untuk berulang. Bukan dengan cara yang persis sama, tapi dengan motif yang tak berubah: kekuasaan, pengaruh, dan dominasi. Greenland, hamparan es yang selama ini hanya dianggap sebagai wilayah sunyi, kini berada di tengah pusaran geopolitik yang menegangkan. Amerika, dengan segala keperkasaannya, kembali menyalakan api ambisinya untuk menguasai wilayah ini.

Namun, kali ini, lawan yang dihadapi bukan hanya diplomasi Denmark, melainkan pengaruh China yang semakin merasuk ke dalam ekonomi Greenland. Pertanyaannya: Akankah Greenland tetap berdiri di atas kedaulatannya, atau akan jatuh ke dalam pelukan salah satu kekuatan besar dunia?

Tahun 2019, dunia dikejutkan oleh keinginan terang-terangan Donald Trump untuk membeli Greenland. Tawaran itu tak hanya ditolak mentah-mentah oleh Denmark, tapi juga dianggap sebagai penghinaan terhadap rakyat Greenland yang ingin menentukan nasib sendiri. Bagi Amerika, Greenland lebih dari sekadar tanah berselimut es. Wilayah ini memiliki cadangan mineral langka, jalur perdagangan Arktik yang strategis, serta posisi geopolitik yang menguntungkan dalam persaingan global melawan Rusia dan China.

Namun, dunia telah berubah. Jika dulu negara-negara kecil hanya bisa memilih antara tunduk atau dihancurkan, kini mereka memiliki lebih banyak pilihan. Greenland melihat ke Timur. China, dengan kekuatan ekonominya, menawarkan alternatif yang lebih menggiurkan: investasi besar-besaran di sektor perikanan, infrastruktur, dan perdagangan bebas. Para pemimpin Greenland pun mulai mengalihkan pandangan, menyadari bahwa kerja sama dengan China dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi dari Denmark dan kebebasan dari bayang-bayang dominasi Amerika.

Vivian Motzfeldt, calon Menteri Luar Negeri Greenland, dengan lugas menyatakan bahwa hubungan dengan China adalah prioritas utama. Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan sinyal yang mengguncang Washington. Amerika tidak akan tinggal diam melihat China memperluas pengaruhnya di wilayah yang dianggap strategis. Sejarah mencatat, ketika kepentingan nasional Amerika terancam, mereka tidak segan untuk mengambil langkah ekstrem.

Bayangkan skenario ini: hubungan Greenland dan China semakin erat, investasi mengalir deras, jalur ekspor perikanan dan mineral semakin terbuka. Kemudian, satu demi satu tekanan datang dari Amerika. Sanksi ekonomi, intervensi diplomatik, hingga kampanye global untuk mendiskreditkan kerja sama tersebut. Jika semua itu gagal, apakah mungkin Amerika akan mengadopsi strategi yang lebih agresif?

Ada preseden yang tidak bisa diabaikan. Dari Timur Tengah hingga Amerika Latin, ketika sebuah negara dianggap terlalu dekat dengan rival Amerika, konsekuensinya sering kali lebih dari sekadar tekanan diplomatik. Kudeta, sabotase ekonomi, bahkan intervensi militer bukanlah hal yang asing dalam sejarah politik luar negeri Washington. Apakah Greenland akan menjadi babak baru dari skenario serupa?

Greenland pernah menjadi koloni Denmark hingga 1953, sebelum mendapatkan otonomi pada 1979. Tapi apakah mereka benar-benar bebas? Ketergantungan ekonomi pada Denmark masih begitu kuat, dan kini Amerika ingin memanfaatkan celah itu. Dengan dalih perlindungan dan kerja sama strategis, Washington berusaha menancapkan kukunya lebih dalam. Namun, bagaimana jika rakyat Greenland menolak? Apakah mereka akan menghadapi nasib yang sama seperti negara-negara kecil lainnya yang berani menantang status quo global?

Saat ini, semua mata tertuju pada Nuuk, ibu kota Greenland. Pemerintah baru yang terbentuk memiliki kesempatan langka untuk menentukan nasib mereka sendiri. Mereka bisa memilih untuk mempererat hubungan dengan China, tetap berpegang pada Denmark, atau membuka pintu bagi Amerika. Tapi satu hal yang pasti: setiap pilihan memiliki konsekuensi. Amerika tidak akan membiarkan Greenland jatuh ke tangan musuh geopolitiknya tanpa perlawanan.

Pertanyaannya kini, apakah Greenland cukup kuat untuk berdiri sendiri, atau akan menjadi ajang perebutan dua kekuatan raksasa dunia? Jawabannya belum pasti, tapi yang jelas, ini bukan hanya tentang sebuah pulau es di utara. Ini adalah babak baru dari perebutan pengaruh global, di mana nafsu kolonialisme Amerika sekali lagi diuji dalam permainan catur dunia yang semakin panas.

Continue Reading

Monitor Saham BUMN



Migas3 minutes ago

Pertamina Pastikan Operasional 24 Jam Selama Idulfitri

News53 minutes ago

Abuya Muhtadi dan Lebaran Versi Sendiri

Sportechment1 hour ago

Timnas Indonesia Hadapi Tantangan Berat di Piala Asia U-17 2025, Ini Jadwal Pertandingannya

Ruang Sujud2 hours ago

Fathul Makkah: Kemenangan Besar Umat Islam Tanpa Pertumpahan Darah

Sportechment3 hours ago

Alex Pastoor Ucapkan Selamat Lebaran, Suporter Timnas Auto Respons Positif

Review3 hours ago

Israel! The Real Betrayer Till the end of the World

News4 hours ago

Muhammadiyah: Raksasa Ekonomi di Dunia Keagamaan

News4 hours ago

Erick Thohir: Sepakbola Memupuk Bhineka Tunggal Ika

Review4 hours ago

Revolusi Energi! Bioavtur Minyak Jelantah Siap Mengudara

News4 hours ago

Atlet Muay Thai Muslim Ini Sumbangkan Bonus Pertandingan Untuk Kaum Dhuafa

News4 hours ago

Kelola THR dengan Cerdas untuk Siswa SMP

News4 hours ago

Nastar: Sang Primadona Lebaran yang Tak Tergoyahkan

News4 hours ago

Akselerasi Pertanian Modern, Kementan Bentuk Lembaga Baru

Ruang Sujud6 hours ago

Kisah Fathul Makkah: Strategi Rasulullah dalam Menaklukkan Kota Suci

News8 hours ago

LPPOM MUI Ingatkan Pemudik Tak Konsumsi Jamu Non Halal

Ruang Sujud10 hours ago

Fathul Makkah: Dampaknya terhadap Penyebaran Islam di Jazirah Arab

News12 hours ago

Hanya Mengizinkan Orang Tua, Penjajah Israel Larang Pemuda Masuk Masjidil Aqsha

Sportechment15 hours ago

Marc Marquez Kampium Sprint Race MotoGP Amerika 2025

News17 hours ago

Tampar Wajah Trump, Pimpinan Politik Greenland Justru Lebih Pilih China

News17 hours ago

Sambut Kemenangan! Idul Fitri 1446 H Jatuh pada 31 Maret 2025